PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Harga sejumlah Barang Kebutuhan Pokok (Bapok) terpantau beberapa masih berada di angka yang cukup tinggi. Komoditas yang menjadi sorotan dan keluhan masyarakat di antaranya seperti minyak goreng, beras, telur, cabai, hingga bawang.
Menanggapi fenomena ini, Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Kadisdagperin) Kalteng, Norhani membeberkan bahwa kenaikan harga bapok sangat dipengaruhi oleh faktor logistik.
“Kebijakan penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi sedikit banyak sangat berpengaruh pada kenaikan harga barang kebutuhan pokok. Hal ini secara langsung disebabkan karena bertambahnya biaya operasional dan distribusi barang dari pusat ke daerah,” jelas Norhani dalam keterangannya, Minggu (26/4/26).
Dalam rangka menjaga stabilisasi harga dan mengendalikan inflasi daerah, Norhani menegaskan bahwa Disdagperin terus memperkuat koordinasi dan kolaborasi dengan dinas yang membidangi perdagangan di seluruh kabupaten dan kota se-Kalteng.
“Tim gabungan ini secara rutin turun ke lapangan untuk melakukan pemantauan harga di berbagai pasar pantauan,”ujarnya.
Sebagai alternatif penanganan dan wujud nyata kehadiran pemerintah, Disdagperin tidak hanya melakukan pemantauan pasif. Norhani memaparkan bahwa pihaknya telah menyiapkan intervensi pasar agar masyarakat tetap bisa menjangkau bahan pangan.
“Untuk mengantisipasi lonjakan harga yang lebih tinggi dan mempertahankan daya beli masyarakat, Pemprov telah menyiapkan dan terus melaksanakan beberapa program seperti Gerakan Pangan Murah, Operasi Pasar, dan Pasar Penyeimbang. Kami harap program ini bisa meringankan beban masyarakat,” pungkasnya. (her)
PALANGKA RAYA, PROKALTENG.CO – Harga sejumlah Barang Kebutuhan Pokok (Bapok) terpantau beberapa masih berada di angka yang cukup tinggi. Komoditas yang menjadi sorotan dan keluhan masyarakat di antaranya seperti minyak goreng, beras, telur, cabai, hingga bawang.
Menanggapi fenomena ini, Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Kadisdagperin) Kalteng, Norhani membeberkan bahwa kenaikan harga bapok sangat dipengaruhi oleh faktor logistik.
“Kebijakan penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi sedikit banyak sangat berpengaruh pada kenaikan harga barang kebutuhan pokok. Hal ini secara langsung disebabkan karena bertambahnya biaya operasional dan distribusi barang dari pusat ke daerah,” jelas Norhani dalam keterangannya, Minggu (26/4/26).

Dalam rangka menjaga stabilisasi harga dan mengendalikan inflasi daerah, Norhani menegaskan bahwa Disdagperin terus memperkuat koordinasi dan kolaborasi dengan dinas yang membidangi perdagangan di seluruh kabupaten dan kota se-Kalteng.
“Tim gabungan ini secara rutin turun ke lapangan untuk melakukan pemantauan harga di berbagai pasar pantauan,”ujarnya.
Sebagai alternatif penanganan dan wujud nyata kehadiran pemerintah, Disdagperin tidak hanya melakukan pemantauan pasif. Norhani memaparkan bahwa pihaknya telah menyiapkan intervensi pasar agar masyarakat tetap bisa menjangkau bahan pangan.
“Untuk mengantisipasi lonjakan harga yang lebih tinggi dan mempertahankan daya beli masyarakat, Pemprov telah menyiapkan dan terus melaksanakan beberapa program seperti Gerakan Pangan Murah, Operasi Pasar, dan Pasar Penyeimbang. Kami harap program ini bisa meringankan beban masyarakat,” pungkasnya. (her)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·