Cara Bertahan Hidup di Tengah Penghasilan yang Tidak Menentu, Buka Usaha Sampingan

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Liputan6.com, Jakarta - Ketidakpastian penghasilan menjadi tantangan yang dihadapi banyak pekerja freelance, seniman, hingga ibu rumah tangga kreatif. Ketika pandemi Covid-19 melanda beberapa tahun lalu, banyak sektor pekerjaan lumpuh total, terutama bidang yang bergantung pada aktivitas offline seperti seni pertunjukan, pameran, hingga acara musik. Kondisi itu memaksa banyak orang untuk memutar otak mencari sumber pendapatan baru agar kebutuhan hidup tetap terpenuhi. Dari situlah usaha sampingan dan dunia kreatif digital mulai dilirik sebagai jalan bertahan hidup.

Tidak sedikit orang yang akhirnya menemukan peluang baru dari hal-hal sederhana yang sebelumnya dianggap hanya sekadar hobi. Ada yang mulai membuat konten di media sosial, membuka usaha kuliner kecil-kecilan, hingga memanfaatkan keterampilan seni untuk membangun ruang kreatif yang menghasilkan. Menariknya, usaha-usaha sampingan tersebut bukan hanya membantu memenuhi kebutuhan ekonomi, tetapi juga membuka jalan menuju passion dan peluang baru yang sebelumnya tidak terpikirkan.

“Waktu Covid itu benar-benar nol karena aku sama suami itu mengandalkan dari pameran seni rupa, terus acara-acara musik yang semuanya harus offline. Nah, itu benar-benar cancel banyak banget. Nah, dari ngonten itu menolong menyambung kehidupan kami. Awal-awalnya cuma review produk yang ada di rumah dan memang aku pakai. Ternyata di-notice sama brand, terus ditawarin produk dan fee. Dari situ aku mulai menekuni dunia content creator sambil belajar algoritma, SEO, dan gabung komunitas sesama ibu yang ngonten,” ujar Gracesyera, content creator yang sehari-hari juga menjalani peran sebagai ibu rumah tangga, saat ditemui Liputan6.com pada Senin (20/4).

Pandemi Jadi Titik Awal Mencari Penghasilan Tambahan

Pandemi Covid-19 menjadi pukulan besar bagi banyak pekerja yang mengandalkan proyek offline dan penghasilan tidak tetap. Gracesyera mengaku dirinya dan sang suami kehilangan hampir seluruh sumber pemasukan karena kegiatan pameran seni dan acara musik dibatalkan. Kondisi tersebut membuat mereka harus segera mencari alternatif penghasilan yang lebih memungkinkan dilakukan dari rumah. Dari situ, dunia content creator mulai ia tekuni secara serius sebagai cara untuk bertahan hidup di tengah kondisi ekonomi yang tidak pasti.

Berbekal pengalaman kuliah di bidang desain komunikasi visual dan pengetahuan soal personal branding, Gracesyera mulai membuat konten sederhana dari rumah. Ia hanya mereview produk yang memang digunakan sehari-hari tanpa konsep yang rumit. Namun justru kejujuran dan kedekatan kontennya dengan kehidupan sehari-hari membuat brand mulai melirik akunnya. Perlahan, aktivitas membuat konten yang awalnya hanya iseng berkembang menjadi sumber penghasilan baru yang mampu membantu kebutuhan keluarga.

“Awal-awalnya tuh cuma saya nge-review produk yang memang ada di rumah dan aku pakai sendiri. Kemudian malah di-notice sama brand. Aku masih ingat banget waktu itu brand Klodi. Terus ditawarin produk dan sejumlah fee. Dari situ aku mulai belajar gimana biar kontenku kebaca algoritma, gimana punya komunitas, sampai akhirnya jadi tambahan pendapatan untuk keluarga,” kata Gracesyera.

Memanfaatkan Skill Lama untuk Membuka Peluang Baru

Salah satu cara bertahan hidup di tengah penghasilan tidak menentu adalah memanfaatkan kemampuan yang sudah dimiliki sejak lama. Gracesyera mengaku kemampuan visual, editing, hingga scripting sebenarnya sudah ia pelajari sejak kuliah. Karena itu, ketika masuk ke dunia content creator, ia tidak benar-benar mulai dari nol. Bekal tersebut justru menjadi modal penting untuk mengembangkan akun media sosialnya secara konsisten dan profesional.

Hal serupa juga dilakukan seniman rupa Chrisna Fernand yang memanfaatkan keterampilan seni dan kemampuan bersosialisasi untuk membuka usaha kafe sekaligus ruang komunitas kreatif. Ia menyadari bahwa penghasilan dari karya seni tidak selalu stabil, sehingga membutuhkan usaha lain untuk menopang kebutuhan sehari-hari. Dari hasil menjual lukisan, Chrisna kemudian membuka Kedai Pomintos di Bantul sebagai ruang berkumpul sekaligus usaha sampingan yang tetap dekat dengan dunia seni.

“Kalau saya sendiri karena senangnya bersosial, dari dulu memang sering bikin ruang kumpul buat teman-teman seniman dan aktivis. Tahun kemarin akhirnya aku bikin format baru berupa warung atau kafe. Modal awalnya dari jualan lukisan saya sekitar Rp20 jutaan. Karena saya sadar market seni di Indonesia belum stabil buat bertahan hidup, jadi saya butuh usaha harian juga,” ujar Chrisna Fernand saat ditemui Liputan6.com pada Minggu (3/5).

Jangan Menunggu Sempurna untuk Memulai

Banyak orang gagal memulai usaha sampingan karena merasa belum punya alat lengkap atau kemampuan yang cukup. Padahal menurut Gracesyera, keberanian untuk memulai jauh lebih penting dibanding menunggu semuanya sempurna. Ia sendiri mengaku awal membuat konten hanya menggunakan aktivitas sehari-hari bersama anak-anak tanpa peralatan mahal dan proses editing yang rumit. Konten sederhana yang jujur justru lebih mudah diterima audiens karena terasa dekat dengan kehidupan nyata.

Perubahan tren media sosial juga membuat konten yang terlalu dibuat-buat tidak selalu diminati. Kini banyak orang lebih menyukai konten yang natural dan apa adanya. Karena itu, Gracesyera memilih merekam momen keseharian, lalu menyusunnya menjadi cerita yang memiliki nilai dan pengalaman personal. Cara tersebut membuat proses membuat konten terasa lebih ringan dan tidak menguras tenaga karena tidak perlu berpura-pura menjadi orang lain.

“Enggak usah nunggu estetik dulu, enggak usah nunggu punya peralatan lengkap dulu, berani dulu. Aku sehari-hari juga ngurus anak jadi minim waktu editing. Aku cuma ambil footage biasa pas lagi jalan sama anak atau lagi nongkrong. Nanti kalau ada ide konten tinggal pakai voice over buat menyampaikan value yang pengin aku ceritakan,” ungkap Gracesyera.

Menemukan Niche yang Sesuai dengan Diri Sendiri

Dalam membangun usaha sampingan, konsistensi menjadi hal yang penting. Namun konsistensi tidak akan bertahan lama jika seseorang memaksakan diri mengikuti tren yang tidak sesuai dengan dirinya. Gracesyera mengaku sempat mencoba berbagai niche konten sebelum akhirnya menemukan tema parenting dan pendidikan yang paling dekat dengan kehidupannya sehari-hari. Dari situ ia mulai memahami bahwa media sosial membutuhkan ciri khas agar lebih mudah dikenal audiens maupun brand.

Menurutnya, konten yang paling kuat adalah konten yang berasal dari pengalaman nyata. Ia bahkan pernah membagikan cerita tentang fase postpartum hingga keseharian mendampingi anak-anak belajar. Kedekatan emosional tersebut membuat audiens merasa lebih terhubung dan percaya terhadap isi kontennya. Seiring waktu, niche parenting kemudian berkembang ke isu pendidikan kontekstual yang kini menjadi fokus baru dalam aktivitasnya.

“Dulu aku sempat niche tentang zero waste dan lingkungan, ternyata enggak cocok. Akhirnya lebih ke parenting karena brand yang masuk juga relate sama anak-anak. Aku pernah cerita soal postpartum juga. Jadi benar-benar based on story dan pengalaman sendiri. Enggak capek karena enggak jadi orang lain. Sekarang berkembang lagi ke pendidikan kontekstual karena itu yang lagi aku sukai,” jelas Gracesyera.

Usaha Sampingan Bisa Membuka Jalan Karier Baru

Menariknya, usaha sampingan yang awalnya hanya untuk tambahan penghasilan justru bisa berkembang menjadi peluang karier baru. Gracesyera mengaku aktivitas membuat konten membawanya ke dunia pendidikan alternatif dan menulis. Ia mulai diajak sekolah untuk belajar public speaking dan menulis jurnal kegiatan anak. Dari sana, kemampuan menulisnya berkembang hingga akhirnya ikut membuat buku tentang pendidikan bersama komunitas lainnya.

Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa usaha sampingan sering kali membuka ruang pertemuan dengan peluang yang tidak terduga. Aktivitas yang awalnya dilakukan demi bertahan hidup justru mempertemukan seseorang dengan passion baru yang lebih bermakna. Bagi Gracesyera, dunia content creator tidak hanya menghasilkan uang, tetapi juga membawanya menemukan ruang baru untuk berbagi ilmu dan pengalaman kepada orang tua lainnya.

“Yang tadinya ngonten aja akhirnya aku nemu passion lain yaitu menulis. Awalnya aku diajak sekolah karena dianggap public speaking-ku bagus. Terus aku belajar bikin jurnal kegiatan anak karena di sekolah anakku rapornya deskriptif. Dari situ berkembang sampai akhirnya sekarang ngisi kelas pendidikan kontekstual dan ikut bikin buku tentang pendidikan,” tutur Gracesyera.

Mengelola Keuangan Jadi Tantangan Besar

Meski usaha sampingan bisa membantu pemasukan, tantangan terbesar sering kali muncul dalam pengelolaan keuangan. Chrisna Fernand (32) mengaku sebagai seniman dirinya belum terbiasa berpikir seperti pebisnis. Karena itu, selama menjalankan kafe ia masih sering mencampur uang usaha dengan kebutuhan pribadi maupun kebutuhan berkarya. Hal tersebut menjadi pelajaran penting baginya selama setahun mengelola usaha.

Menurut Chrisna, membangun bisnis bukan hanya soal kreativitas dan keberanian memulai, tetapi juga kemampuan menjaga arus keuangan agar usaha tetap berjalan sehat. Ia mulai memahami pentingnya memisahkan modal usaha dengan kebutuhan lain agar bisnis dapat berkembang lebih stabil. Pengalaman tersebut menjadi pembelajaran penting bagi siapa saja yang ingin membuka usaha sampingan di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu.

“Karena basic-nya aku bukan pebisnis, jadi banyak banget hal yang perlu dipelajari. Penghasilan warung kadang masih kepakai buat beli cat atau kebutuhan lain. Padahal harusnya dipisah. Selama setahun ini aku belajar gimana cara muter keuangan usaha supaya enggak tercampur sama kebutuhan pribadi atau kebutuhan berkarya,” kata Chrisna Fernand saat ditemui Liputan6.com pada Minggu (3/5).

Usaha Sampingan Bisa Jadi Jalan Menuju Kebebasan Finansial

Bagi sebagian orang, usaha sampingan bukan hanya sekadar tambahan pemasukan sementara. Chrisna Fernand melihat usaha sampingan sebagai salah satu cara mencapai kebebasan finansial di masa depan. Ia ingin tetap bisa melukis tanpa terus dibebani kekhawatiran soal kebutuhan hidup sehari-hari. Karena itu, usaha kafe yang ia bangun menjadi penopang agar aktivitas berkaryanya tetap berjalan lebih tenang.

Selain menghasilkan uang, usaha yang dibangun Chrisna juga memiliki nilai sosial karena membuka ruang kolaborasi bagi banyak orang. Ia bahkan menyediakan tempat bagi teman-teman yang hobi memasak untuk berjualan tanpa harus memiliki tempat sendiri. Menurutnya, usaha sampingan yang baik bukan hanya menguntungkan diri sendiri, tetapi juga bisa menjadi ruang tumbuh bersama komunitas di sekitarnya.

“Kalau pada kata orang-orang, untuk mencapai kebebasan finansial itu harus punya beberapa sumber bisnis. Aku penginnya nanti tua tinggal melukis saja tanpa pusing mikirin beli kanvas atau kebutuhan lain. Makanya aku bikin warung ini juga sebagai usaha sampingan. Bahkan teman-teman yang suka masak tapi enggak punya tempat bisa jualan di sini,” ujar Chrisna Fernand.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Cara Bertahan Hidup di Tengah Penghasilan yang Tidak Menentu

1. Bagaimana cara bertahan hidup saat penghasilan tidak menentu?

Cara bertahan hidup saat penghasilan tidak menentu adalah dengan mencari sumber pemasukan tambahan, memanfaatkan skill yang dimiliki, serta mulai usaha sampingan yang fleksibel dan sesuai kemampuan.

2. Usaha sampingan apa yang cocok untuk pekerja freelance?

Usaha sampingan yang cocok untuk pekerja freelance antara lain menjadi content creator, membuka usaha kuliner kecil, menjual produk digital, affiliate marketing, hingga membuka kelas online sesuai keahlian.

3. Apakah content creator bisa menjadi sumber penghasilan utama?

Ya, content creator bisa menjadi sumber penghasilan utama melalui endorsement, affiliate product, monetisasi media sosial, kerja sama brand, hingga penjualan kelas atau produk digital.

4. Mengapa usaha sampingan penting di era sekarang?

Usaha sampingan penting karena kondisi ekonomi dan pekerjaan semakin tidak pasti. Memiliki pemasukan tambahan membantu menjaga stabilitas keuangan dan mengurangi risiko kehilangan penghasilan utama.

5. Bagaimana memulai usaha sampingan dari nol?

Mulailah dari kemampuan dan pengalaman yang sudah dimiliki tanpa menunggu peralatan lengkap. Fokus pada konsistensi, keberanian memulai, dan membangun ciri khas agar usaha berkembang secara bertahap.