"Bisa jadi kepala negara perlu hadir agar diskusi yang sifatnya strategis perlu dibuka dahulu oleh Kepala Negara. Baru lah perjanjian yang lain menyusul," ujar Rico kepada RMOL di Jakarta, Jumat, 24 April 2026.
Mantan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia (BEM UI) ini memandang, kelangkaan energi yang disebabkan pembatasan lintasan Selat Hormuz menjadi problem besar di banyak negara, termasuk Indonesia.
"Apalagi semenjak Donald Trump menjadi Presiden Amerika, tatanan global termasuk di dalamnya urusan aliansi, struktur politik ekonomi internasional, jadi goncang dan semakin tidak jelas," ungkap dia.
Menurutnya, Trump telah merusak fungsi-fungsi struktur dan aturan internasional, mengingat sikapnya terhadap kawan aliansi semakin tidak jelas karena kecongkakannya melawan Iran.
"Contohnya, Trump sering pojokkan Uni Eropa dan NATO secara terbuka. Termasuk di dalam itu adalah soal jual beli energi," tutur Rico.
"Tiba-tiba Amerika angkat sanksi soal jual beli energi dari Rusia. Ini kan justru bingungkan negara Eropa yang memihak Ukraina," tambahnya.
Melihat situasi dan kondisi geopolitik global yang runyam itu, Rico memandang banyak turunan hal penting dalam kebijakan teknis yang perlu dinegosiasikan ulang.
"Dan understanding dalam level kepala negara," tegasnya. 
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·