Sebanyak 7 persen wilayah Indonesia, atau setara dengan 49 Zona Musim (ZOM), dilaporkan telah memasuki musim kemarau. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan kondisi ini terjadi secara bertahap sejak April 2026 dan diperkirakan akan meluas hingga Juni 2026, seperti dilansir dari Detikcom.
Perubahan musim ini menuntut kewaspadaan masyarakat, terutama terkait ketersediaan air dan aktivitas sehari-hari. Oleh karena itu, memahami karakteristik serta prediksi musim kemarau menjadi langkah penting untuk mengantisipasi dampak yang mungkin timbul.
Musim kemarau secara umum ditandai dengan penurunan signifikan curah hujan dalam periode tertentu. Fenomena ini disebabkan dominasi angin monsun timur yang membawa massa udara kering dari Australia menuju wilayah Indonesia, sehingga meminimalkan pembentukan awan hujan.
Selain itu, kelembapan udara cenderung menurun selama periode kemarau, menyebabkan suhu udara terasa lebih panas pada siang hari. Namun, pada malam hari, suhu dapat terasa lebih sejuk. Perbedaan suhu harian yang mencolok ini sering menjadi salah satu ciri khas yang dirasakan masyarakat.
Ciri lain dari musim kemarau meliputi intensitas penyinaran matahari yang meningkat dan berkurangnya tutupan awan. Langit tampak cerah lebih lama, serta kondisi tanah dan vegetasi cenderung menjadi lebih kering. Pada beberapa daerah, situasi ini juga berpotensi meningkatkan risiko kekeringan dan kebakaran hutan.
BMKG memprediksi awal musim kemarau 2026 di Indonesia akan berlangsung secara bertahap. Sebagian wilayah sudah mulai mengalaminya pada April, sementara daerah lain diperkirakan akan menyusul pada Mei hingga Juni 2026. Pola ini menunjukkan adanya variasi waktu awal musim kemarau di berbagai daerah.
Puncak musim kemarau diperkirakan akan terjadi pada periode Juli, Agustus, hingga September 2026 di sebagian besar wilayah Indonesia. Pada fase ini, curah hujan akan mencapai titik terendah, sehingga kondisi kering akan terasa jauh lebih dominan dibandingkan bulan-bulan sebelumnya.
Terkait sifat musim, BMKG memperkirakan kemarau tahun ini akan masuk dalam kategori bawah normal, atau lebih kering dari biasanya. Hal ini dipengaruhi oleh potensi fenomena iklim global seperti El Nino, yang dapat mengurangi curah hujan di Indonesia dan memperpanjang periode kering.
Durasi musim kemarau di sejumlah wilayah juga diprediksi akan berlangsung lebih panjang. Terutama di daerah yang rentan terhadap penurunan curah hujan, seperti Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara. Masyarakat diimbau untuk mulai melakukan langkah antisipasi, khususnya dalam pengelolaan sumber daya air dan pencegahan kebakaran lahan.
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·