Cerita Petugas Bagasi Bandara Pastikan Koper Sampai ke Hotel Jemaah

Sedang Trending 2 jam yang lalu
Petugas PPIH melayani jemaah haji lansia di Bandara Prince Mohammad Bin Abdul Aziz Madinah pada Jumat (24/4/2026). Foto: Dok. MCH 2026

Di balik wajah-wajah lega jemaah haji Indonesia yang tiba di Madinah, ada kerja senyap yang tak selalu terlihat. Bukan hanya penyambutan di terminal, tetapi juga pengawasan ketat terhadap barang bawaan jemaah yang menjadi bagian penting dari kenyamanan mereka setibanya di Tanah Suci.

Di Drop Baggage Zone Bandara AMAA Madinah, Jumat (24/04), para petugas haji bandara menjalankan tugas monitoring bagasi dengan penuh ketelitian.

Pada setiap tiga shift penugasan, masing-masing ditempatkan lima orang petugas yang bertugas sebagai checker bagasi. Mereka memantau berbagai barang bawaan jemaah, mulai dari koper besar atau bagasi tercatat, koper kabin, kursi roda, hingga tongkat yang digunakan jemaah selama menjalankan ibadah haji.

Kadaker Bandara Abdul Basir. Foto: Dok. MCH 2026

Kepala Daerah Kerja Bandara, Abdul Basir, mengatakan bahwa pengawasan barang bawaan jemaah merupakan bagian penting dari pelayanan, karena setiap barang yang dibawa jemaah berkaitan langsung dengan kebutuhan mereka selama berada di Tanah Suci.

“Setiap barang bawaan jemaah harus dimonitor secara cermat, mulai dari koper besar, koper kabin, kursi roda, sampai tongkat. Barang-barang itu merupakan kebutuhan jemaah yang akan mereka gunakan selama di Tanah Suci,” ujar Abdul Basir.

Menurutnya, tugas checker bagasi bukan pekerjaan ringan. Mereka harus bekerja dengan ketelitian tinggi dalam situasi lapangan yang menuntut ketahanan fisik dan konsentrasi penuh, karena area penugasan berada di luar ruangan.

Pada siang hari, para petugas menghadapi panas terik yang menyengat. Sementara pada malam hari, mereka harus bertahan dalam udara dingin yang menusuk tulang, disertai angin kencang dan kondisi yang kerap berdebu.

Meski demikian, pengawasan bagasi harus tetap berjalan tanpa lengah demi memastikan seluruh barang bawaan jemaah terpantau dengan baik.

“Kalau ada selisih jumlah atau ada bagasi jemaah yang tidak sampai, itu harus segera kami laporkan kepada pihak maskapai. Karena itu, pengawasan pada area bagasi harus dilakukan dengan sangat teliti dan tidak boleh lengah,” lanjutnya.

video from internal kumparan

Ia menjelaskan, pengawasan bagasi tidak hanya dilakukan oleh petugas haji Indonesia, tetapi juga oleh pihak maskapai. Karena itu, koordinasi antarpihak menjadi kunci agar seluruh proses distribusi bagasi berjalan lancar hingga sampai ke hotel jemaah masing-masing.

“Bukan hanya petugas kita yang mengawasi, pihak maskapai juga ikut memantau bagasi jemaah. Maka koordinasi satu sama lain harus terus dijaga supaya seluruh bagasi jemaah bisa sampai dengan baik ke hotel masing-masing,” katanya.

Di tengah padatnya aktivitas operasional bandara, tugas monitoring bagasi memang sering tidak terlihat oleh publik. Namun, justru dari proses inilah kenyamanan jemaah ikut dijaga sejak awal kedatangan mereka di Arab Saudi.

Abdul Basir menegaskan bahwa pelayanan kepada jemaah tidak berhenti pada proses turun dari pesawat atau penyambutan di terminal, tetapi juga mencakup kepastian bahwa barang bawaan mereka aman, lengkap, dan terpantau dengan baik.

“Yang kami jaga bukan hanya jumlah bagasi, tetapi juga ketepatan dan kelancaran prosesnya. Harapannya, saat jemaah tiba di hotel, barang-barang mereka juga sudah termonitor dengan baik sehingga jemaah merasa tenang dan nyaman,” ucapnya.

Sejumlah koper milik jamaah calon haji kloter pertama di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, Selasa (21/4/2026). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Kerja 24 Jam

Fitsa Baharuddin, salah satu Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) dari tugas fungsi transportasi Daerah Kerja (Daker) Bandara, mengatakan pihaknya terus memberikan layanan selama 24 jam untuk para jemaah haji Indonesia di Bandara AMAA.

Menurutnya, para jemaah haji yang telah tiba di bandara tidak perlu khawatir terkait bagasi, karena koper akan sampai bersamaan saat jemaah tiba di hotel.

“Tugas kami adalah menerima barang-barang bagasi berupa koper besar, ada juga koper kecil, kursi roda, tongkat juga ada. Semua barang-barang bagasi itu akan keluar dari gedung ini,” katanya terpisah.

Ia bersama rekan petugas terus memantau koper yang tiba dan memastikan tidak ada barang milik jemaah yang tertinggal.

“Kita monitor jumlahnya secara lengkap, kemudian kita serah terima dengan bagian distribusinya. Kemudian barang-barang itu akan didistribusikan di hotel,” lanjutnya.

Sejumlah koper milik jamaah calon haji kloter pertama di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, Selasa (21/4/2026). Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Tak hanya itu, Fitsa juga memastikan para porter atau yang disebut ummal agar tidak sembarangan dalam memindahkan koper.

“Kita juga memonitor porter-porter atau yang di sini disebut sebagai ummal untuk lebih berhati-hati dan tidak terburu-buru,” ujarnya.

Terkait kendala di lapangan, Fitsa mengungkapkan adanya tantangan ketika jadwal kedatangan kloter berlangsung bersamaan, sehingga petugas harus bekerja lebih ekstra dan teliti.

“Kendalanya itu ketika jadwal penerbangan bersamaan, kita agak kesulitan untuk menghitung barang-barang yang tiba,” katanya.

Meski demikian, Fitsa bersama tim tetap berupaya bekerja secara maksimal demi kelancaran penyelenggaraan ibadah haji tahun 2026.

“Mudah-mudahan penyelenggaraan ibadah haji tahun ini jauh lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya, semua jemaah bisa melaksanakan ibadah dengan baik,” pungkasnya.