Menteri Luar Negeri China Wang Yi mendesak Pemerintah Iran untuk segera membuka kembali akses navigasi di Selat Hormuz guna menormalkan lalu lintas kapal kargo internasional pada Rabu (15/4/2026). Permintaan tersebut disampaikan melalui sambungan telepon kepada Menlu Iran Abbas Araghchi di tengah gangguan jalur perdagangan vital tersebut.
Wang Yi menegaskan bahwa pemulihan kelancaran lalu lintas di selat tersebut merupakan keinginan mendesak dari komunitas internasional. Dilansir dari Money, gangguan serius pada alur kapal tanker minyak telah terjadi sejak 28 Februari 2026 pasca-serangan militer yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran.
"Kebebasan dan keamanan navigasi melalui selat internasional ini harus dipastikan. Memulihkan lalu lintas normal melalui selat ini adalah seruan bersama dari komunitas internasional," ujar Wang Yi, Menteri Luar Negeri China sebagaimana dikutip dari Middle East Monitor.
Meskipun menuntut pembukaan jalur, Wang juga menekankan bahwa hak-hak kedaulatan Iran sebagai negara pesisir harus tetap dihormati. China meminta adanya jaminan keamanan agar agresi militer dari pihak asing tidak terulang kembali di masa depan demi menjaga stabilitas kawasan tersebut.
Data operasional pada Rabu (15/4/2026) menunjukkan hanya terdapat sembilan kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz, termasuk kapal RHN yang membawa 2 juta barel minyak mentah. Sementara itu, satu hari sebelumnya, kapal tanker Alicia dilaporkan berhasil keluar dari zona perairan sempit tersebut dengan pengawasan ketat.
Berdasarkan laporan CNBC, volume transit kapal tanker pada Selasa (14/4/2026) mengalami penurunan drastis hingga 90 persen dibandingkan kondisi normal sebelum konflik pecah. Penurunan tajam ini dipicu oleh tingginya ancaman serangan keamanan yang membuat perusahaan pelayaran menghindari jalur tersebut.
Selat Hormuz memegang peranan krusial karena mengalirkan sekitar 20 persen pasokan minyak mentah dunia ke pasar global. Badan Energi Internasional (IEA) memperingatkan bahwa penutupan berkepanjangan pada jalur ini akan memperparah tekanan terhadap harga energi dan mengganggu stabilitas ekonomi global secara signifikan.
3 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·