China Minta Bank Besar Tahan Kredit ke Kilang Minyak yang Kena Sanksi AS

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Ilustrasi kilang minyak dan gas. Foto: Rangsarit Chaiyakun/Shutterstock

Regulator keuangan China meminta bank-bank terbesar di negara untuk sementara menghentikan penyaluran pinjaman baru kepada lima perusahaan kilang minyak yang baru-baru ini dijatuhi sanksi oleh Amerika Serikat (AS) karena keterkaitannya dengan minyak Iran.

Mengutip Bloomberg, Administrasi Regulasi Keuangan Nasional China (NFRA) meminta perbankan untuk meninjau eksposur dan hubungan bisnis mereka dengan sejumlah perusahaan, termasuk Hengli Petrochemical (Dalian) Refinery Co., salah satu kilang swasta terbesar di China. Langkah itu dilakukan sambil menunggu arahan lebih lanjut dari otoritas terkait.

"Untuk sementara, bank-bank disebut diminta tidak memberikan kredit baru dalam denominasi yuan kepada perusahaan-perusahaan tersebut. Berbarengan dengan itu, mereka juga diminta untuk tidak menarik kembali pinjaman yang sudah berjalan," tulis laporan Bloomberg seperti yang dikutip kumparan, Sabtu (9/5).

Arahan lisan teraebut disampaikan sebelum China memasuki libur panjang pada Jumat (1/5). Kebijakan ini berbeda dengan pemberitahuan Kementerian Perdagangan China pada Sabtu (2/5) yang justru meminta perusahaan-perusahaan mengabaikan sanksi AS.

Ini merupakan pertama kalinya China menggunakan aturan perlindungan yang diperkenalkan pada 2021 untuk melindungi perusahaan domestik dari hukum asing yang dianggap tidak berdasar.

NFRA, yang mengawasi sektor perbankan dan asuransi, belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar.

Sementara itu, Kementerian Perdagangan China juga belum menjelaskan jenis perusahaan apa saja yang tercakup dalam pemberitahuan terbarunya. Dalam aturan tersebut, perusahaan China diberi ruang untuk mengajukan pengecualian.

Kantor pusat People's Bank of China (PBOC). Foto: Shutterstock

Aturan ini juga menandakan posisi dilematis Beijing dalam menunjukkan sikap tegas terhadap pemerintahan Presiden AS Donald Trump, tetapi di saat yang sama tetap berupaya melindungi bank-bank milik negara dari risiko sanksi sekunder AS.

Ketegangan antara dua negara meningkat menjelang pertemuan yang telah lama dinantikan antara Trump dan Presiden China Xi Jinping di Beijing pada 14-15 Mei mendatang.

Washington sendiri terus meningkatkan upaya untuk menghentikan pengiriman minyak Iran yang menjadi sumber pendanaan penting bagi Teheran. Pada akhir bulan April, Kantor Pengawasan Aset Asing Departemen Keuangan AS memasukkan Hengli ke daftar hitam sanksi, menyasar salah satu pemain besar dalam industri pengolahan minyak mentah China.

AS juga memperingatkan perbankan bahwa mereka berisiko terkena sanksi sekunder apabila mendukung kilang swasta China yang membeli minyak Iran. Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan pemerintah AS telah mengirim surat kepada dua bank China untuk memperingatkan risiko tersebut, meski tidak menyebut nama bank yang dimaksud.

Data pinjaman yang dihimpun Bloomberg menunjukkan empat bank terbesar China, yakni Industrial and Commercial Bank of China (ICBC), Agricultural Bank of China, China Construction Bank, dan Bank of China masih tercatat memberikan pinjaman kepada Hengli setidaknya hingga 2018.

Meski China selama ini kerap mengecam sanksi sepihak, dalam sejumlah kasus Beijing juga diam-diam membiarkan perusahaan-perusahaan besarnya mematuhi sanksi tersebut demi menghindari dampak terhadap perekonomian domestik. Bank-bank besar China juga memiliki rekam jejak mematuhi sanksi AS terhadap Iran, Korea Utara, hingga pejabat tinggi Hong Kong agar tetap dapat mengakses sistem kliring dolar AS.

Pada kasus sebelumnya, Beijing sempat melindungi bank-bank pentingnya dengan menyalurkan transaksi terkait Iran melalui Bank of Kunlun Co., anak usaha China National Petroleum Corp yang kini juga terkena sanksi.

instagram embed