CNG Diprediksi Kalahkan Bensin pada 2032 di India

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Produk gas bumi CNG Subholding Gas Pertamina, PT PGN Tbk, mulai disalurkan ke Kota Balikpapan Kalimantan Timur. Foto: Dok. PGN

Penggunaan bahan bakar gas atau CNG diproyeksikan akan semakin dominan di pasar kendaraan penumpang dalam beberapa tahun ke depan. Tren ini didorong oleh kombinasi efisiensi biaya operasional dan tekanan regulasi emisi yang semakin ketat.

Berdasarkan data industri di India, saat ini sudah ada lebih dari 35 model mobil bermesin CNG bawaan pabrik yang tersedia di pasar. Sejumlah pabrikan besar seperti Maruti Suzuki, Tata Motors, Hyundai Motor India, dan Toyota Kirloskar Motor menjadi pemain utama di segmen ini.

Mengutip laporan Bureau of Energy Efficiency (BEE) yang disiarkan Financial Express, adopsi CNG diperkirakan meningkat dua kali lipat pada tahun fiskal 2032. Pada periode tersebut, pangsa pasar CNG diproyeksikan mencapai sekitar 35 persen, melampaui mobil bensin yang diperkirakan berada di level 30,7 persen.

"CNG menawarkan salah satu jalur paling praktis dan scalable untuk memenuhi target emisi," ujar pejabat senior BEE.

Angka itu berbeda jauh dengan kondisi saat ini. Pada tahun fiskal 2025, mobil bensin masih mendominasi dengan pangsa sekitar 58 persen, sementara CNG baru menyentuh 18 persen.

Selama ini, pertumbuhan CNG ditopang oleh kebutuhan konsumen akan efisiensi bahan bakar dan biaya operasional yang lebih rendah. Namun, ke depan, faktor kebijakan dan regulasi diprediksi menjadi pendorong utama pertumbuhan.

Salah satu regulasi kunci adalah standar Corporate Average Fuel Efficiency (CAFE-3) yang berlaku pada periode 2027–2032. Aturan ini mewajibkan pabrikan menekan rata-rata emisi karbon armadanya atau menghadapi sanksi finansial.

Dalam regulasi tersebut, emisi rata-rata armada ditargetkan turun hingga 77,08 gram CO₂ per kilometer pada 2032. Mobil CNG sendiri memiliki emisi sekitar 97,59 g/km, lebih rendah dibandingkan dengan bensin di angka 119,82 g/km dan diesel yang mencapai 150,18 g/km.

Selain itu, skema faktor karbon netral memberikan keuntungan tambahan bagi kendaraan berbasis gas. Dengan penyesuaian ini, emisi efektif mobil CNG bisa turun hingga sekitar 92,71 g/km, memperkuat keunggulannya dibandingkan dengan kendaraan bensin.

Di sisi lain, kendaraan listrik tetap menjadi target jangka panjang industri otomotif. Model berbasis listrik akan mendapatkan insentif berupa supercredit dalam perhitungan emisi armada.

Meski begitu, pengembangan infrastruktur distribusi gas di kota-kota lapis dua dan tiga tetap menjadi faktor krusial dalam mempercepat adopsi CNG. Dengan dukungan infrastruktur yang memadai, CNG dinilai akan berperan sebagai jembatan transisi sebelum elektrifikasi kendaraan berkembang lebih luas.

Proses konversi BBG pada Toyota Avanza oleh Komogas di bengkel SuperMekanik. Foto: Dok. Komogas