BPK Temukan Potensi Kerugian Investasi Telkomsel di GOTO Rp4,74 Triliun

Sedang Trending 2 hari yang lalu

Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) mengungkapkan adanya potensi kerugian besar terkait langkah investasi PT Telkomsel pada PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO). Berdasarkan laporan audit terbaru, investasi minoritas tersebut memicu kerugian yang belum direalisasikan atau unrealized loss.

Dikutip dari Bloombergtechnoz, lembaga audit negara ini mencatat bahwa nilai kerugian Telkomsel mencapai angka Rp4,74 triliun dalam rentang waktu 2021 hingga 2024. Selain kerugian nilai investasi, BPK juga menyoroti realisasi synergy value yang tidak sesuai ekspektasi awal.

Data pemeriksaan menunjukkan bahwa nilai sinergi yang menjadi landasan akuisisi saham GOTO baru menyentuh Rp6,38 triliun per November 2024. Angka tersebut hanya memenuhi sekitar 69,81% dari target yang diproyeksikan oleh pihak manajemen sebelumnya.

Kesenjangan ini menandakan bahwa harapan atas integrasi ekosistem digital antara Gojek dan Tokopedia belum tercapai sepenuhnya. Dalam penyusunan proyeksi nilai sinergi tersebut, Telkomsel diketahui melibatkan konsultan profesional seperti Citi, BNP Paribas, dan Deloitte Indonesia.

"Sampai dengan 2024, PT Telkomsel telah membukukan kerugian sebesar Rp4,74 triliun atas investasi jangka panjang pada GOTO," dikutip dari hasil pemeriksaan BPK pada Rabu (13/5/2026).

Temuan ini merupakan bagian dari audit atas pengelolaan keuangan tahun buku 2023 dan semester I-2024 pada PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) sebagai induk perusahaan. Laporan audit dengan nomor 64/T/LHP/DJPKN-VII/PBN.02/11/2025 ini telah diterbitkan sejak 21 November 2025.

Secara teknis akuntansi, Telkomsel memasukkan kerugian investasi GOTO ke dalam pos Biaya dan Beban pada Laporan Laba Rugi. Perusahaan tidak mencatatnya dalam Penghasilan Komprehensif Lain atau Other Comprehensive Income (OCI).

Pelebaran nilai rugi ini dipicu oleh tren penurunan harga saham GOTO yang terus terkoreksi sejak melantai di bursa (IPO) pada 2022. Penurunan harga pasar tersebut secara langsung memangkas saldo investasi jangka panjang Telkomsel dan berdampak pada kinerja keuangan TLKM secara konsolidasi.

Metode yang digunakan Telkomsel dalam pencatatan investasi ini adalah Fair Value Through Profit or Loss (FVTPL). Rekam jejak investasi ini dimulai pada 2020 saat Telkomsel menempatkan dana US$150 juta atau sekitar Rp2,1 triliun di PT Aplikasi Karya Anak Bangsa (Gojek).

Dana tersebut awalnya berbentuk obligasi konversi tanpa bunga (zero-coupon mandatory convertible bond). Setelah penggabungan Gojek dan Tokopedia pada 2021, utang tersebut dikonversi menjadi saham Seri F+ sebanyak 29.708 lembar senilai US$300 juta.

Melalui total modal sebesar Rp6,38 triliun, Telkomsel kini menggenggam sekitar 23,72 miliar lembar saham GOTO. Kepemilikan ini setara dengan porsi saham sebesar 1,97% pada perusahaan teknologi tersebut.

BPK juga memberikan catatan kritis mengenai keputusan investasi yang dilakukan saat GOTO masih mencatatkan kerugian operasional yang besar. Manajemen dinilai kurang memitigasi risiko usaha dari riwayat kerugian perusahaan rintisan tersebut.

Laporan tersebut memaparkan bahwa saat penawaran investasi masuk pada 2020, induk Gojek mencatat rugi komprehensif hingga Rp16,62 triliun. Tren negatif ini berlanjut setelah merger, di mana GOTO mencatat rugi komprehensif Rp22,53 triliun pada 2021 dan melonjak jadi Rp40,26 triliun pada 2022.

Puncak kerugian tercatat pada angka Rp90,41 triliun sebelum akhirnya menyusut menjadi Rp5,53 triliun pada 2024. BPK juga menyoroti adanya penurunan nilai goodwill (impairment) yang sangat signifikan pada periode 2022-2023.

"Hasil penelusuran terhadap utang dan ekuitas menunjukkan PT AKAB atau GOTO cenderung mengandalkan utang dalam menjalankan bisnis sehingga mengalami kerugian," dikutip dari hasil pemeriksaan BPK.

Penyimpangan lebar juga ditemukan pada realisasi EBITDA dibandingkan dengan proyeksi manajemen sejak 2019 hingga 2024. Hal ini menyebabkan laba per saham atau earnings per share (EPS) GOTO terus berada di zona negatif.

"Kondisi di atas menunjukkan bagaimana transakasi investasi Telkomsel pada GOTO sampai tahun 2024 belum memberikan keuntungan bagi perusahaan," dikutip dari hasil pemeriksaan BPK.