SETELAH menuai antusiasme pada penayangan sebelumnya, ArtSwara kembali menghadirkan drama musikal Mar yang akan dipentaskan pada 15–17 Mei 2026 di Ciputra Artpreneur, Kuningan, Jakarta Selatan. Pertunjukan ini menjadi jawaban bagi penonton yang belum sempat menyaksikan, sekaligus upaya mengeksplorasi lebih dalam kisah yang masih menyimpan banyak potensi.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Kembalinya Mar juga semakin diperkuat dengan capaian sebelumnya yang berhasil meraih penghargaan dari Anugerah Musik Indonesia (AMI Awards), sebagai bentuk pengakuan atas kualitas produksi musikal yang dihadirkan.
Executive Producer ArtSwara sekaligus sutradara Mar 2026, Maera Panigoro, mengungkapkan bahwa keputusan menghadirkan kembali pertunjukan ini tidak lepas dari respons publik. “Banyak yang tulis enggak bisa hadir, enggak bisa datang, dan itu jadi salah satu alasan kenapa kami menghadirkan kembali. Ini juga menjawab teman-teman yang belum sempat nonton tahun lalu dan ingin menyaksikannya di tahun ini,” ujar Maera dalam konferensi pers di Jakarta Selatan pada Sabtu, 2 Mei 2026.
ArtSwara sendiri merupakan rumah produksi yang telah berkembang sejak 2009. Mereka konsisten melahirkan karya-karya musikal yang mengangkat nilai budaya serta sejarah Indonesia dalam balutan pertunjukan modern.
Berlatar Bandung Lautan Api 1946
Dalam Mar, penonton tidak hanya disuguhkan kisah romantis, tetapi juga diajak menyelami sejarah. Cerita dibuka dari percakapan antara Nin Aryati di masa tua dengan cucunya, Mara, tentang sosok Marzuki. Dari sana, alur bergerak melalui kilas balik yang membawa penonton ke masa lalu.
Latar peristiwa Bandung Lautan Api tahun 1946 menjadi panggung utama, menghadirkan kisah cinta antara Mar dan Aryati di tengah situasi perang yang penuh gejolak.
Co-sutradara Rusmedie Agus atau yang akrab disapa Mas Memed menilai kekuatan Mar terletak pada perpaduan dua bentuk cinta yang diangkat dalam cerita. “Ada dua cinta besar di dalam Mar. Yang pertama adalah cinta terhadap bangsa, yang ditunjukkan lewat pengorbanan masyarakat Bandung. Yang kedua adalah cinta personal—antara seorang tentara dan seorang perempuan di tengah situasi perang,” tuturnya.
Menurutnya, kombinasi antara sejarah dan emosi personal membuat cerita Mar terasa dekat sekaligus relevan bagi penonton masa kini.
Pembaruan Musikal Mar
Dari sisi produksi, Maera menegaskan bahwa kualitas pertunjukan tetap menjadi prioritas utama. Ia mengaku tidak menerapkan strategi khusus selain mempercayakan produksi kepada para profesional di bidangnya. “Kalau itu sih enggak ada ya. Saya pakai profesional-profesional yang tahu betul bagaimana menjadi seorang aktor. Yang berubah mungkin sedikit dari strategi marketingnya,” ujarnya.
Pada versi terbaru ini, Mar menghadirkan sejumlah pembaruan, baik dari sisi teknis panggung, set, maupun pendekatan artistik. Selain itu, terdapat juga penambahan pemain baru yang memperkaya dinamika cerita.
Salah satu wajah baru yang bergabung adalah aktor Tanta Ginting. Kehadirannya melengkapi jajaran pemain lama, termasuk Gabriel Harvianto yang kembali memerankan tokoh Mar, serta Galabby Thahira sebagai Aryati.
Persiapan Para Pemeran
Bagi Galabby, kembali memerankan karakter Aryati tidak menjadi tantangan yang berat. Namun tetap membutuhkan penyesuaian, terutama dari sisi fisik dan teknis panggung. “Untuk stamina, saya biasanya treadmill sambil nyanyi. Itu selalu saya lakukan kalau lagi persiapan musikal,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa tantangan utama saat ini lebih pada adaptasi dengan perubahan blocking dan set panggung yang baru dibandingkan tahun sebelumnya.
Selain menghadirkan kisah sejarah dan cinta, Mar juga memiliki makna yang lebih personal bagi sang sutradara. Dalam sesi tanya jawab, Maera menyebut pertunjukan ini sebagai sebuah “surat cinta”. “Kalau ini surat cinta, ini untuk orang tua saya,” ungkapnya.
Sementara itu, bagi para pemain dan tim produksi, Mar juga dimaknai sebagai surat cinta yang lebih luas untuk keluarga, para pahlawan, serta penonton yang menjadi bagian dari perjalanan cerita ini.
Co-sutradara Rusmedie Agus berharap pertunjukan ini mampu memberikan pengalaman emosional yang mendalam bagi penonton. “Saya berharap penonton bisa merasakan haru, bangga, dan keyakinan bahwa cinta itu memang layak diperjuangkan,” tuturnya.
Dengan durasi hampir tiga jam, Mar tidak hanya menawarkan pertunjukan musikal, tetapi juga pengalaman yang mengajak penonton menyelami sejarah, emosi, dan makna pengorbanan dalam satu panggung yang utuh. Tiket dijual mulai dari Rp 150 ribu hingga Rp 500 ribu di artswara.co.id.
GHAEIZA KAY RASUFFI
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·