DPR Minta Pemerintah dan Bank Indonesia Stabilkan Rupiah

Sedang Trending 3 hari yang lalu

Anggota Komisi XI DPR RI Marwan Cik Asan mendesak pemerintah bersama Bank Indonesia untuk segera mengambil langkah terukur guna mengatasi pelemahan nilai tukar rupiah. Berdasarkan laporan dari Kompas, mata uang rupiah tertekan hingga menembus angka Rp17.600 per dolar AS pada Jumat (15/5/2026).

Kondisi ini dipicu oleh kombinasi tekanan eksternal serta domestik secara simultan. Marwan mengingatkan agar volatilitas kurs yang tinggi ini tidak dianggap remeh karena berisiko memicu inflasi impor, meningkatkan beban utang luar negeri, serta mengganggu daya beli masyarakat.

"Karena itu, respons kebijakan harus dilakukan secara terukur, terkoordinasi, dan tidak sekadar berorientasi jangka pendek," ujar Marwan Cik Asan, Anggota Komisi XI DPR RI.

Guna meredam gejolak tersebut, Marwan menyarankan agar Bank Indonesia melanjutkan intervensi selektif di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), maupun pasar offshore. Kendati demikian, ia mengingatkan agar kebijakan tersebut memperhitungkan ketahanan cadangan devisa negara.

"Dalam situasi tekanan pasar, persepsi sering kali lebih menentukan dibanding data fundamental itu sendiri. Karena itu, forward guidance yang jelas menjadi sangat penting untuk meredam spekulasi," ujar Marwan Cik Asan, Anggota Komisi XI DPR RI.

Marwan juga menyoroti pentingnya kehati-hatian dalam menerapkan pembatasan pembelian dolar AS tanpa underlying transaction agar tidak memicu kepanikan baru. Selain itu, ia mendorong pengetatan pengawasan repatriasi devisa hasil ekspor sumber daya alam (DHE SDA) yang masih banyak disimpan di luar negeri.

"Kebijakan DHE harus konsisten, tidak berubah-ubah, dan memberikan kepastian hukum agar pelaku usaha tetap percaya," ujar Marwan Cik Asan, Anggota Komisi XI DPR RI.

Menurut Marwan, ketergantungan terhadap dolar AS dalam perdagangan internasional juga dapat dikurangi melalui perluasan skema Local Currency Settlement (LCS) dengan China, Jepang, dan India. Ia menegaskan bahwa tanggung jawab stabilitas mata uang tidak boleh hanya dibebankan kepada Bank Indonesia saja.

"Tantangan terbesar Indonesia saat ini bukan hanya tekanan global, tetapi bagaimana menjaga konsistensi kebijakan dan membangun kepercayaan pasar," ujar Marwan Cik Asan, Anggota Komisi XI DPR RI.

Terkait instrumen moneter, Marwan menilai penyesuaian suku bunga acuan secara bertahap dan berbasis data merupakan pilihan rasional untuk mencegah arus modal keluar. Langkah tersebut dinilai perlu guna menjaga keseimbangan antara stabilitas nilai tukar dan pertumbuhan ekonomi domestik.

"Stabilisasi jangka pendek memang penting untuk meredam gejolak, tetapi solusi permanen hanya dapat dicapai melalui penguatan fundamental ekonomi, reformasi struktural, disiplin fiskal, serta kepastian kebijakan yang kredibel," tutur Marwan Cik Asan, Anggota Komisi XI DPR RI.