Benarkah China Menjebak Negara Berkembang dengan Utang?

Sedang Trending 56 menit yang lalu
Diskusi Belt and Road Initiative dengan para akademisi China di JW Marriot Mega Kuninga Jaksel, Senin (24/6). Foto: Agaton/kumparan

Dalam beberapa tahun terakhir ini, Belt and Road Initiative kerap menjadi sorotan global. Inisiatif besar yang digagas oleh China ini tidak hanya dipandang sebagai proyek pembangunan infrastruktur lintas batas negara, tetapi juga sebagai alat geopolitik yang diisi dengan kepentingan. Salah satu kritik paling sering muncul adalah tuduhan bahwa Belt and Road Initiative merupakan bentuk “debt trap diplomacy” atau jebakan utang bagi negara berkembang.

Apakah Semua Proyek Belt and Road Initiative Bermasalah?

Tuduhan ini terdengar kuat, terutama ketika dikaitkan dengan sejumlah kasus krisis utang. Banyak pihak beranggapan bahwa China dengan sengaja memberikan pinjaman uang dalam jumlah besar kepada negara-negara dengan kapasitas fiskal yang terbatas, sehingga pada akhirnya negara tersebut terjebak dalam ketergantungan. Namun, jika ditelaah lebih dalam, pandangan ini cenderung menyederhanakan realitas yang jauh lebih kompleks.

Pertama, penting untuk memahami bahwa negara penerima proyek tersebut bukanlah aktor pasif. Banyak dari mereka secara aktif mencari investasi asing untuk mempercepat pembangunan infrastruktur. Kebutuhan akan jalan, pelabuhan, rel kereta, hingga pembangkit listrik menjadi sangat mendesak, terutama bagi negara berkembang yang ingin meningkatkan daya saing ekonominya. Dalam kondisi seperti ini, opsi pembiayaan dari lembaga Barat sering kali dianggap lambat dan penuh persyaratan. Dan di sinilah Belt and Road Initiative hadir sebagai alternatif yang lebih cepat dan fleksibel.

Kedua, tidak semua proyek dalam kerangka Belt and Road Initiative berakhir dengan kegagalan. Sejumlah proyek justru berhasil meningkatkan konektivitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. Infrastruktur yang dibangun melalui kerja sama ini dapat membuka akses perdagangan, meningkatkan mobilitas, dan menciptakan peluang ekonomi baru. Dengan demikian, generalisasi bahwa seluruh proyek Belt and Road Initiative bermasalah jelas tidak sepenuhnya tepat.

Namun demikian, bukan berarti kritik terhadap Belt and Road Initiative tidak berdasar. Beberapa proyek memang menghadapi kendala serius, mulai dari pembengkakan biaya hingga rendahnya tingkat pengembalian investasi. Dalam banyak kasus, masalah tersebut tidak hanya berasal dari pihak China, tetapi juga dari faktor domestik negara penerima, seperti perencanaan yang kurang matang, korupsi, atau kebijakan ekonomi yang tidak berkelanjutan.

Anggota militer Sri Lanka berdiri disamping bendera nasional Sri Lanka dalam perayaan Hari Kemerdekaan ke-71 Sri Lanka di Kolombo, Sri Lanka. Foto: REUTERS / Dinuka Liyanawatte

Kasus pelabuhan Hambantota di Sri Lanka sering dijadikan contoh utama dalam narasi tuduhan jebakan utang. Ketika Sri Lanka tidak mampu membayar utangnya, pelabuhan tersebut disewakan kepada perusahaan China dalam jangka panjang. Sekilas, hal ini tampak seperti bukti bahwa China menggunakan utang sebagai alat untuk menguasai aset strategis. Namun, berbagai studi menunjukkan bahwa krisis utang Sri Lanka tidak semata-mata disebabkan oleh pinjaman dari China. Sebagian besar utang negara tersebut justru berasal dari obligasi internasional, ditambah dengan kebijakan fiskal yang kurang hati-hati.

Di sisi lain, tidak dapat dipungkiri bahwa Belt and Road Initiative juga merupakan bagian dari strategi geopolitik China. Melalui pembangunan infrastruktur dan peningkatan konektivitas, China dapat memperluas pengaruhnya di berbagai kawasan, mulai dari Asia hingga Afrika dan Eropa. Infrastruktur bukan hanya soal ekonomi, melainkan juga tentang akses, pengaruh, dan posisi strategis dalam sistem internasional.

Bagi negara berkembang, termasuk Indonesia, Belt and Road Initiative menghadirkan peluang sekaligus risiko. Di satu sisi, proyek ini dapat membantu menutup kesenjangan infrastruktur yang selama ini menjadi hambatan pembangunan. Di sisi lain, ketergantungan terhadap pembiayaan eksternal tetap perlu diwaspadai, terutama jika tidak diimbangi dengan perencanaan yang matang dan transparansi yang baik.

Oleh karena itu, penting untuk melihat Belt and Road Initiative secara lebih seimbang. Alih-alih terjebak dalam narasi hitam-putih antara “peluang” dan “ancaman”, negara penerima perlu memperkuat kapasitas negosiasi mereka. Dengan strategi yang tepat, kerja sama ini dapat dimanfaatkan untuk mendorong pembangunan tanpa harus terjebak dalam risiko utang yang berlebihan.

Pada akhirnya, menyebut Belt and Road Initiative sebagai sekadar “jebakan utang” adalah penyederhanaan yang tidak sepenuhnya akurat. Belt and Road Initiative adalah kombinasi kompleks antara kebutuhan pembangunan, kepentingan ekonomi, dan strategi geopolitik. Memahami kompleksitas ini menjadi kunci agar negara berkembang dapat mengambil keputusan yang lebih rasional dan strategis.