Jakarta (ANTARA) - Pada MotoGP 2026, Marc Marquez menghadapi tekanan besar dalam upaya mempertahankan gelar juara dunia setelah kembali gagal finis, seperti yang terjadi pada Grand Prix Spanyol di Jerez.
Hasil seri balapan keempat MotoGP 2026 itu memperlebar jarak Marquez di klasemen sementara dan menempatkannya dalam posisi yang, jika melihat catatan sebelumnya, jarang berujung pada keberhasilan mempertahankan gelar.
Balapan di Jerez, yang merupakan lintasan kandangnya Marquez, semula diharapkan menjadi titik evaluasi yang lebih representatif setelah tiga seri awal berlangsung di sirkuit yang kurang mencerminkan kekuatan sebenarnya. Namun, hasil akhir justru belum memberi gambaran yang jelas terkait peta persaingan.
Aprilia, yang terlihat dominan di tiga balapan awal, tidak menunjukkan performa yang sama di Jerez. Sementara Ducati tampil kuat di balapan utama Jerez melalui Alex Marquez dari Gresini Racing, bukan dari tim pabrikan.
Meski begitu, ada dua hal yang bisa ditarik dari akhir pekan balapan di Spanyol; Aprilia dan Ducati masih menjadi tolok ukur performa motor MotoGP saat ini. Sementara KTM dan Honda mulai tertinggal lebih jauh dibandingkan awal musim. Dalam konteks perebutan gelar, situasi Marc Marquez sebagai juara bertahan menjadi perhatian utama.
Setelah empat seri, Marquez tertinggal 44 poin dari pemuncak klasemen Marco Bezzecchi dari Aprilia. Selisih ini cukup besar untuk ukuran fase awal musim. Sepanjang kariernya, Marquez hanya dua kali mengalami ketertinggalan serupa dalam kondisi fit.
Pada 2015, rangkaian kecelakaan membuat peluang gelarnya hilang. Pada 2024, ia masih dalam proses adaptasi dengan tim barunya, Ducati, dan tidak berada dalam posisi sebagai kandidat kuat juara.
Musim 2026 berbeda karena ia datang sebagai juara bertahan. Namun sejauh ini, performanya belum menunjukkan kestabilan yang cakap untuk bisa keluar mempertahankan gelar juara. Ia belum mencatatkan podium pada balapan utama hingga empat seri pertama, kondisi ini terakhir terjadi pada 2023 saat Marquez absen di sebagian besar awal musim karena cedera.
Jika melihat tahun-tahun di mana ia meraih gelar juara dunia, Marquez selalu tampil kompetitif sejak awal. Pada 2014, ia langsung menyapu empat kemenangan. Di musim lain, ia konsisten berada di podium atau meraih kemenangan. Seperti tahun lalu dengan tiga kemenangan dalam empat balapan pertama, dua menang dengan minimal satu podium seperti tahun 2016, 2018, dan 2019, atau minimal satu kemenangan dan satu podium seperti pada tahun 2017.
Jika melihat di tahun 2026, situasi itu kontras di mana ia baru dua kali finis pada balapan utama, dengan hasil terbaik posisi keempat di Brasil. Tanpa satu podium pun.
Dua faktor utama terlihat memengaruhi performanya, yaitu aspek teknis dan kondisi fisik. Motor GP26 belum sepenuhnya memberi rasa percaya diri bagi Marquez. Ducati memang membawa pembaruan di Jerez untuk meningkatkan performa pengereman, tetapi dampaknya belum terasa signifikan bagi dirinya.
Kecelakaan pada lap kedua di Jerez juga menunjukkan pendekatan yang lebih berhati-hati. Marquez mengakui tidak mencoba menghindari kecelakaan, atau yang biasa disebut dengan istilah save, karena mempertimbangkan risiko cedera. Sepertinya, cedera keras yang melukai bahunya musim lalu setelah ia memastikan gelar juara dunia masih jadi batasan. Apalagi, catatan cedera Marquez tidak pernah terlalu ringan.
Beberapa pembalap lain turut menyoroti hal tersebut. Pedro Acosta menilai situasi yang dialami Marquez tidak biasa jika dibandingkan dengan performanya pada musim-musim sebelumnya.
Baca juga: Marc Marquez dalam kondisi baik setelah terjatuh di Spanyol
Fase penting
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·