Di tengah arus banjir informasi digital saat ini, ponsel bukan lagi sekadar alat komunikasi. Ia telah menjelma menjadi ruang tempat manusia berjumpa dengan dunia—sekaligus dengan kecemasannya sendiri. Setiap pagi dimulai dengan notifikasi, setiap malam diakhiri dengan layar yang masih menyala. Di antara dua waktu itu, manusia modern melakukan satu kebiasaan yang tampak sepele, tetapi menyimpan konsekuensi besar: menggulir tanpa henti.
Doomscrolling adalah kebiasaan terus-menerus membaca atau menelusuri berita buruk atau konten negatif di internet (biasanya di media sosial atau situs berita), sering kali tanpa henti dan sulit untuk berhenti. Doomscrolling lahir dari situasi ini. Ia bukan sekadar aktivitas melihat berita, melainkan pola konsumsi informasi yang repetitif, emosional, dan sering kali tidak terkendali. Yang dicari bukan lagi sekadar informasi baru, tetapi sensasi memastikan bahwa dunia masih berada dalam kondisi yang sama—penuh krisis, penuh ketidakpastian.
Di titik ini, batas antara kebutuhan untuk tahu dan dorongan untuk cemas menjadi kabur. Informasi tidak lagi membebaskan, melainkan justru mengurung kesadaran dalam lingkaran kecemasan yang berulang.
Realitas yang Dipadatkan: Dunia dalam Versi yang Lebih Gelap
Di era digital, realitas tidak hadir begitu saja; ia dibentuk melalui arus informasi yang terus mengalir. Dalam perspektif Konstruksionisme Sosial, apa yang dianggap nyata oleh masyarakat adalah hasil dari proses konstruksi yang berlangsung terus-menerus. Doomscrolling mempercepat proses ini—dan sekaligus mendistorsinya.
Berita tentang konflik, bencana, dan krisis ekonomi hadir dalam intensitas yang nyaris tanpa jeda. Peristiwa yang secara geografis jauh menjadi terasa dekat. Yang seharusnya sporadis tampak seolah-olah konstan. Dalam kondisi ini, persepsi manusia terhadap dunia mengalami pergeseran: dari dunia yang kompleks menjadi dunia yang tampak seragam dalam nuansa gelap.
Masalahnya bukan pada fakta, melainkan pada komposisinya. Ketika sisi negatif lebih dominan tampil, realitas menjadi tidak proporsional. Publik tidak hanya mengetahui lebih banyak, tetapi juga merasakan lebih banyak ketakutan daripada yang seharusnya.
Algoritma dan Ekonomi Ketakutan
Di balik layar yang tampak netral, bekerja sistem yang tidak sepenuhnya transparan. Platform digital beroperasi dalam logika ekonomi perhatian—sebuah mekanisme di mana waktu pengguna menjadi komoditas utama. Dalam sistem ini, perhatian harus dipertahankan selama mungkin, dan emosi menjadi alat yang paling efektif untuk mencapainya.
Konten yang memicu kemarahan, kecemasan, atau keterkejutan terbukti lebih menarik perhatian dibandingkan konten yang netral atau positif. Dengan demikian, algoritma cenderung mengutamakan konten semacam itu. Tanpa disadari, pengguna diarahkan untuk terus berhadapan dengan informasi yang memicu reaksi emosional.
Doomscrolling, dalam konteks ini, bukan sekadar kelemahan individu, melainkan konsekuensi dari desain sistem. Ketakutan tidak hanya menjadi efek samping, tetapi juga bagian dari mekanisme yang menjaga keterlibatan pengguna. Informasi dan emosi berkelindan dalam hubungan yang tidak lagi sepenuhnya sehat.
Psikologi Ketertarikan pada Hal Buruk
Mengapa manusia tetap bertahan dalam arus informasi yang membuatnya cemas? Jawabannya tidak bisa dilepaskan dari cara kerja pikiran itu sendiri. Manusia memiliki kecenderungan alami untuk lebih memperhatikan informasi negatif, sebuah mekanisme yang dikenal sebagai negativity bias.
Dalam konteks evolusi, kecenderungan ini berfungsi untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman. Namun, dalam dunia digital yang dipenuhi informasi tanpa batas, mekanisme ini justru menjadi bumerang. Ancaman tidak lagi terbatas pada pengalaman langsung, melainkan hadir dalam bentuk narasi yang terus berulang.
Akibatnya, pikiran manusia berada dalam kondisi siaga yang berkepanjangan. Kecemasan menjadi latar belakang yang konstan. Doomscrolling kemudian tampil sebagai respons paradoks: upaya untuk memahami dunia yang justru memperkuat rasa tidak tenang terhadapnya.
Relasi Sosial di Tengah Arus Informasi
Dampak doomscrolling tidak berhenti pada individu. Ia merembes ke dalam pola interaksi sosial. Dalam kerangka Interaksionisme Simbolik, interaksi manusia dibangun melalui pertukaran makna. Ketika makna yang dominan adalah krisis dan ancaman, maka interaksi pun berubah.
Percakapan publik menjadi lebih reaktif. Perbedaan pendapat mudah berubah menjadi konflik. Ruang diskusi yang seharusnya menjadi tempat pertukaran gagasan justru kerap menjelma menjadi arena pertarungan opini. Intensitas meningkat, tetapi kedalaman menurun.
Di sisi lain, waktu yang dihabiskan untuk menggulir layar mengurangi ruang bagi interaksi langsung. Kehadiran fisik tidak selalu diikuti oleh kehadiran emosional. Masyarakat menjadi semakin terhubung secara teknis, tetapi tidak selalu semakin dekat secara sosial.
Dampak Lintas Generasi: Dari Adaptasi hingga Kerentanan
Fenomena doomscrolling melintasi batas generasi, tetapi dampaknya tidak seragam. Baby Boomer, yang tumbuh dalam era informasi terbatas, kerap mengalami kesulitan memilah arus digital. Doomscrolling bagi mereka sering berujung pada kecemasan dan kerentanan terhadap informasi yang tidak terverifikasi. Generasi X, sebagai generasi transisi, menghadapi tekanan ganda antara adaptasi digital dan tanggung jawab hidup. Doomscrolling hadir sebagai kebiasaan tersembunyi yang memperdalam kekhawatiran tentang stabilitas ekonomi dan keluarga.
Milenial relatif lebih adaptif, tetapi rentan terhadap kelelahan informasi. Mereka terus terhubung, namun sering kali mengalami kejenuhan mental dan relasi sosial yang kurang mendalam. Zilenial hidup dalam percepatan teknologi yang intens. Doomscrolling bagi mereka tidak hanya soal informasi, tetapi juga identitas—dipengaruhi oleh arus perbandingan sosial dan tekanan untuk selalu relevan.
Generasi Z tumbuh sepenuhnya dalam dunia digital. Paparan isu global sejak dini membentuk kesadaran sosial yang tinggi, tetapi juga memicu kecemasan dan kelelahan emosional lebih awal. Sementara itu, Generasi Alpha menghadapi risiko yang lebih mendasar: paparan layar sejak usia dini berpotensi memengaruhi perkembangan kognitif dan sosial mereka.
Dari seluruh generasi ini, terlihat satu pola yang konsisten: dunia yang sama dihadapi dengan cara yang berbeda, tetapi menghasilkan satu pengalaman yang serupa—kelelahan. Kelelahan karena terlalu banyak mengetahui, tetapi terlalu sedikit mengendalikan.
Menegosiasikan Kendali di Era Tanpa Henti
Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: apakah manusia masih memiliki kendali atas konsumsi informasinya? Di satu sisi, pilihan untuk berhenti selalu ada. Di sisi lain, sistem digital dirancang untuk membuat berhenti menjadi sulit.
Mengelola doomscrolling tidak cukup dengan seruan moral tentang disiplin diri. Ia memerlukan kesadaran akan bagaimana sistem bekerja, serta kemampuan untuk mengambil jarak dari arus informasi. Literasi digital, dalam hal ini, tidak lagi sekadar kemampuan mengakses informasi, tetapi juga kemampuan untuk mengelolanya secara kritis.
Mengurangi doomscrolling bukan berarti menutup diri dari dunia, melainkan memulihkan keseimbangan antara mengetahui dan merasakan. Tanpa keseimbangan itu, informasi justru akan menggerus kapasitas manusia untuk berpikir jernih dan bertindak rasional.
Belajar Membatasi di Tengah Kelimpahan
Doomscrolling adalah cermin dari zaman yang ditandai oleh kelimpahan informasi dan keterbatasan perhatian. Ia menunjukkan bahwa akses tanpa batas tidak selalu membawa kebebasan, dan bahwa pengetahuan yang berlebihan dapat berujung pada kebingungan.
Di tengah arus yang tidak pernah berhenti, kemampuan paling penting mungkin bukan lagi kecepatan dalam mengetahui, melainkan keberanian untuk membatasi. Membatasi waktu, membatasi paparan, dan pada akhirnya membatasi dampak emosional dari informasi yang dikonsumsi.
Karena pada akhirnya, menjaga kewarasan di era digital bukan hanya soal apa yang kita ketahui, tetapi juga tentang apa yang kita pilih untuk tidak terus-menerus kita lihat.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·