Jakarta (ANTARA) -
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) menegaskan komitmennya mendukung program Presiden Prabowo Subianto dalam penyediaan 3 juta rumah.
Program ini diarahkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui penyediaan hunian layak, terjangkau, dan berkualitas.
Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu memandang program ini tidak hanya menyasar kebutuhan dasar papan. Lebih dari itu, pembiayaan perumahan menjadi penggerak ekonomi sekaligus mendorong pemberdayaan masyarakat.
"Program rumah subsidi ini memberikan banyak manfaat bagi masyarakat, menyejahterakan banyak keluarga sekaligus menggerakkan perekonomian," terang Nixon di Jakarta, Minggu.
Menurut dia, dampak program perumahan tidak hanya dirasakan oleh penerima manfaat langsung.
Baca juga: Gandeng swasta, Pemerintah bangun 141 ribu rusun subsidi di Bekasi
Pembangunan perumahan turut memicu aktivitas di berbagai sektor. Mulai dari konstruksi, industri bahan bangunan, hingga penyerapan tenaga kerja.
Program Prabowo dalam membangun jutaan rumah, praktis menggerakkan sektor konstruksi dan turunannya. Dari situ, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) ikut terdorong. Mulai dari penyedia bahan bangunan lokal, jasa tukang, hingga usaha kecil di sekitar kawasan hunian baru.
Penggunaan produk lokal memperkuat rantai pasok dalam negeri. Dengan begitu mengurangi ketergantungan impor sekaligus membuka lapangan kerja. Artinya, program 3 juta rumah juga membawa dampak berlapis terhadap kualitas hidup dan struktur ekonomi masyarakat.
"Efek bergandanya signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi daerah," ujar Nixon.
Akses terhadap hunian yang layak menciptakan lingkungan hidup yang lebih sehat dan stabil. Kondisi tersebut berdampak pada peningkatan kualitas pendidikan. Terutama bagi anak-anak yang membutuhkan ruang belajar aman dan kondusif.
Baca juga: Program 3 Juta Rumah gerakkan 185 industri dan serap tenaga kerja
Program perumahan juga diintegrasikan dengan upaya menjaga ketahanan pangan yang dapat membantu pemerintah dalam program swasembada pangan.
Hal ini dilakukan seiring dengan adanya perlindungan terhadap lahan baku sawah (LBS) dan lahan sawah dilindungi (LSD), pembangunan perumahan didorong agar tidak mengorbankan lahan produktif pertanian. Dampaknya, keseimbangan antara kebutuhan papan dan pangan tetap terjaga.
"Ketahanan pangan nasional bisa berjalan beriringan dengan pembangunan permukiman," jelas Nixon.
Adapun berdasarkan kajian Housing Finance Center BTN, penerima KPR subsidi merasakan peningkatan kualitas hidup.
"Mereka dapat memiliki rumah layak huni, tidak lagi terbebani biaya sewa, serta memiliki aset jangka panjang. Kepemilikan rumah juga memberi rasa aman, puas, dan bangga sebagai pencapaian hidup," kata Nixon.
Dari sisi ekonomi, sektor perumahan memberikan kontribusi besar. KPR tercatat mendorong tambahan output ekonomi nasional hingga Rp 3.049 triliun. Bahkan, setiap tambahan investasi Rp 1 triliun di sektor ini mampu menyerap sekitar 8.000 tenaga kerja.
Dengan demikian, program 3 juta rumah menjadi salah satu instrumen strategis untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara luas.
Baca juga: OJK dan pemerintah jajaki skema asuransi untuk program 3 juta rumah
Baca juga: Pemerintah siapkan insentif fiskal masif dukung Program 3 Juta Rumah
Pewarta: Bayu Saputra
Editor: Bernadus Tokan
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·