PEMBUKAAN hutan yang masif telah melemahkan pengawasan yang memperparah perdagangan satwa ilegal dengan estimasi kerugian negara mencapai Rp 9-12 triliun per tahun. Namun, lebih dari sekadar kerugian material, terputusnya koridor alami akibat fragmentasi habitat oleh deforestasi juga memicu inbreeding depression atau perkawinan sekerabat yang mengancam ketahanan genetik fauna Nusantara jangka panjang.
Dekan Fakultas Biologi UGM, Budi Setiadi Daryono, menggarisbawahi tanggung jawab besar dalam menjaga mega-biodiversitas dari ancaman degradasi lingkungan dan fragmentasi habitat. Apabila tidak diantisipasi maka dapat berujung pada kelangkaan satwa bahkan terjadi perkawinan sekerabat. "Kita sering membanggakan diri sebagai negara megabiodiversitas. Namun pendekatan antroposentrik sangat mengancam keseimbangan alam,” kata Budi melalui keterangan tertulis dikutip pada Senin, 4 Mei 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Budi juga menekankan pentingnya meluruskan stigma hukum rimba yang sering disalahartikan oleh publik. Menurutnya, sebelum adanya campur tangan manusia, hutan rimba sejatinya berjalan di atas hukum alam yang penuh keharmonisan dan keseimbangan. “Justru akibat aktivitas manusia, hutan-hutan kita hilang dan keseimbangan tersebut rusak, yang dampaknya kini mulai kita rasakan sendiri,” kata dia.
Konservator dari Centre for Orangutan Protection (COP), Indira Nurul, menegaskan bahwa upaya membangun konservasi habitat bagi satwa liar dalam koridor fisik tidak bisa dilakukan secara serampangan tanpa dasar saintifik yang kuat. Ia menjelaskan, aspek teritorial dan ruang jelajah satwa harus menjadi acuan utama sebelum infrastruktur tersebut dibangun.
Jika habitatnya terpisah oleh jalan, Indira mencontohkan, canopy bridge memang bisa membantu agar satwa tetap menyeberang dengan aman. "Namun, harus ada kajian ekologi yang mendalam. Kita perlu memastikan titik persis ketika satwa melintas sehingga koridor betul-betul berfungsi,” kata dia.
Selain habitat di hutan, dosen Laboratorium Struktur dan Perkembangan Hewan, Fakultas Biologi UGM, Luthfi Nurhidayat, juga menyoroti penurunan populasi ikan lokal, seperti wader pari. Salah satunya pemicunya adalah pembangunan bendungan yang menghambat migrasi satwa akuatik. Pemisahan populasi di perairan, kata dia, juga memicu risiko malformasi atau kecacatan genetik dan hilangnya ikan lokal.
“Fragmentasi menyebabkan pemisahan populasi sehingga berpotensi mengalami malformasi, misalnya ikan yang tidak memiliki ekor atau kepalanya aneh," katanya. "Tentu ini dapat berpotensi menurunkan populasi. Belum lagi dipengaruhi pencemaran air yang membuat ikan lokal hilang tersisa ikan invasif luar."
Lutfi kemudian memaparkan program konservasi in situ melalui mekanisme restocking ikan wader di Sungai Baros dan Sungai Gandok di Yogyakarta. Berbeda dengan pelepasan ikan pada umumnya program ini disebutnya mengedepankan beberapa tahapan saintifik, mulai dari asesmen habitat, uji mutu genetik, hingga pemantauan populasi secara berkala.
“Kami lakukan restocking untuk menaikkan kemampuan recovery. Kami juga memasukkan genetik baru sehingga individu yang dihasilkan akan lebih bagus ketimbang yang sebelumnya terfragmentasi,” ucap dia.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·