Donald Trump Klaim Minyak Venezuela Tutupi Biaya Perang Melawan Iran

Sedang Trending 39 menit yang lalu

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim bahwa Washington telah mengekstraksi minyak dalam jumlah besar dari Venezuela untuk mendanai biaya perang melawan Iran. Pernyataan tersebut disampaikan Trump saat berpidato dalam kunjungan di negara bagian New York pada Jumat, 22 Mei waktu setempat, seperti dilansir dari Detikcom.

Klaim sepihak mengenai pemanfaatan komoditas energi tersebut dilontarkan Trump di tengah sorotan publik terhadap membengkaknya anggaran militer negara. Dalam pidatonya, ia mengungkit pandangan dunia terhadap keputusannya menyerang kedua negara tersebut.

"Bagaimana kinerja kita di Venezuela? Tidak buruk. Kita telah mengekstraksi begitu banyak minyak di Venezuela, sehingga biaya perang (melawan Iran) telah tertutupi sekitar 25 kali lipat," ungkap Trump, Presiden Amerika Serikat.

Trump tidak memberikan rincian lebih lanjut mengenai mekanisme penutupan biaya operasional militer tersebut. Di sisi lain, belum ada pernyataan resmi dari pihak Gedung Putih maupun Pentagon untuk menanggapi pernyataan terbaru sang presiden.

Pentagon melaporkan bahwa ongkos perang melawan Iran kini membengkak mendekati 29 miliar dolar AS atau setara Rp 513,2 triliun. Lonjakan biaya konflik yang melibatkan AS dan Israel melawan Iran sejak akhir Februari lalu ini memicu pengawasan domestik yang ketat.

Menteri Pertahanan Pete Hegseth bersama sejumlah pejabat pertahanan bahkan sempat dicecar oleh anggota parlemen dalam rapat anggaran awal Mei. Pemerintahan Trump saat itu tengah mengajukan usulan anggaran pertahanan tahun 2027 sebesar 1,5 triliun dolar AS.

Konfrontasi militer di Timur Tengah sendiri dilaporkan mereda sejak kesepakatan gencatan senjata pada awal April. Sesi perundingan damai selanjutnya yang dimediasi oleh Pakistan diuji oleh sikap keras kedua belah pihak sehingga gagal mencapai kesepakatan permanen.

Sejumlah media penyiaran Amerika Serikat kini melaporkan adanya opsi peluncuran operasi militer baru terhadap Iran. Posisi Trump dikabarkan mulai bergeser dari jalur diplomasi ke arah perintah serangan udara baru akibat kebuntuan negosiasi.

"semakin frustrasi tentang negosiasi dengan Iran dalam beberapa hari terakhir," kata sumber anonim, seperti dikutip dalam laporan Axios.