Pasar saham Amerika Serikat mengalami kebangkitan pada hari Rabu setelah tekanan dari pasar obligasi terhadap Wall Street mulai mereda dan harga minyak mentah melepaskan sebagian besar keuntungan besarnya.
Dilansir dari Associated Press, indeks S&P 500 melonjak sebesar 1,1 persen untuk mencatat kenaikan pertamanya dalam empat hari terakhir sekaligus mendekati rekor tertinggi sepanjang masa yang diraih pada pekan lalu.
Selain itu, indeks Dow Jones Industrial Average melesat 645 poin atau 1,3 persen, sementara indeks komposit Nasdaq mengalami reli sebesar 1,5 persen.
Saham-saham mendapat dorongan dari penurunan imbal hasil di pasar obligasi, yang memberikan kelegaan setelah kenaikan pesat sebelumnya sempat mengguncang pasar saham global.
Imbal hasil obligasi Treasury 10-tahun merosot menjadi 4,57 persen dari posisi 4,67 persen pada Selasa malam, sebuah pergerakan signifikan bagi pasar yang diukur dalam seperseratus poin persentase.
Sebelumnya, imbal hasil Treasury 10-tahun melonjak dari kurang dari 4 persen akibat kekhawatiran perang dengan Iran akan menahan harga minyak tetap tinggi, yang memicu risiko bank sentral menaikkan suku bunga pada tahun 2026.
Imbal hasil obligasi melandai pada hari Rabu seiring penurunan harga minyak, dengan minyak mentah Brent merosot 5,6 persen ke posisi 105,02 dolar AS per barel meskipun masih di atas level sebelum perang sekitar 70 dolar AS.
Fluktuasi harga tersebut dipengaruhi oleh harapan kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran agar pengiriman minyak dari Teluk Persia dapat kembali pulih sepenuhnya.
Laporan inflasi Inggris yang tidak seburuk perkiraan para ekonom turut membantu menenangkan imbal hasil obligasi di seluruh dunia, yang kemudian memimpin kebangkitan saham sektor teknologi di Wall Street.
Saham Nvidia naik 1,3 persen menjelang laporan laba terbarunya, di mana perusahaan cip tersebut mencatatkan pertumbuhan laba serta pendapatan kuartalan yang melampaui estimasi para analis keuangan.
Kenaikan sektor teknologi juga didorong oleh saham Advanced Micro Devices yang melesat sebesar 8,1 persen dan Intel yang meningkat hingga 7,4 persen.
Perusahaan kecil juga merasakan dampak positif dari penurunan imbal hasil ini, terlihat dari indeks Russell 2000 yang melonjak hingga 2,6 persen.
Kinerja pasar turut ditopang oleh perusahaan di balik TJ Maxx dan Marshalls yang sahamnya naik 5,7 persen setelah melaporkan laba kuartalan yang lebih kuat dari perkiraan.
"Kuartal saat ini berawal dengan baik," kata Ernie Herrman, CEO TJX.
Perusahaan ritel harga miring tersebut kemudian menaikkan perkiraan untuk total pendapatan serta laba mereka pada tahun ini.
Harapan daya beli rumah tangga tetap kuat juga didukung oleh laporan laba Red Robin Gourmet Burgers yang melonjak 18,2 persen dan Cava Group yang naik 3,1 persen.
Sebagian besar perusahaan besar di AS melaporkan laba awal tahun 2026 yang lebih baik dari perkiraan analis, sehingga membantu pergerakan harga saham jangka panjang.
Namun, saham Target justru melemah 3,9 persen meskipun peritel tersebut melaporkan pendapatan kuartalan yang melampaui ekspektasi pasar.
Pelemahan terjadi setelah saham Target sempat melonjak lebih dari 30 persen sepanjang tahun ini, dan saat ini CEO baru sedang berupaya meningkatkan pendapatan.
Secara keseluruhan, S&P 500 naik 79,36 poin ke 7.432,97, Dow Jones melonjak 645,47 ke 50.009,35, dan Nasdaq bertambah 399,65 ke level 26.270,36.
Di bursa internasional, indeks Eropa bergerak menguat sementara indeks Nikkei 225 Tokyo melemah 1,2 persen akibat imbal hasil obligasi pemerintah Jepang berada dekat level tertinggi sejak 1997.
43 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·