Bagaimana suasana Beijing menjelang pertemuan Xi dan Trump?

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Bila China dan Amerika Serikat sama-sama memperoleh hasil positif dari pertemuan itu, harapannya dampak baiknya juga dapat dirasakan negara-negara lain di dunia.

Beijing (ANTARA) - Udara musim panas di Beijing mulai menyengat. Berjalan di luar ruangan tanpa pelindung kepala terasa memusingkan, terlebih ketika bulu-bulu putih dari pohon kapuk beterbangan di berbagai sudut kota, mengganggu hidung dan mata. Kondisi itu membuat Beijing bukan pilihan favorit bagi sebagian orang.

Namun bagi sebagian lainnya, Beijing tetap menjadi salah satu tujuan utama di China, apa pun musimnya.

Sejak Januari hingga Mei tahun ini, sejumlah pemimpin negara dan pemerintahan datang ke Beijing. Mereka antara lain Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung, Perdana Menteri Kanada Mark Carney, Kanselir Jerman Friedrich Merz, Presiden Uruguay Luis Lacalle Pou, Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez, Presiden Tajikistan Emomali Rahmon, hingga tentu saja sosok yang paling ditunggu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Lantas seperti apa kondisi Beijing menjelang kedatangan Trump? Masih panas dan ketat seperti biasa kah?

Beijing sebagai ibu kota

Sebagai ibu kota negara, Beijing memang memiliki tingkat pengamanan yang lebih ketat dibanding kota-kota lainnya, khususnya di sekitar lapangan Tiananmen, Balai Besar Rakyat maupun gedung-gedung pemerintahan di sekitarnya.

Presiden Xi dan Donald Trump sendiri rencananya akan bertemu di Balai Besar Rakyat (人民大会堂 dibaca Rénmín Dàhuìtáng) yaitu bangunan simbol utama Republik Rakyat China yang terletak di sisi barat Lapangan Tiananmen.

Balai Besar Rakyat didirikan atas usulan pendiri Republik Rakyat China, Mao Zedong, yang menginginkan sebuah aula besar untuk pertemuan rakyat. Bangunan itu kemudian resmi berdiri pada 24 September 1959 sebagai hadiah ulang tahun ke-10 berdirinya Republik Rakyat China.

Sesuai namanya, “Da” atau “Besar”, gedung ini memang berdiri megah di atas lahan seluas 150.000 meter persegi dengan luas bangunan mencapai 171.800 meter persegi. Ciri khas utamanya terletak pada fasad berbentuk menyerupai gunung, dengan bagian tengah lebih tinggi dan sisi kiri-kanan lebih rendah, yang melambangkan kestabilan negara.

Bangunan itu juga dikelilingi 134 pilar bulat, 12 di antaranya adalah pilar marmer setinggi 25 meter di pintu timur (pintu utama) dengan lambang RRC di atasnya.

Meski demikian, para kepala negara umumnya masuk melalui pintu utara yang menghadap ke Jalan Chang’an, salah satu jalan utama di Beijing. Jika cuaca kurang baik atau ada pertimbangan tertentu, aula besar di sisi utara Balai Besar Rakyat dipilih sebagai lokasi upacara penyambutan, meski seremoni biasanya digelar di halaman depan Gerbang Timur.

Pada Selasa (12/5), aula itu tampak lengang. Hamparan karpet merah membentang di bawah cahaya lampu-lampu chandelier, sementara guci-guci raksasa berdiri di sudut-sudut ruangan.

Aula utara di Balai Besar Rakyat di Beijing, Selasa (12/5/2026). (ANTARA/Desca Lidya Natalia)

Hari itu Presiden Xi setidaknya menerima tiga tamu resmi yaitu Putra Mahkota sekaligus Menteri Senior pada Kantor Perdana Menteri Brunei Darussalam Al-Muhtadee Billah, Direktur Jenderal UNESCO Khaled El-Enany dan Presiden Tajikistan Emomali Rahmon secara berturut-turut mulai pukul 16.00 - 18.00.

Rombongan yang ikut dalam tiga pertemuan itu pun tidak terlalu besar, sehingga ruangan yang digunakan pun ruangan-ruangan berukuran kecil dan sedang tentu dengan meja-meja raksasa yang memberikan kesan "dekat tapi jauh" saat pertemuan.

Baca juga: Trump mulai lawatan ke China, isu Iran dan Taiwan jadi sorotan

Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.