Baru Tahu

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Ahmad Cholis Hamzah

25 April 2026 21.38 WIB • 3 menit

Baru Tahu

images info

Saya menonton tayangan video yang menampilkan dua orang African-American atau orang Amerika berkulit hitam, seorang wanita dan pria, sedang memberikan reaksi atas video lagu kebangsaan Rusia. Kedua orang itu berkali-kali terkejut melongo dan berteriak "wow" ketika melihat latar belakang lagu yang diputar. Terdapat snapshot atau tayangan singkat tentang Rusia yang memperlihatkan gedung-gedung kuno yang megah dan artistik, kondisi stasiun MRT di kota Moskow yang bersih dengan arsitektur bernuansa seni kelas tinggi, hingga paduan suara anak-anak Rusia. Pendek kata, tayangannya memperlihatkan Rusia secara singkat.

Mereka sama-sama berteriak bertanya, "Is that Russia???", itukah Rusia? Pertanyaan mereka itu wajar karena sementara ini media di Amerika Serikat dan negara-negara Barat selalu menampilkan image Rusia yang sepihak dan menakutkan. Misalkan, wajah-wajah orang Rusia yang keras tanpa senyum, kota-kota yang kumuh dan miskin, hingga agen mata-mata KGB yang selalu mengawasi orang di mana-mana. Karena kemajuan teknologi informasi saat ini, maka kedua orang Amerika itu matanya terbuka melihat kondisi Rusia yang berbeda dari apa yang selama ini mereka dengar.

Keheranan kedua orang Amerika di atas juga dialami para vlogger muda dari mancanegara, terutama dari negara-negara Barat dan Amerika Serikat yang sedang melancong ke Indonesia, ke Pulau Bali, Kota Yogyakarta, Jakarta, Bandung, dan sebagainya. Sikap mereka sama, yakni melongo melihat gambaran sebenarnya tentang negeri ini. Para vlogger kaget melihat begitu bersihnya kereta api yang mereka tumpangi dari Jakarta ke Yogyakarta, serta begitu bersihnya stasiun kereta api dan MRT di Ibu Kota.

Mereka syok karena selama ini banyak pemberitaan yang tidak seimbang tentang Indonesia sehingga menimbulkan stereotip yang negatif tentang Indonesia. Mereka juga berteriak "wow" berkali-kali ketika membeli martabak manis (atau terang bulan jika di Surabaya) yang berisi keju dan cokelat dengan harga kurang dari 1 US$ di pinggir jalan di Ibu Kota. Mereka terkejut karena hampir semua orang yang dijumpainya tersenyum.

Mereka kaget karena masih punya mindset bahwa Jakarta itu seperti tahun 1960-an yang masih disebut "the big village"—kampung besar yang penuh dengan gubuk-gubuk reyot. Anak-anak muda dari mancanegara itu hanya melihat pemberitaan yang bad news saja mengenai Indonesia. Misalkan, anak-anak kecil yang bergelantungan di jembatan dari tali atau bambu untuk menyeberangi sungai agar bisa pergi ke sekolah; kumuhnya kondisi kota, sungai-sungai yang kotor, banyak pungli di jalan-jalan, birokrasi yang penuh dengan permintaan uang sogokan, hingga masyarakat Islam yang dianggap tidak pernah tahu apa itu modernitas. Mereka hanya tahu berita-berita buruk tentang Indonesia. Karena itu, mereka terkejut bukan kepalang ketika melihat bersihnya stasiun kereta api dan membandingkannya dengan stasiun kereta api di New York yang penuh tikus, gelandangan, pencopet, pemabuk, hingga toilet yang kotor.

Dulu saya punya teman warga negara Taiwan waktu saya kuliah di Inggris tahun 1980-an. Dengan wajah menunjukkan keseriusan, ia bertanya kepada saya apakah di Indonesia masih ada "head hunter"—suku-suku tertentu yang suka memenggal kepala orang lain dan tengkoraknya dijadikan kalung di lehernya. Dia tidak tahu kalau kondisi kota-kota besar di Indonesia itu sudah maju dan modern.

Ini pentingnya semua elemen bangsa untuk menjadi juru marketing yang andal guna mengenalkan Indonesia saat ini yang sudah maju—terlepas dari berbagai persoalan negara. Kita perlu menyadari bahwa kalau ada berita buruk, maka "we are not the only one" sebab berita buruk itu juga terjadi di negara-negara lain, bahkan di negara maju sekalipun. Good News tentang Indonesia yang penuh dengan kekayaan alam dan budaya yang luhur itu perlu ditunjukkan kepada dunia.

Saya sangat suka melihat laporan dari pendiri Good News From Indonesia (GNFI), Akhyari Hananto, di akun Facebook-nya tentang perjalanan daratnya dari Surabaya ke Yogyakarta lewat jalan tol yang pemandangannya indah dengan latar belakang gunung, perkebunan yang asri, dan sebagainya. Akhyari juga sering mengunggah foto-foto tentang megahnya bandara-bandara di kota-kota Indonesia. Ia juga sering menampilkan pemandangan indah di berbagai pulau di Nusantara ini.

Dalam hati, saya mengusulkan agar tayangan-tayangan indah dari perjalanan dan pengalaman pribadi itu tidak hanya ditayangkan untuk audiens dalam negeri namun harus dibagikan secara lebih luas di level global agar banyak orang di planet ini mengetahui tentang gambaran sebenarnya tentang Indonesia.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini