Beras Aruk, Sumber Pangan Alternatif dari Bangka Belitung yang Tercipta saat Masa Pendudukan Jepang

Sedang Trending 2 jam yang lalu

14 Mei 2026 13.00 WIB • 3 menit

Beras Aruk, Sumber Pangan Alternatif dari Bangka Belitung yang Tercipta saat Masa Pendudukan Jepang

images info

Beras Aruk, Sumber Pangan Alternatif dari Bangka Belitung yang Tercipta saat Masa Pendudukan Jepang


Nasi atau beras menjadi salah satu sumber karbohidrat utama yang dikonsumsi sebagian besar masyarakat Indonesia. Namun tahukah Kawan, ternyata ada banyak sumber pangan alternatif lain dari berbagai daerah Indonesia yang bisa menjadi asupan karbohidrat oleh setiap masyarakat.

Salah satu sumber pangan alternatif yang ada di Indonesia, khususnya Bangka Belitung adalah beras aruk. Meskipun bernama "Beras," sumber pangan yang satu ini tidak berasal dari padi selayaknya beras pada umumnya.

Beras aruk justru berasal dari bahan dasar ubi kayu. Uniknya lagi, sumber pangan alternatif ini tercipta dari kondisi yang dialami oleh masyarakat yang ada di sana pada Masa Pendudukan Jepang di Indonesia dulunya.

Bagaimana kisah di balik beras aruk yang bisa menjadi sumber pangan alternatif bagi masyarakat tersebut? Simak ulasan lengkapnya dalam artikel berikut ini.

Mengenal Beras Aruk

Beras aruk merupakan salah satu sumber pangan alternatif yang berasal dari daerah Kepulauan Bangka Belitung. Pulau Nangka yang ada di daerah tersebut menjadi daerah penghasil utama sumber karbohidrat ini.

Seperti yang sudah dijelaskan pada bagian sebelumnya, beras aruk tidak berasal dari padi seperti layaknya beras pada umumnya. Sumber pangan yang satu ini menggunakan ubi kayu sebagai bahan dasar utamanya.

Dikutip dari laman Badan Besar Perakitan dan Modernisasi Pascapanen Pertanian, beras aruk dibuat dari tepung ubi kayu yang sudah mengalami proses pregelatinisasi atau pemasakan awal. Proses pemasakan ini mengubah bentuk fisik dan kimia dari tepung ubi kayu tersebut.

Secara tekstur, tepung ubi kayu yang sudah melewati proses ini akan memiliki tekstur seperti beras. Oleh sebab itu, olahan pangan yang satu ini kemudian dikenal dengan nama beras aruk.

Tercipta pada saat Masa Pendudukan Jepang

Sebenarnya beras aruk bukanlah sumber pangan utama yang dikonsumsi oleh masyarakat Bangka Belitung. Beras aruk justru tercipta dari suatu keadaan yang terjadi di tengah masyarakat dulunya.

Dinukil dari laman Mongabay, beras aruk diketahui ditemukan pada Masa Pendudukan Jepang dulunya. Pada waktu itu, terjadi krisis pangan yang melanda masyarakat yang ada di Bangka Belitung.

Situasi ini membuat masyarakat mencoba menjadi sumber pangan alternatif lain untuk dikonsumsi. Ubi kayu menjadi salah satu pilihan pangan yang dikonsumsi oleh masyarakat.

Untuk mengamankan bahan pangan, masyarakat menghanyutkan ubi kayu ini di sungai pada waktu itu. Beberapa hari kemudian, barulah masyarakat memeriksa kembali ubi kayu yang sudah mereka simpan dan rendam.

Namun kondisi ini membuat ubi kayu yang mereka simpan menjadi busuk. Alhasil masyarakat kemudian menghancurkan ubi kayu tersebut menjadi bubur.

Masyarakat kemudian mengolah ubi kayu ini seperti pengolahan sagu. Mereka memasukkan ubi yang sudah dihancurkan ke dalam karung dan dijemur.

Saat dijemur ini, masyarakat kemudian mengaruk ubi yang sudah ditumbuk agar cepat kering. Ternyata arukan ubi ini justru membentuk butiran kecil seperti beras.

Masyarakat kemudian memasak butiran tersebut dan mendapatkan hasil seperti nasi. Sejak saat itu, masyarakat kemudian mengenal sumber pangan ini dengan nama beras aruk.

Nama ini sendiri merujuk pada proses mengaruk yang dilakukan masyarakat saat menjemur tumbukan ubi padi tersebut. Akhirnya beras aruk menjadi salah satu sumber pangan alternatif yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat Bangka Belitung pada waktu itu.

Mulai Jarang Dijumpai

Seiring berjalannya waktu, keberadaan beras aruk mulai jarang dijumpai di tengah masyarakat. Kondisi yang jauh berbeda dari Masa Pendudukan Jepang dulunya menjadi salah satu faktor mengapa hal ini bisa terjadi.

Pada waktu itu, terjadi kelangkaan pangan yang terjadi di tengah masyarakat. Tidak heran beras aruk menjadi salah satu pilihan pangan utama yang dikonsumsi masyarakat Bangka Belitung pada waktu itu.

Kondisi berbeda bisa kawan jumpai pada saat sekarang. Saat ini masyarakat bisa mendapatkan beras dengan mudah, tidak seperti dulunya.

Alhasil konsumsi beras aruk sudah tidak semasif dulunya lagi. Meskipun demikian, keberadaan beras aruk masih tetap dijaga dan didorong menjadi salah satu diversifikasi pangan lokal yang berasal dari daerah Bangka Belitung.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Irfan Jumadil Aslam lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Irfan Jumadil Aslam.

Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini