Beda Budaya, Beda Gaya: Mengintip Keunikan Sarumawashi di Jepang dan Topeng Monyet di Indonesia

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Beda Budaya, Beda Gaya: Mengintip Keunikan Sarumawashi di Jepang dan Topeng Monyet di Indonesia


Kawan GNFI pasti sudah sangat familier dengan topeng monyet, bukan? Kesenian tradisional ini mempertontonkan pawang monyet dengan monyetnya yang memakai atribut lucu selayaknya manusia untuk menghibur penonton.

Dengan rantai yang diikat di leher atau kaki dan alunan melodi yang berasal dari gendang atau gamelan sederhana, monyet akan menari-nari. Penonton yang merasa terhibur pun tak jarang akan menyodorkan uang sebagai “apresiasi” atas pertunjukan yang mereka lihat.

Atraksi monyet semacam ini bukan hanya bisa dijumpai di Indonesia. Beberapa negara juga memiliki tradisi pertunjukan topeng monyet, salah satunya Jepang.

Di Jepang, pertunjukan topeng monyet dikenal dengan nama Sarumawashi. Tradisi ini konon sudah ada sejak abad ke-7.

Apa perbedaan sarumawashi dengan topeng monyet di Indonesia?

Topeng Monyet di Indonesia

Dalam sebuah tulisan milik Anton Lucanus dari The University of Western Australia, atraksi akrobatik monyet di Indonesia diperkirakan menyebar di Pulau Jawa pada awal 1890-an. Tradisi ini banyak berkembang di beberapa daerah, seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jakarta.

Si pawang dan monyet akan berkeliling ke kampung-kampung. Anak-anak hingga dewasa, semua menikmati pertunjukannya.

Namun, di balik tingkah lucu monyet-monyet yang menghibur masyarakat, ada kisah kelam di baliknya. Monyet yang umumnya berasal dari jenis Macaca fascicularis (disebut juga dengan monyet kra) diburu dari hutan.

Bayi-bayi monyet tak berdosa diambil paksa dari induknya. Mereka kemudian dijual di pasar gelap untuk dilatih sebelum dipertontonkan ke khalayak.

Sebelum “tampil”, monyet akan dipaksa berlatih. Ada yang mengatakan bahwa monyet tersebut disiksa, dicekik, hingga dicambuk selama beberapa bulan. Akibatnya, monyet-monyet tersebut mau tidak mau akan menuruti apa kata pawang.

Monyet yang tampil akan meniru kegiatan sehari-hari manusia, seperti bersepeda, jalan-jalan dengan payung, dan lain sebagainya.

Praktik semacam ini menuai perdebatan keras karena dianggap mengeksploitasi hewan. Meskipun sempat mendulang popularitasnya sebagai hiburan rakyat, lama kelamaan tradisi ini mulai dihilangkan.

Tahun 2013 silam, Jakarta resmi melarang adanya permainan topeng monyet di jalanan ibu kota. Pawang yang melanggar akan diancam pidana penjara paling lama sembilan bulan karena penganiayaan hewan.

Praktik ini sudah dianggap ilegal di Indonesia. Pemerintah melalui otoritas terkait juga masih gencar melakukan operasi penyelamatan terhadap monyet-monyet yang dieksploitasi.

Sarumawashi, Topeng Monyet Khas Jepang

Berbeda dengan Indonesia yang umumnya menggunakan monyet jenis Macaca fascicularis atau monyet ekor panjang, sarumawashi menggunakan monyet jenis Macaca fuscata atau monyet salju Jepang.

Disadur dari Jurnal Khasanah Ilmu karya Devita Widyaningtyas, sarumawashi awalnya bukan merupakan pertunjukan hiburan, melainkan ritual untuk menjaga kesehatan kuda. Di masa lalu, orang Jepang percaya jika monyet merupakan kaki tangan dewa yang memiliki kekuatan supranatural untuk menjaga kesehatan kuda.

Konon, kepercayaan ini diyakini berasal dari India, lalu menyebar ke Tiongkok, dan kemudian masuk ke Jepang. Sarumawashi diperkirakan sudah ada sejak kitab Ryojin Hisho dibuat, yakni di abad ke-7. Monyet terus difungsikan sebgai ritual pendoaan bagi kesehatan kuda hingga pertengahan abad ke-18.

Setelah restorasi Meiji di tahun 1868, sarumawashi tidak lagi difungsikan untuk ritual, tapi pertunjukan. Uniknya, seiring berjalannya waktu, pelaku sarumawashi malah dianggap sebagai objek yang rendah dan hina. Walhasil, kesenian tua ini dianggap sebagai kesenian yang terbelakang karena sering dimainkan di daerah-daerah terpencil di Jepang.

Pertunjukan monyet di Jepang sempat hilang sepenuhnya selama belasan tahun. Namun, di tahun 1977, sarumawashi bangkit dan bertahan. Di era modern, kesenian ini bisa dinikmati di teater khusus sarumawashi. Bahkan, tradisi unik ini juga sudah menjadi aset wisata dan ikon khas Jepang.

Melalui National Geographic, disebutkan jika monyet dilatih dengan penguatan positif dan kasih sayang. Namun, ada juga yang didisiplinkan dengan keras. Pelatih dan monyet-monyetnya akan membangun ikatan emosional (kazuna) yang menjadi fondasi utama agar monyet mau bekerja sama.

Monyet-monyet pun tidak dibiarkan bebas begitu saja. Mereka dipakaikan popok agar kotorannya tidak tercecer. Selain itu, makanannya pun disiapkan, seperti jeruk, apel, maupun pisang.

Monyet-monyet ini pun banyak menampilkan aksi akrobatik, seperti handstand, berjalan di atas tali, melompati cincin, dan sebagainya. Sama seperti di Indonesia, monyet di Jepang juga dipakaikan kostum tradisional dan menari serta bersandiwara untuk menghibur penontonnya.

Meskipun tampak terawat dan “sejahtera”, sejatinya Sarumawashi juga tak luput dari kritik karena dianggap melanggar hak hewan. Pemerintah juga membatasi aksi yang dianggap menyiksa hewan.

Pertunjukan ini bisa ditemukan di berbagai tempat wisata di Jepang, seperti Universal Studios Japan dan Ueno Park.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News