Contoh paling sinematik datang dari kisah di Agrinas Pangan Nusantara, dengan Direktur Utama, Joao Angelo de Sousa Mota. Merasa tak ada kerja, ia memilih mundur.
Sempat saya kasih gelar, “Bapak Mundur Indonesia.” Eh..beberapa bulan kemudian, ia masih menjabat direktur utama. Sekarang malah sibuk ngurus KDMP dan impor pikap India.
Lalu muncullah episode terbaru dari serial panjang “Mundur Itu Seni,” dibintangi oleh Ade Armando.
Dengan suara serius dan ekspresi “ini bukan prank, sumpah” menyatakan mundur dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI).
Katanya demi kebaikan bersama. Kalimat yang di telinga publik terdengar seperti, “tenang, ini demi semua,” tapi di hati kecil rakyat, “ini bakal ada season 2 nggak sih?”
Ade mundur bukan karena kehabisan kopi atau kuota internet, tapi karena polemik video ceramah Jusuf Kalla yang dipotong seperti kue ulang tahun tapi lupa dibagi rata.
Potongan itu lalu berubah jadi badai. Badai di negeri ini punya kebiasaan unik. Bukan cuma menerbangkan daun, tapi juga menyeret partai, tokoh, bahkan tetangga sebelah yang cuma lewat.
Dengan penuh penegasan, Ade bilang ini kerja jurnalistik pribadinya di Cokro TV, bukan titipan partai.
PSI disebut tidak tahu-menahu. Kalau dianalogikan, seperti orang tua yang baru sadar anaknya ikut lomba debat nasional setelah sudah masuk final. Tidak ada briefing, tidak ada restu, tahu-tahu sudah viral dan semua orang ikut nimbrung.
Lalu datanglah tekanan dari berbagai arah. Termasuk laporan dari puluhan ormas yang membuat suasana makin mirip konser rock tanpa panitia.
Di titik inilah Ade memilih mundur. Sebuah langkah yang, di atas kertas, terlihat elegan. Tapi publik kita sudah terlalu kenyang dengan drama untuk langsung percaya.
Karena pengalaman mengajarkan, “mundur” di sini kadang bukan gerakan menjauh, tapi sekadar geser posisi kamera.
Yang bikin cerita ini makin kaya rasa adalah flashback ke tahun 2022. Ini semacam prekuel yang tidak kalah seru.
Waktu itu, Ade Armando sempat ditetapkan sebagai tersangka oleh Polda Metro Jaya dalam kasus dugaan ujaran kebencian terkait agama berdasarkan UU ITE.
Konteksnya klasik. Kritik terhadap kelompok Islam konservatif. Di negeri ini efeknya bisa seperti menyalakan petasan di dalam lemari pakaian. Kecil, tapi dampaknya ke mana-mana.
Kasus itu sempat ramai. Headline di mana-mana. Netizen berdebat seperti komentator bola yang tidak pernah salah.
Tapi kemudian… ya begitu. Tidak berlanjut ke tahap penahanan. Menguap pelan-pelan, seperti janji diet yang hanya bertahan sampai lihat gorengan.
Publik pun belajar satu hal penting. Di negeri ini, tidak semua yang meledak akan benar-benar meletus.
Maka ketika Ade sekarang bilang mundur, publik otomatis membuka folder lama di otak mereka, “ini yang dulu itu ya?”
Bukan untuk menghakimi, tapi karena memori kolektif kita sudah seperti Google Drive, semua tersimpan, tinggal diketik sedikit langsung muncul.
Di sisi lain, keputusan mundur ini tetap menarik. Ada nuansa tanggung jawab, ada aroma strategi, ada juga sentuhan “biar partai tidak ikut kebakar.”
PSI menerima dengan lapang dada, seperti tuan rumah yang melepas tamu yang tanpa sengaja menjatuhkan vas bunga tapi tetap disalami dengan sopan.
Namun yang paling absurd dari semuanya adalah bagaimana publik menyikapinya. Tidak lagi kaget, tidak lagi marah berlebihan, tapi lebih ke mode standby, menonton, mencatat, lalu menunggu.
Karena di negeri ini, pengunduran diri bukan akhir cerita. Itu baru jeda iklan.
So, apakah ini benar-benar mundur? Atau sekadar mundur satu langkah untuk maju dua langkah di episode berikutnya?
Tidak ada yang tahu. Yang jelas, rakyat sudah siap dengan Koptagul. Karena kalau ada satu hal yang pasti, drama belum selesai.
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·