ASOSIASI Produsen Serat dan Benang Filament Indonesia (APSyFI) menyarankan pemerintah menerapkan kebijakan devisa ketat untuk menstabilkan nilai tukar rupiah yang melemah. Pasalnya, industri tekstil dan produk tekstil turut tertekan dan berperan besar atas pelemahan tersebut.
Ketua Umum APSyFI Redma Gita Wirawasta mengatakan, industri ini masih tergantung pada bahan baku impor, khususnya bahan baku intermediate juga menjadi pemicu melemahnya rupiah. “Selain keluarnya modal jangka pendek di pasar keuangan dan pembayaran beban bunga utang pemerintah,” katanya dalam keterangan tertulis pada Kamis, 21 Mei 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Dia mendukung kebijakan Bank Indonesia yang membatasi penukaran valuta asing tanpa underlying maksimal hanya US$ 25 ribu. Termasuk juga menjadikan dokumen yang terhubung dengan dokumen pembayaran pajak sebagai underlying untuk membatasi ruang gerak importir ilegal.
Bank Indonesia, kata Redma, juga bisa mendorong substitusi impor lewat kebijakan devisa ketat ini seperti di India dengan membatasi pembelian valuta asing per perusahaan untuk mendorong penggunaan bahan baku dalam negeri. Hal ini perlu dilakukan mulai dengan pendekatan per subsektor.
Dia memperkirakan impor bahan baku intermediate sektor tekstil dan produk tekstil seharusnya bisa dipangkas sekitar US$ 5-6 miliar per ton. “Tinggal dihitung dengan cermat kebutuhan bahan baku per perusahaan, dianalisa rantai nilainya hingga didapatkan berapa kebutuhan riil bahan baku impornya dengan pertimbangan ketersediaan kapasitas di dalam negerinya,” ucapnya.
Direktur Eksekutif Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam Rayon Tekstil Agus Riyanto mengatakan, rendahnya utilisasi industri sektor ini sebagai dampak kebijakan impor yang tidak terkontrol akibat pemain industri pemburu rente dengan aparatur birokrasi. Demi stabilitas nilai tukar, dia menyarankan agar Bank Indonesia bersama Kementerian Keuangan mengintervensi kebijakan industri dan perdagangan seperti penerapan kewajiban Devisa Hasil Ekspor (DHE) sumber daya alam.
Meski demikian, akan ada pertentangan dari pihak-pihak yang paling diuntungkan selama ini. “Bahkan data mereka selalu mengatakan bahwa kita kekurangan bahan baku sebagai pembenaran rekomendasi impor yang mereka terbitkan,” tuturnya.
Saat ini rupiah telah melemah sekitar 5,9-6 persen terhadap dolar Amerika Serikat. Pada awal tahun 2026, rupiah tercatat 16.727 per dolar, sedangkan pada hari ini berkisar di 17.655-17.690 per dolar AS. Bahkan sempat menyentuh di level 17.700 per dolar.
36 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·