BI Catat Transaksi LCT Melonjak Jadi USD 22,61 M per April 2026

Sedang Trending 10 jam yang lalu
Ilustrasi Bank Indonesia. Foto: Shutterstock

Bank Indonesia (BI) menilai penguatan transaksi menggunakan mata uang lokal atau Local Currency Transaction (LCT) semakin penting di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global.

Skema tersebut dinilai dapat mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat (AS), sekaligus membuat transaksi perdagangan antarnegara menjadi lebih efisien.

Direktur Departemen Pendalaman Pasar Keuangan BI, Ruth A. Cussoy Intama, mengatakan dinamika global saat ini mendorong banyak negara memperkuat kerja sama bilateral melalui penggunaan mata uang masing-masing dalam transaksi perdagangan maupun investasi.

“Local Currency Transaction ini menurut kami merupakan salah satu inisiatif yang perlu terus dikembangkan, apalagi sejak Presiden AS menerapkan Liberation Day. Jadi sudah saatnya kita memperkuat kerja sama bilateral melalui skema LCT,” kata Ruth di Makassar, Jumat (21/5).

Menurut BI, penggunaan mata uang lokal dalam transaksi lintas negara dinilai dapat mengurangi kebutuhan penggunaan dolar AS sebagai mata uang perantara.

Langkah tersebut juga dipandang mampu meredam dampak gejolak global terhadap aktivitas perdagangan dan transaksi keuangan internasional.

Petugas menyusun yang dolar AS dan rupiah di Bank Syariah Indonesia (BSI), Bekasi, Jawa Barat, Jumat (21/2/2025). Nilai tukar rupiah (kurs) pada pembukaan perdagangan hari Jumat (21/2). Foto: ANTARA FOTO/ Fakhri Hermansyah

Data BI menunjukkan jumlah pelaku LCT terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Hingga April 2026, rata-rata pelaku LCT tercatat mencapai 5.265 pelaku per bulan.

Angka itu meningkat tajam dibandingkan 497 pelaku pada 2021 dan 1.741 pelaku pada 2022.

Pertumbuhan tersebut berlanjut pada 2023 menjadi 2.602 pelaku dan naik lagi menjadi 5.020 pelaku pada 2024. Bahkan sepanjang 2025, rata-rata pelaku LCT sempat menyentuh 9.720 pelaku per bulan.

Tidak hanya dari sisi jumlah pengguna, nilai transaksi LCT juga menunjukkan pertumbuhan signifikan.

Hingga April 2026, total transaksi LCT mencapai USD 22,61 miliar atau melonjak 309 persen secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar USD 7,33 miliar.

Ruth menilai lonjakan tersebut mencerminkan semakin luasnya diversifikasi penggunaan mata uang dalam aktivitas ekonomi dan keuangan internasional.

“Bukan berarti kita menghindari dolar AS, karena kita tahu transaksi global masih dominan menggunakan dolar AS. Tetapi untuk negara-negara yang memang memiliki volume transaksi besar dan bisa langsung menggunakan mata uang domestik, kenapa harus lewat dolar dulu?” ungkapnya.

Terbesar dari China

BI mencatat mitra utama Indonesia dalam implementasi LCT saat ini berasal dari China, Jepang, dan Malaysia. Porsi transaksi terbesar berasal dari China sebesar 89 persen, kemudian Jepang 6 persen, serta Malaysia 3 persen.

Bank sentral menilai skema LCT juga memberikan manfaat dari sisi efisiensi biaya transaksi karena pelaku usaha tidak perlu lagi melakukan konversi melalui dolar AS. Selain itu, penggunaan mata uang lokal juga dinilai dapat memperluas diversifikasi eksposur mata uang dan memperdalam pasar keuangan kawasan.

Ruth menjelaskan implementasi LCT Indonesia dimulai pada 2018 melalui kerja sama dengan Malaysia dan Thailand, sebelum diperluas ke Jepang, China, dan Korea Selatan. Ke depan, kerja sama serupa juga akan diperluas ke negara lain setelah tahapan teknis dan pedoman operasional selesai disusun.

“Perkembangan LCT yang dilakukan Bank Indonesia diawali dengan Malaysia dan Thailand, kemudian berkembang ke Jepang, China, Korea, Singapura, dan India. Dalam waktu dekat yang akan segera diimplementasikan adalah Singapura, India, dan Saudi Arabia,” kata Ruth.

instagram embed