Pemerintah Kuba menerima pengiriman pertama bantuan beras sebanyak 15 ribu ton dari Cina pada Ahad (24/05/2026) kemarin untuk mengatasi krisis pangan akut. Bantuan yang dikirimkan ke Havana ini merupakan bagian dari total 60 ribu ton beras yang dijanjikan oleh Beijing, sebagaimana dilansir dari Detikcom.
Krisis ekonomi di Kuba kian memburuk setelah pasokan minyak dari Venezuela terhenti akibat penggulingan Presiden Nicolas Maduro oleh Amerika Serikat pada Januari lalu. Dampaknya, Kuba mengalami krisis energi parah dengan pemadaman listrik yang mencapai lebih dari 22 jam di beberapa wilayah.
Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel menyambut baik bantuan pangan tersebut di tengah situasi krusial yang dihadapi negaranya.
"gestur solidaritas mulia" kata Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel.
Diaz-Canel menambahkan bahwa bantuan ini akan disalurkan ke jutaan warga di seluruh provinsi, termasuk ke institusi kesehatan dan pendidikan.
Sementara itu, pihak Beijing menyatakan bahwa pengiriman ini merupakan komitmen jangka panjang untuk mendukung sekutunya di Karibia.
"bantuan pangan terbesar" kata Duta Besar Cina untuk Kuba, Hua Xin.
Hua Xin menjelaskan bahwa paket bantuan darurat ini dirancang khusus untuk membantu masyarakat Kuba menghadapi tekanan ekonomi yang kian berat.
Berdasarkan data perusahaan listrik negara Kuba, pemadaman listrik secara bersamaan sempat melanda hingga 64 persen wilayah pada hari Minggu. Bahkan pada pekan lalu, rekor pemadaman tertinggi mencapai 70 persen wilayah pada jam konsumsi puncak akibat keterbatasan bahan bakar.
Havana membutuhkan sekitar 100 ribu barel minyak per hari, namun produksi domestik hanya mampu memenuhi 40 ribu barel. Studi independen memperkirakan pemulihan sistem energi Kuba memerlukan dana sekitar US$8 miliar hingga US$10 miliar.
Di sisi lain, situasi politik luar negeri Kuba kian memanas setelah jaksa federal Amerika Serikat mengumumkan dakwaan terhadap mantan Presiden Raul Castro. Tokoh revolusi berusia 94 tahun tersebut didakwa atas insiden penembakan dua pesawat sipil kelompok pengasingan Kuba pada tahun 1996.
Pakar hubungan Amerika Latin dari University of North Texas, Orlando Perez, menilai militer Kuba saat ini cukup solid secara ideologis dan memiliki kemampuan intelijen yang maju hasil kerja sama dengan Uni Soviet dan Cina.
Pemerintah Amerika Serikat menegaskan akan terus mengawal kasus hukum yang menjerat mantan pemimpin tertinggi Kuba tersebut.
"akan muncul di sini, atas kehendaknya sendiri atau dengan cara lain" kata Jaksa Agung sementara Amerika Serikat Todd Blanche.
Pernyataan hukum dari Washington ini, bersama dengan komentar Donald Trump dan Marco Rubio, memicu kembali kekhawatiran terkait potensi intervensi militer Amerika Serikat ke Kuba.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·