CHIEF Investment Officer (CIO) Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara), Pandu Sjahrir, menyatakan proyek waste to energy atau Pengelolaan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) di Indonesia membutuhkan investasi US$ 5 miliar atau Rp 86,5 triliun (dengan asumsi kurs Rp 17.300 per US$). Jumlah tersebut dibutuhkan untuk total 33 proyek yang bakal dikembangkan pemerintah dan Danantara.
Pernyataan tersebut diungkap Pandu setelah menghadiri penandatanganan nota kesepahaman (MoU) PSEL di enam lokasi kabupaten dan kota. “Jadi total proyek itu US$ 5 miliar untuk semuanya. Per proyek butuh kurang lebih US$ 150 juta atau hampir Rp 2,7 triliun,” ucap Pandu seusai pengesahan MoU di Graha Mandiri, Senin, 11 Mei 2026.
Enam kabupaten dan kota yang jadi lokasi percepatan PSEL di antaranya adalah Lampung, Serang, Medan, Semarang, Bogor, dan Kabupaten Bekasi. Pandu menjelaskan pendanaan merupakan hasil kerja sama antara Danantara dan sejumlah investor.
Untuk mendukung proyek ini, Danantara telah melelang PSEL tahap awal pada November tahun lalu. Proses lelang tahap selanjutnya akan dibuka sebentar lagi. “Kami akan mencari partner-partner yang terbaik. Sudah hampir 100 lebih yang mendaftar,” ucapnya.
Dalam penandatanganan MoU PSEL dengan 6 pemerintah daerah, Menteri Koordinator Pangan Zulkifli Hasan menyatakan pemerintah menargetkan pembangunan PSEL di 25 lokasi, mencakup 62 kabupaten/kota. Lokasi yang dipilih awal berdasarkan kebutuhan penanganan sampah darurat atau di atas 1.000 ton.
Zulhas menjelaskan langkah tersebut merupakan kerja sama pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan Danantara untuk menyelesaikan masalah sampah perkotaan lebih cepat. Selain untuk mengurangi masalah timbunan, sampah juga dimanfaatkan menjadi energi bersih. “Harus dipercepat menjadi energi bersih, listrik. Tanpa bau dan racun,” ucapnya, Senin, 11 Mei 2026.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·