Jakarta (ANTARA) - Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Aviliani menilai program hilirisasi perlu diarahkan lebih jauh ke industri turunannya agar nilai tambah komoditas Indonesia lebih besar lagi.
"Nilai tambah terbesar bukan di tambang, tetapi di industri turunannya," kata Aviliani di Jakarta, Selasa.
Menurut dia, hilirisasi perlu masuk ke rantai nilai yang lebih dalam, seperti manufaktur lanjutan, petrokimia, industri hijau, baterai, industri turunan mineral, hingga ekosistem industri hilir.
Dalam paparannya, produk olahan mineral disebut memiliki nilai tambah 10 sampai 20 kali lebih tinggi dibandingkan bahan mentah.
Aviliani menilai Indonesia memiliki momentum besar untuk memperkuat hilirisasi karena menguasai sekitar 60 persen produksi nikel dunia.
Selain itu, pemerintah menargetkan investasi hilirisasi mencapai Rp3.800 triliun untuk komoditas prioritas, antara lain nikel, tembaga, bauksit, dan timah.
Namun, Aviliani mengingatkan hilirisasi perlu didukung kesiapan infrastruktur, energi, teknologi, sumber daya manusia, dan kepastian pasar.
"Berilah iklim yang kondusif kepada swasta karena itu akan mendukung pertumbuhan ekonomi dari sisi investasi," ujarnya.
Tanpa dukungan tersebut, hilirisasi berisiko berhenti pada tahap pemurnian atau refining dan belum menghasilkan nilai tambah optimal bagi perekonomian nasional.
Dalam paparannya, risiko yang perlu dihindari adalah terjebak pada resource nationalism tanpa industrial deepening.
Artinya, penguatan nilai tambah tidak cukup hanya dilakukan dengan mengolah bahan mentah, tetapi juga harus membangun industri lanjutan yang mampu menyerap teknologi, menciptakan pekerjaan berkualitas, dan memperkuat daya saing nasional.
Aviliani menilai tujuan akhir hilirisasi harus diarahkan untuk membangun basis manufaktur, meningkatkan transfer teknologi, memperkuat ekspor bernilai tambah, serta menciptakan lapangan kerja berkualitas.
Badan Pusat Statistik (BPS) sebelumnya mencatat industri pengolahan tumbuh 5,04 persen secara tahunan pada triwulan I 2026.
Pada periode yang sama, subsektor industri mesin dan perlengkapan tumbuh 21,93 persen, sedangkan industri komputer, barang elektronik, dan optik tumbuh 10,35 persen.
Data tersebut menunjukkan ruang penguatan industri turunan masih terbuka apabila hilirisasi diarahkan untuk memperdalam struktur manufaktur nasional.
Menurut Aviliani, momentum ketidakpastian global dapat dimanfaatkan untuk memperkuat struktur industri domestik agar Indonesia memperoleh manfaat lebih besar ketika tekanan eksternal mereda.
"Momentum ini sebenarnya adalah momentum membereskan domestik. Nanti ketika perang (global) itu sudah selesai, kita akan mendapatkan manfaat itu," ungkap dia.
Ia menilai hilirisasi yang naik kelas dapat menjadi salah satu jalan untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi, meningkatkan ekspor bernilai tambah, dan mengurangi ketergantungan pada komoditas mentah.
Sementara itu, pemerintah terus mendorong percepatan hilirisasi sebagai strategi meningkatkan nilai tambah sumber daya alam dan memperkuat struktur industri nasional.
Kementerian Investasi dan Hilirisasi sebelumnya menargetkan investasi lebih dari Rp3.800 triliun hingga 2030 untuk pengembangan industri hilir dari 15 komoditas prioritas, antara lain nikel, tembaga, bauksit, dan baja.
Pemerintah juga mendorong hilirisasi mineral kritis untuk mendukung transisi energi dan penguatan rantai pasok industri global.
Selain itu, pemerintah melalui Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) juga mulai mempercepat sejumlah proyek hilirisasi strategis pada 2026, termasuk pengembangan hilirisasi nikel, dimethyl ether (DME), kilang gasoline, hingga industri pengolahan sawit dan kelapa di berbagai daerah guna memperkuat ekosistem industri nasional dan menciptakan nilai tambah di dalam negeri.
Baca juga: Danantara percepat penataan MIND ID untuk hilirisasi nasional
Baca juga: RI tawarkan proyek hilirisasi timah hingga 'Giant Sea Wall' ke Jepang
Baca juga: Ada hilirisasi smelter, KESDM raup PNBP minerba Rp56 triliun
Pewarta: Aria Ananda
Editor: Kelik Dewanto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
2 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·