Biaya Ballroom Gedung Putih Era Trump Membengkak Jadi Sepuluh Triliun

Sedang Trending 13 jam yang lalu

Dana publik Amerika Serikat dilaporkan mendanai lebih dari separuh proyek pembangunan ruang dansa baru di Gedung Putih yang digagas oleh Presiden Donald Trump. Biaya proyek yang menuai banyak kecaman tersebut kini membengkak hingga mencapai US$ 600 juta atau sekitar Rp 10,6 triliun, berdasarkan laporan media The Washington Post pada Selasa (16/6) waktu setempat seperti dilansir dari Detikcom. Angka mutakhir ini memicu kontroversi karena bertolak belakang dengan pernyataan-pernyataan Trump sebelumnya terkait anggaran proyek.

Sang presiden awalnya memprediksi pengeluaran hanya berkisar US$ 400 juta atau setara Rp 7 triliun, bahkan sempat menyebut angka awal sebesar US$ 200 juta atau Rp 3,5 triliun saat pertama kali mengusulkan ide tersebut. Trump juga berulang kali meyakinkan publik bahwa pendanaan akan ditanggung sepenuhnya oleh pihak swasta termasuk dirinya sendiri tanpa membebani masyarakat. Konstruksi ruang pertemuan besar ini menjadi bagian dari strategi Trump dalam memperkuat pengaruh politiknya di ibu kota negara.

Dokumen rincian biaya yang disusun oleh kontraktor pelaksana, Clark Construction, memperlihatkan ringkasan anggaran awal Maret yang mencantumkan total biaya US$ 600 juta. Dari jumlah tersebut, kontribusi dana swasta tercatat hanya sebesar US$ 293 juta, sementara sisanya ditutup oleh kas negara.

Catatan faktur dari pihak kontraktor membuktikan bahwa pemerintah telah menyetujui belasan kali pembayaran menggunakan dana publik bernilai puluhan juta dolar. Pembayaran tersebut tetap berjalan ketika Trump mengklaim kepada media di akhir Maret bahwa proyek ini bebas dari uang wajib pajak. Pihak Gedung Putih segera memberikan tanggapan resmi mengenai keabsahan sumber dana pembangunan fasilitas baru tersebut untuk meredam kritik publik. Mereka tetap bersikeras bahwa porsi terbesar pembiayaan berasal dari kantong pribadi presiden serta sumbangan para donatur.

"Presiden Trump dan para patriot Amerika yang dermawan mendanai ballroom tersebut sekitar US$ 400 juta, yang akan menjadi tempat yang aman dan layak bagi para Presiden untuk generasi-generasi mendatang," kata juru bicara Gedung Putih, Davis Ingle. Fasilitas ini diklaim memiliki urgensi tinggi yang berkaitan langsung dengan sistem proteksi pertahanan bagi pemimpin tertinggi negara. Proyek prestisius ini sendiri sudah berjalan sejak tahun lalu setelah pembongkaran seluruh bangunan bersejarah Sayap Timur dilakukan tanpa konsultasi maupun persetujuan dari Kongres Amerika Serikat.

Ingle menambahkan bahwa kompleks bangunan baru tersebut nantinya akan terintegrasi dengan sejumlah fasilitas penunjang medis dan operasional keamanan taktis. Infrastruktur tambahan yang direncanakan di area tersebut mencakup instalasi rumah sakit darurat di bagian bawah tanah serta empat landasan khusus untuk pesawat tanpa awak di bagian atap gedung.