Kisah netizen protes bakpia isi daging babi viral di media sosial. Faktanya, oleh-oleh khas Jogja tersebut memang asalnya punya isian daging babi. Berikut fakta selengkapnya!
Baru-baru ini isu terkait bakpia isi daging babi sedang ramai menjadi perbincangan di platform Threads. Hal tersebut bermula dari unggahan pemilik akun @narhuya81 yang sempat membuat utas di Threads terkait bakpia daging babi.
"Ya ampun apa lagi ini?? Bakpia isi babi?? Ini seriusan warga Jogja gak ada yang emosi makanan khas mereka dilecehkan gini? Kenapa sih suku yang itu sukanya apa apa dibikin jadi babi. Heran deh," tulisnya dalam unggahan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemilik akun tersebut merasa resah karena menurutnya makanan yang sejak awal sudah halal, sebaiknya tidak diubah menjadi tidak halal.
Unggahannya pun menarik perhatian publik sampai memicu keributan antara pemilik akun @narhuya81 dengan netizen lain. Pasalnya, netizen sudah memberi tahu fakta sejarah jika nama bakpia atau hidangan berawal dari kata 'bak' asal sebenarnya berbahan utama daging babi.
Bakpia kini memang punya isian yang beragam. Rata-rata diisi dengan keju, cokelat, kacang hijau, hingga susu. Namun ada sejarah panjang di balik hidangan bakpia yang seperti sekarang ini.
Berikut fakta sejarah bakpia khas Jogja yang mungkin belum banyak diketahui :
1. Asalnya dari China
Asal mulanya bakpia adalah dari negeri China. Foto: Getty Images/Shofi -
Bakpia mungkin dikenal sebagai oleh-oleh khas kota Jogja. Namun, asalnya tidak dari kota ini.
Bakpia merupakan kuliner Indonesia yang juga merupakan hasil akulturasi budaya dari negara lain. Bakpia sendiri berasal dari China yang dibawa pertama kali ke Jogja oleh pendatang asal China.
Di China, kue ini dinamakan 'Tou Luk Pia'. Istilah bakpia sendiri berasal dari bahasa China dialek Hokkin di mana kata 'bak' artinya daging dan 'pia' artinya kue. Secara harfiah makanan ini pun berarti kue isi daging.
Namun, keterbatakan bahasa dan pelafalan membuat orang setempat di Jogja mengubahnya menjadi bakpia. Selain isian daging, di negara aslinya bakpia punya ukuran lebih besar daripada bakpia pathuk yang kini kita kenal.
2. Awalnya bukan makanan komersial
Berbagai sumber menyebut kalau resep bakpia dibawa oleh imigran China di awal abad ke-20. Lalu bakpia mulai diperkenalkan di Jogja pada tahun 1930-an. Dahulu, orang-orang yang mengolahnya adalah keturunan China di Jogja.
Camilan ini juga awalnya bukan makanan komersial, melainkan makanan tradisi karena hanya diolah dan disajikan ketika perayaan hari besar China. Dulu bakpia juga sering hadir dalam momen perayaan Imlek.
Saat itu juga hanya orang-orang China yang menyantap bakpia karena masyarakat Jogja belum mengenalnya.
3. Dulu isian bakpia adalah daging babi
Dulunya bakpia pun diisi dengan daging babi. Kulitnya juga dibuat dari campuran minyak babi. Foto: Getty Images/iStockphoto/Unwanus
Bakpia yang dikenal saat ini mungkin punya isian seperti cokelat, keju, susu, kacang hijau, ketan hitam, dan lain sebagainya. Padahal, awalnya bakpia diisi dengan daging babi.
Di tahun 1940-an, pertama kali Kwik Sun Kwok memperkenalkan resep bakpia ini. Bakpia buatannya dibuat secara autentik dengan resep asal China.
Dinas Kebudayaan Yogyakarta mencatat bahwa pertama kali bakpia dihindangkan dengan lemak atau minyak babi dan cincangan daging babi. Jadi bagian kulitnya dibuat menggunakan minyak babi untuk menciptakan tekstur renyah dan gurih. Sedangkan isiannya diberi cincangan daging babi.
Namun, karena penduduk Jogja setempat rata-rata beragama Muslim dan tidak mengonsumsi babi, akhirnya bakpia isi babi tidak laku dijual. Sampai akhirnya bakpia berubah menjadi hidangan halal.
4. Bakpia halal mulai diperkenalkan oleh Niti Gurnito
Seiring berjalannya waktu, di Jogja terutama kawasan Pathok, pembuatan bakpia melakukan penyesuaian sesuai dengan mayoritas penduduk setempat yang beragama muslim.
Kwik Sun Kwok mengganti isian daging babi ke kacang hijau. Ternyata bakpia kacang hijau ini disukai banyak orang. Usaha bakpia milik Kwik Sun Kwok pun kemudian dilirik oleh Niti Gurnito yang saat itu menyewakan lahan usahanya ke imigran China tersebut.
Akhirnya dibuatlah bakpia Niti Gurnito yang ukurannya lebih kecil dengan lapisan kulit tebal dan diisi dengan kacang hijau. Bakpia ini kemudian dijajakan keliling menggunakan pikulan kayu.
Pada tahun sekitar 1980-an, modifikasi isian kacang hijau menjadi populer. Sampai banyak masyarakat setempat ikut membuat dan menjual bakpia kacang hijau ini.
Bahkan, Liem Bok Sing sahabat Kwik Sun Kwok yang biasa menyuplai arang pun ikut membuat bakpia. Usaha Liem berkembang pesat dengan bakpia versinya yang kulitnya lebih tipis dengan permukaan kecokelatan dan lebih lembut.
5. Inovasi bakpia
Seiring berjalannya waktu, isian bakpia mulai beragam. Mulai dari keju, susu, hingga matcha green tea. Foto: Instagram / iStock
Mulai 1980-an, bakpia telah mengalami metamorfosis resep sampai menjadi makanan khas Jogja.
Bakpia khas Jogja pun dikenal dengan penyajiannya yang menggunakan kulit tipis, diisi dengan kacang hijau, keju, cokelat, dan berbagai rasa lain. Dalam pembuatannya, bakpia dipanggang dengan suhu mencapai 180 derajat celcius selama 20-25 menit.
Seiring berjalannya waktu, camilan tradisional ini mengalami inovasi unik. Kini banyak bakpia isi topping kekinian, seperti kit-kat, green tea, red velvet, hingga kopi.
Ada juga kreasi bakpia kukus yang populer menjadi oleh-oleh asal Jogja. Tetapi bakpia satu ini punya konsep berbeda karena pakai adonan kue kukus diisi dengan cokelat, keju, atau kacang hijau. Teksturnya juga lebih lembut dan lembap daripada bakpia aslinya.
Simak Video "Main ke Malioboro, IShowSpeed Sempat Cicipi Jamu dan Bakpia"
[Gambas:Video 20detik]
(aqr/adr)
3 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·