Jakarta (ANTARA) - Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai, pelemahan nilai tukar rupiah yang menembus level Rp17.500 per dolar AS pada Selasa, dipengaruhi kombinasi faktor global dan domestik.
Tekanan tersebut membuat investor cenderung lebih berhati-hati dalam menempatkan dana pada aset-aset berdenominasi rupiah.
Josua menjelaskan dari sisi global, kenaikan harga minyak dunia dan penguatan dolar AS akibat memanasnya konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran menjadi faktor utama yang menekan rupiah. Sebab, Indonesia termasuk negara yang memiliki ketergantungan impor energi cukup tinggi sehingga lebih rentan terhadap lonjakan harga minyak dan pergerakan modal asing.
“Dua faktor tersebut efeknya terhadap ekonomi kita relatif cenderung lebih besar dibandingkan mungkin dengan negara-negara lain. Sehingga dampaknya pun relatif lebih cepat terhadap nilai tukar rupiah kita,” ujar Josua dalam acara PIER Economic Review Kuartal I 2026 yang digelar secara virtual di Jakarta, Selasa.
Kenaikan harga minyak meningkatkan kekhawatiran pasar karena berpotensi menambah beban impor dan menekan stabilitas fiskal nasional. Pada saat yang sama, penguatan dolar AS mendorong arus modal asing keluar.
Sementara dari sisi domestik, tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi oleh penantian hasil MSCI Index Review periode Mei 2026 yang akan diumumkan pada Selasa waktu New York atau Rabu waktu Indonesia.
MSCI bakal mengumumkan hasil peninjauan berkala terhadap sejumlah indeks global, termasuk saham-saham Indonesia yang masuk maupun keluar dari indeks tersebut.
Pada peninjauan kali ini, MSCI menerapkan kriteria yang lebih ketat terkait High Shareholding Concentration (HSC) atau konsentrasi kepemilikan saham yang tinggi. Kebijakan tersebut dinilai berdampak pada sejumlah saham berkapitalisasi besar di Indonesia yang memiliki free float terbatas dan berpotensi mengalami penyesuaian bobot indeks.
Selain itu, Josua melanjutkan, penurunan prospek peringkat kredit Indonesia oleh Moody's Ratings dan Fitch Ratings pada awal tahun juga memengaruhi minat risiko (risk appetite) investor global terhadap pasar saham dan obligasi domestik.
“Kita bisa lihat bahwa rentetan risiko global ditambah lagi ada penilaian ataupun peringatan dari lembaga internasional terhadap Indonesia, sehingga ini memberikan dampak yang cukup masif terhadap risk appetite investor asing, khususnya terhadap aset-aset berdenominasi rupiah kita,” katanya.
Meski demikian, Josua menegaskan kondisi pelemahan rupiah saat ini tidak dapat disamakan dengan krisis moneter tahun 1997-1998. Fundamental ekonomi Indonesia saat ini jauh lebih kuat baik dari sisi cadangan devisa maupun posisi utang luar negeri pemerintah.
Josua juga memandang, rupiah secara riil masih berada dalam kondisi undervalued atau di bawah nilai wajarnya. Artinya, pelemahan nominal rupiah saat ini lebih banyak dipengaruhi sentimen jangka pendek dibandingkan persoalan fundamental ekonomi.
Maka dari itu, ke depan stabilitas rupiah akan sangat bergantung pada perkembangan konflik geopolitik global serta respons kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia. Ia memperkirakan ruang penurunan suku bunga acuan kini kian terbatas karena prioritas utama tetap menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Baca juga: Puan minta pemerintah atasi rupiah yang sentuh Rp17.503 per dolar AS
Baca juga: CIO Danantara: Pelemahan IHSG lebih dipengaruhi rupiah
Baca juga: BI: Cadev turun ke 146,2 miliar dolar AS di tengah stabilisasi rupiah
Pewarta: Bayu Saputra
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·