Masyarakat di berbagai belahan dunia merayakan Hari Ibu Internasional pada Minggu, 10 Mei 2026, sebagai bentuk penghormatan atas pengabdian dan kasih sayang perempuan dalam keluarga. Peringatan tahunan ini tidak hanya sekadar perayaan seremonial, melainkan momentum untuk mengakui kekuatan serta pengorbanan yang membentuk kehidupan setiap manusia.
Sejarah perayaan ini berakar dari tradisi Yunani dan Romawi kuno yang menghormati dewi-dewi ibu, serta tradisi "Mothering Sunday" di Inggris. Versi modern perayaan ini diprakarsai oleh Anna Jarvis di Amerika Serikat guna menghormati ibunya yang wafat pada 1905, hingga Presiden Woodrow Wilson meresmikannya pada 1914.
Budaya modern sering kali menciptakan citra ibu yang tidak realistis dengan ekspektasi tinggi yang membebani perempuan. Rachel Chrastil dalam bukunya memberikan sudut pandang bahwa nilai seorang perempuan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan biologis untuk melahirkan, melainkan juga peran mereka dalam mengasuh komunitas dan nilai-nilai kemanusiaan.
"How to Be Childless" tulis Rachel Chrastil, mengingatkan masyarakat bahwa perempuan tanpa anak juga menjalani kehidupan yang bermakna dan memberi kehidupan.
Penulis menekankan bahwa dunia membutuhkan segala bentuk kepedulian dan kemurahan hati, di mana semangat keibuan mengajarkan kesabaran serta tanggung jawab. Menjadi bersifat keibuan berarti melihat keindahan tersembunyi dalam diri orang lain dan membantu hal tersebut tumbuh berkembang.
Mendiang St. Óscar Arnulfo Romero pernah membahas konsep pengorbanan harian yang dilakukan oleh para ibu. Ia menjelaskan bahwa memberikan hidup tidak selalu berarti pengorbanan yang dramatis, melainkan pemberian diri secara perlahan dan sunyi setiap hari.
"Maternal martyrdom" tutur St. Óscar Arnulfo Romero.
Pernyataan ini merujuk pada realitas ibu yang terus mengasuh, memberi makan, menunggu, dan mencintai tanpa mengharapkan tepuk tangan dunia. Sebagian besar momen keibuan terjadi dalam keheningan yang tidak terlihat oleh publik namun menjadi fondasi kemanusiaan yang kuat.
"Mothers are the strongest antidote to the spread of selfish individualism" kata Paus Fransiskus.
Paus menegaskan bahwa tanpa ibu, masyarakat akan menjadi sangat tidak manusiawi karena dari ibulah anak-anak belajar mencintai, percaya, dan peduli. Iman sering kali pertama kali masuk ke dalam kehidupan seorang anak melalui suara ibu, seperti doa sebelum tidur atau gerakan tangan saat berdoa.
"O God, grant our mothers a little more life!" tulis kutipan penutup dalam laporan rvasia.org.
Peringatan ini menjadi momen refleksi untuk berterima kasih kepada para ibu, nenek, pengasuh, hingga ibu angkat. Hadiah yang paling berarti bagi mereka bukan sekadar materi, melainkan kehadiran, kesediaan untuk mendengar, serta rasa terima kasih yang tulus.
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·