Dear Panitia Kurban: Bukan Cuma Asal Potong dan Bagi, Distribusi Daging Kurban Itu Ada “Aturannya”

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Dear Panitia Kurban: Bukan Cuma Asal Potong dan Bagi, Distribusi Daging Kurban Itu Ada “Aturannya”


Hari Raya Iduladha menjadi saat yang ditunggu-tunggu bagi seluruh umat Islam. Momen ini menjadi saat di mana seluruh umat Islam dianjurkan untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT.

Salah satu kegiatan yang sangat identik dengan Iduladha adalah menyembelih hewan kurban. Proses penyembelihan hewan kurban umumnya dilakukan oleh panitia khusus kurban untuk kemudian dagingnya dibagikan kepada masyarakat sekitar.

Namun, di balik euforia penyembelihan hewan kurban, nyatanya masih ada yang abai terhadap keamanan pangan dalam proses distribusi daging kurban. Pasalnya, saat ini masih banyak proses penyembelihan hewan kurban di Indonesia yang menggunakan metode tradisional yang berisiko menimbulkan kontaminasi apabila tidak dilakukan dengan sanitasi dan penanganan yang tepat.

Perhatian Khusus dalam Distribusi Hewan Kurban

Dosen Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Universitas Airlangga (UNAIR), Prof. Dr. Mustofa Helmi Effendi, drh., DTAPH., memaparkan tingginya risiko kontaminasi daging kurban yang bisa terjadi saat proses penyembelihan dan peletakan daging sesaat setelah disembelih.

Dalam keterangannya di unair.ac.id, ia menjelaskan bahwa pemisahan antara daging bersih dan jeroan memerlukan perhatian agar tidak terjadi pencemaran silang. Salah satu hal yang ia soroti adalah terkait daging kurban yang tidak seharusnya diletakkan di tanah dan alas yang memungkinkan adanya kontaminasi.

“Kita harus menyadari bahwa di Indonesia perundang-undangan yang berlaku masih memungkinkan penyembelihan dilakukan di luar rumah potong hewan. Sehingga banyak orang yang tidak mengerti teknik pemotongan, teknik pencacahan, dan teknik pengulitan ikut ambil bagian,” katanya.

Lebih lanjut, ia memaparkan jika praktik distribusi daging kurban di masyarakat masih banyak yang belum memenuhi standar distribusi yang aman. Menurutnya, penggunaan wadah seadanya seperti plastik daur ulang serta proses pembagian yang kurang higenis berpotensi besar untuk meningkatkan kontaminasi.

Ia meminta agar panitia kurban yang terlibat dalam proses penyembelihan hingga distribusi untuk tidak menggunakan wadah yang aman, termasuk dengan tidak menggunakan plastik daur ulang dan plastik berwarna hitam.

Sebagai informasi, disadur dari Badan Pengelola Obat-obatan dan Makanan (BPOM), plastik atau kresek hitam mengandung komponen berbahaya, yakni povinil klorida yang bisa bermigrasi ke makanan. Plastik berwarna hitam sudah mengalami banyak proses daur ulang dan bercampur dengan banyak zat kimia, sehingga sangat berbahaya jika digunakan untuk makanan. Bahkan, efek jangka panjangnya bisa menyebabkan kanker.

“Sebaiknya menggunakan wadah yang tidak mengkontaminasi. Jangan menggunakan plastik hasil daur ulang dan plastik berwarna hitam. Pakailah plastik yang food grade, yang kontaminannya sangat sedikit,” kata Mustofa.

Tak hanya itu, ia juga menyoroti pentingnya penyimpanan daging kurban yang tepat untuk meminimalisir penurunan kualitas daging kurban. Ia mencontohkan agar daging kurban sebaiknya dipotong menjadi bagian kecil sebelum dimasukkan ke dalam lemari pendingin atau freezer.

Konsep Halal Jadi Prioritas

Mustofa menekankan bahwa standar keamanan pangan di Indonesia harus mengacu pada prinsip “ASUH”, yaitu Aman, Sehat, Utuh, dan Halal. Konsep kehalalan menjadi prioritas utama, khususnya dalam proses penyembelihan hewan kurban.

“Jadi kalau kita bicara soal keamanan pangan, kita harus paham betul bahwa di Indonesia keamanan pangan itu dikaitkan dengan daging dengan istilah aman, sehat, utuh, halal. Di sini, yang utama itu adalah kehalalan dulu. Jangan bicara keamanan pangan dulu, karena kita berkaitan dengan hewan-hewan,” ujarnya.

Ia mengimbuhkan, perlu adanya pendampingan dokter hewan dalam proses antemortem dan postmortem untuk memastikan daging agar aman dikonsumsi. Selain itu, masyarakat juga dinilai memerlukan edukasi terkait pemahaman prinsip ASUH ini agar daging kurban tidak hanya memenuhi aspek ibadah, tapi juga menghasilkan produk halal yang aman dan berkualitas.

“Jika konsep ini sudah menjadi bagian dari proses penyelenggaraan ibadah hewan kurban, maka insya Allah daging yang dihasilkan adalah daging yang aman, sehat, utuh, dan halal,” pungkasnya.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News