Stabilitas nilai tukar rupiah diproyeksikan tetap terjaga dan berpotensi mengalami penguatan di tengah tingginya ketidakpastian pasar global. Langkah optimis tersebut menyusul keputusan Bank Indonesia (BI) yang menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung pada 17 hingga 18 Juni 2026.
Sebagaimana dilansir dari Kompas, kebijakan pengetatan moneter ini diambil sebagai respons proaktif untuk memitigasi dampak tekanan ekonomi dunia serta dinamika konflik geopolitik yang masih berlangsung. Kendati tantangan eksternal belum sepenuhnya mereda, bank sentral menilai fundamental ekonomi domestik yang solid menjadi fondasi kuat bagi pergerakan mata uang garuda ke depan.
Berdasarkan catatan otoritas moneter, performa nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada 17 Juni 2026 bertengger di level Rp17.730 per dolar AS. Angka tersebut menunjukkan apresiasi atau penguatan sebesar 0,76 persen apabila disandingkan dengan posisi pada akhir Mei 2026.
Pihak bank sentral menegaskan bahwa tren positif ini tidak terlepas dari bauran strategi intervensi yang dieksekusi secara intensif di pasar valuta asing. Langkah penguatan rupiah dilakukan baik lewat transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri, maupun transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik.
"Ke depan, Bank Indonesia meyakini nilai tukar Rupiah akan stabil dan cenderung menguat, didukung oleh komitmen Bank Indonesia, imbal hasil yang menarik, serta prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap baik," kata Perry Warjiyo, Gubernur BI.
Guna mendongkrak daya pikat instrumen finansial dalam negeri bagi para pemodal internasional, BI juga mengumumkan kenaikan suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Hingga data per 15 Juni 2026, nilai outstanding instrumen SRBI dilaporkan telah menembus angka Rp1.021,13 triliun, di mana porsi kepemilikan investor nonresiden atau asing tercatat sebesar Rp238,09 triliun atau setara dengan 23,32 persen.
"BI juga memperkuat daya tarik investasi melalui insentif penurunan tingkat hedging swap bagi investor asing sebesar 10 persen," ujar Perry Warjiyo, Gubernur BI.
Di samping instrumen SRBI, Surat Berharga Negara (SBN) turut andil besar dalam memicu kembalinya aliran modal asing ke pasar keuangan tanah air. Selama triwulan II 2026 berjalan hingga pertengahan Juni, arus modal asing yang masuk secara neto tercatat menyentuh angka 3,9 miliar dolar AS, membalikkan keadaan setelah pada triwulan I sempat mengalami arus modal keluar atau net outflow sebesar 0,8 miliar dolar AS.
Walaupun kondisi likuiditas eksternal mulai membaik, BI tetap mengimbau seluruh pihak untuk mengantisipasi potensi risiko yang bersumber dari gejolak global. Ketegangan politik di kawasan Timur Tengah yang dinamis, meski sempat sedikit mereda pasca tercapainya kesepakatan interim antara Amerika Serikat dan Iran pada 14 Juni 2026, masih memerlukan pengawasan yang cermat dan berkelanjutan.
Menyikapi perkembangan tersebut, Bank Indonesia menyatakan komitmen penuh untuk terus mempererat koordinasi dan sinergi bersama pemerintah. Kerja sama lintas otoritas ini difokuskan pada upaya menjaga ketahanan sektor eksternal perekonomian nasional sekaligus memastikan stabilitas nilai tukar rupiah tetap kokoh di tengah volatilitas global.
3 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·