Amerika Serikat dijadwalkan mengumumkan data Consumer Index Price (CPI) atau inflasi periode April pada Selasa, 12 Mei 2026, waktu setempat. Laporan ekonomi ini menjadi indikator krusial bagi Federal Reserve dalam menentukan kebijakan suku bunga acuan ke depan.
Dilansir dari Money, angka inflasi yang melebihi ekspektasi pasar berpotensi memicu penguatan dollar AS. Kondisi ini dikhawatirkan akan memberikan tekanan hebat terhadap nilai tukar rupiah akibat perpindahan modal dari pasar negara berkembang kembali ke Amerika Serikat.
Para pelaku pasar memproyeksikan inflasi tahunan AS akan menyentuh angka 3,7 persen, atau meningkat dibandingkan periode sebelumnya yang berada di level 3,3 persen. Jika prediksi ini akurat, kenaikan tersebut akan menjadi lonjakan inflasi tahunan terbesar dalam kurun waktu lebih dari 2,5 tahun terakhir.
Sementara itu, inflasi inti atau core CPI diperkirakan akan bertahan di level 2,7 persen secara tahunan. Tingginya angka inflasi ini kemungkinan besar memaksa bank sentral AS untuk mempertahankan tingkat suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama.
Laporan dari Departemen Tenaga Kerja diprediksi menunjukkan percepatan inflasi bulanan akibat eskalasi konflik antara AS-Israel dengan Iran. Ketegangan geopolitik tersebut telah mendongkrak harga minyak mentah dunia yang berdampak langsung pada biaya bensin, solar, serta bahan bakar jet.
Harga minyak sempat meroket melampaui 100 dollar AS per barel pada Maret lalu pasca serangan terhadap Iran, sebelum akhirnya sedikit melandai setelah gencatan senjata di awal April. Namun, kenaikan harga bahan bakar tetap menjadi kontributor utama terhadap peningkatan CPI di tingkat konsumen.
Selain sektor energi, harga pangan juga diproyeksikan mengalami tren kenaikan akibat gangguan pengiriman di Selat Hormuz dan kelangkaan pupuk. Para ekonom meyakini efek berantai dari tingginya biaya energi akan mulai terasa lebih dalam pada bulan-bulan mendatang.
Dampak Politik dan Transisi Kepemimpinan The Fed
Situasi ekonomi ini turut meningkatkan risiko politik bagi Presiden Donald Trump menjelang pemilihan paruh waktu pada November mendatang. Meski memenangkan pemilu 2024 dengan janji menekan inflasi, banyak warga AS kini menyatakan kekecewaan terhadap penanganan kenaikan harga kebutuhan pokok.
Profesor ekonomi Boston College, Brian Bethune, memberikan pandangannya terkait kondisi masyarakat saat ini.
"Mereka pada dasarnya hanya berdiam diri di permukaan, sekarang mereka ditarik ke bawah permukaan. Tidak ada udara untuk bernapas," kata Brian Bethune dikutip dari Reuters, Selasa (12/5/2026).
Data inflasi kali ini juga bertepatan dengan masa transisi kepemimpinan di bank sentral. Jerome Powell akan mengakhiri masa jabatannya sebagai Ketua The Fed pada Jumat, 15 Mei 2026, dengan Kevin Warsh yang dijadwalkan segera menggantikannya melalui pemungutan suara di Senat AS.
Proyeksi Biaya Hidup dan Sektor Perumahan
Sektor kesehatan dan perumahan juga diprediksi menyumbang kenaikan angka inflasi inti. Meskipun Mahkamah Agung AS telah membatalkan kebijakan tarif besar-besaran yang sebelumnya diberlakukan Trump, tekanan harga di tingkat ritel dinilai belum akan mereda sepenuhnya.
Profesor keuangan dan ekonomi Universitas Loyola Marymount, Sung Won Sohn, menekankan bahwa masyarakat kelas pekerja merasakan dampak langsung dari inflasi ini melalui pengeluaran harian mereka.
"Mereka hidup dengan harga bensin yang lebih tinggi, mereka hidup dengan harga bahan makanan yang lebih tinggi, dan mereka terkena dampaknya," ungkap Sung Won Sohn.
Analis dari Wells Fargo mencatat bahwa kenaikan biaya transportasi dan energi akan terus merembet pada harga pangan. Meskipun biaya tempat tinggal diperkirakan melonjak pada April, terdapat ekspektasi perlambatan kembali pada Mei mendatang seiring normalisasi data sewa properti.
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·