Yogyakarta (ANTARA) - Tulisan “PRAM” di bagian dada kanan kemeja putih laki-laki berkacamata itu terbaca jelas oleh siapa pun yang berada di dekatnya, sebagai penegas sikap terbukanya di tengah riuhnya stigma yang belum sepenuhnya sirna bagi kelompok minoritas.
Laki-laki usia 45 tahun itu duduk di salah satu kursi yang sengaja ditempatkan sejajar dengan peserta forum untuk memandu acara. Seisi ruangan terhenyak saat sosok bernama lengkap Pramono itu memperkenalkan diri sebagai moderator sekaligus narasumber yang merupakan orang dengan HIV atau ODHIV.
Sejak awal membuka acara, Pram menegaskan identitas dan status kesehatannya terbuka untuk dipublikasikan secara luas sebagai bentuk pernyataan dirinya tidak keberatan memperlihatkan jati diri sebenarnya di hadapan publik.
Ingatannya kembali pada Januari 2014 saat pertama kali mengetahui statusnya setelah mengalami diare berkepanjangan selama tiga bulan hingga berat badannya merosot drastis sekitar separuh dari kondisi sebelumnya menjadi 40 kilogram.
“Melihat kondisi badan saya, saat itu dokter langsung memvonis paling bertahan maksimal enam bulan. Saat itu langit tuh kayak runtuh. Alhamdulillah saya bisa berdiri di sini sampai hari ini,” kata Pram yang kini berat badannya lebih dari 80 kg.
Pram yang telah berkeluarga dengan dua anak (istri dan anaknya negatif HIV, red.) ini mengaku tidak lagi merasakan keluhan kesehatan berarti berkat kedisiplinannya mengonsumsi obat Antiretroviral (ARV) secara rutin dan menjaga pola hidup sehat.
Melawan label dan diskriminasi
Sejumlah label negatif dilewati Pram, termasuk pengalaman pahit berulang kali keluar masuk tempat kerja akibat mendapatkan penolakan secara sepihak terkait status kesehatannya.
Pram mengisahkan, dirinya diberhentikan dari pekerjaan sebanyak empat kali karena statusnya terungkap saat ia harus rutin mengambil obat ARV di rumah sakit yang layanannya hanya tersedia pada jam kerja.
Setiap bulan ia harus izin mengambil obat yang tidak bisa diwakilkan orang lain, sehingga ia terpaksa mengarang alasan mulai dari saudara hingga nenek meninggal dunia meski sudah tidak memilikinya lagi, sampai akhirnya ia kehabisan alasan.
“Akhirnya saya terbuka soal status ke HRD dan yang ada beberapa hari kemudian saya disodori surat mengundurkan diri atau diberhentikan. Saya diminta memilih,” cerita Pram yang kini menjadi manager keuangan Yayasan Kebaya Yogyakarta.
Selain tantangan eksternal, Pram juga sempat bergelut dengan penolakan tubuhnya sendiri terutama karena selalu muntah setiap kali harus mengonsumsi obat.
“Saya mulai rutin minum ARV. Kalau muntah, obatnya saya ambil lagi. Mungkin itu menjijikkan, tapi tekad saya obat harus masuk karena jika ambil baru artinya mengurangi jatah,” katanya.
Kisah resiliensi serupa dialami Ali Dani (37), ODHIV asal Bangka Belitung yang sempat kritis dan bergantung pada selang makanan selama enam bulan sebelum menemukan semangat hidup di Yogyakarta.
"Keluarga saya mendukung tanpa adanya diskriminasi sedikit pun, sehingga dukungan moril itulah yang membuat saya merasa malu jika harus menyerah pada keadaan saat orang-orang terdekat terus memberikan semangat,” kata Ali.
Kiprah sosial transpuan
Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·