Pasar ekuitas global meneruskan tren positif pada perdagangan Senin, 4 Mei 2026, setelah mencapai rekor tertinggi pekan lalu akibat reli sektor teknologi. Indeks Nikkei dan KOSPI tercatat masing-masing naik 0,5 persen dan 2,5 persen, sementara negara-negara industri non-teknologi cenderung bergerak variatif.
Kenaikan pasar modal ini terjadi di tengah penurunan harga minyak mentah Brent sebesar 9 persen dari puncaknya ke level 108 dolar AS per barel. Penurunan ini dipicu oleh pernyataan positif Donald Trump mengenai perkembangan diskusi antara Amerika Serikat dan Teheran terkait ketegangan di Selat Hormuz.
Donald Trump menyampaikan bahwa armada kapal perang Amerika Serikat akan melakukan pengawalan terhadap kapal-kapal dari negara netral yang tidak memiliki keterkaitan dengan konflik tersebut. Langkah ini bertujuan untuk memastikan kelancaran lalu lintas komersial keluar dari jalur strategis tersebut.
Pihak Iran memberikan respons yang berseberangan dengan menyatakan bahwa rencana pengawalan kapal oleh militer AS tersebut justru berisiko mengakhiri kesepakatan gencatan senjata yang tengah berjalan. Meski demikian, sentimen pasar tetap terjaga oleh optimisme meredanya konflik.
Memasuki bulan Mei, para investor di Indonesia menghadapi narasi musiman yang dikenal sebagai "Sell in May". Berdasarkan data historis 20 tahun terakhir, peluang kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang Mei tercatat sebesar 50 persen, yang menunjukkan peluang keuntungan dan kerugian yang seimbang.
Terdapat peluang strategi kontarian untuk melakukan pembelian saat terjadi pelemahan pada bulan ini guna mengincar potensi penguatan di bulan Juli. Secara historis, peluang kenaikan pada Juli mencapai 85 persen dengan rata-rata pertumbuhan sebesar 3,5 persen.
Kondisi pasar saat ini juga mencerminkan pola langka yang pernah terjadi pada krisis 2008 dan 2020, di mana IHSG mengalami penurunan beruntun di awal tahun. Pada kedua tahun tersebut, performa bulan Mei justru ditutup positif dengan kenaikan masing-masing sebesar 6,1 persen dan 0,8 persen.
Beberapa faktor kunci yang dinantikan pasar sepanjang Mei adalah penyelesaian konflik AS-Iran serta rebalancing indeks MSCI pada 29 Mei 2026. Para pelaku pasar memprediksi bobot Indonesia tetap dipertahankan dalam kategori Emerging Market oleh MSCI.
| ADRO | US$128 Juta | +23% |
| ADMR | US$88 Juta | +31% (QoQ) |
| HRUM | US$9 Juta | +60% |
| GGRM | Rp1,5 Triliun | +1372,9% |
| CPIN | Rp2,6 Triliun | +67,7% |
| AMRT | Rp1,1 Triliun | +10,3% |
| UNVR | Rp1,3 Triliun | +14,1% (Inti) |
| ACES | Rp164 Miliar | +15,6% |
| PTBA | Rp802 Miliar | +105% |
Kinerja emiten sektor konsumsi seperti GGRM dan CPIN dilaporkan melampaui estimasi pasar meski dibayangi tantangan daya beli dan biaya bahan baku. Sementara itu, emiten tambang seperti ADRO dan PTBA tetap mencatatkan hasil yang sejalan dengan konsensus pasar.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·