Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, memperingatkan potensi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) menyusul pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat pada Kamis (14/5/2026). Dilansir dari Kompas, kondisi ini diprediksi menekan daya beli masyarakat dan menghambat ekspansi dunia usaha secara signifikan.
Data Bank Indonesia pada 13 Mei 2026 menunjukkan kurs jual dolar AS telah menembus Rp17.601,57, sementara kurs beli berada di angka Rp17.426,43. Wijayanto menegaskan bahwa dampak paling nyata dari fluktuasi ini akan langsung menyasar sektor energi yang membebani masyarakat luas.
"Ada banyak hal yang akan dihadapi oleh masyarakat, tapi yang paling konkret yang pertama adalah harga BBM (bahan bakar minyak) naik," kata Wijayanto, Ekonom Universitas Paramadina.
Kenaikan harga ini diperkirakan akan sangat memberatkan konsumen BBM nonsubsidi dalam waktu dekat. Sementara itu, pemerintah diprediksi akan mengalami kesulitan dalam mempertahankan besaran subsidi karena keterbatasan kapasitas anggaran negara yang tersedia saat ini.
"Saya rasa daya tahan APBN kita itu terbatas, sehingga ada masa di mana subsidi itu juga akan direlaksasi," ujar Wijayanto.
Selain masalah energi, pelemahan mata uang ini berdampak pada sektor ketenagakerjaan akibat keengganan investor untuk melakukan ekspansi. Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) mencatat mayoritas pengusaha memilih untuk membekukan proses rekrutmen pegawai baru sepanjang tahun ini.
"Sehingga kalau kita dengar belum lama ini APINDO (Asosiasi Pengusaha Indonesia) mengatakan 70 persen pengusaha tidak akan melakukan rekrutmen tahun ini. Itu adalah dampak dari fluktuasi nilai tukar ini," ujar Wijayanto.
Kondisi fiskal dalam negeri menjadi faktor dominan yang memicu pelemahan rupiah, terutama terkait potensi melebarnya defisit APBN. Indonesia juga dihadapkan pada tantangan besar dalam melakukan pendanaan kembali atau refinancing utang yang mencapai angka Rp880 triliun.
"Jadi, tidak mudah menerbitkan surat utang," kata Wijayanto.
Masalah struktural pada neraca pembayaran turut memperburuk posisi rupiah di pasar global. Wijayanto menyoroti adanya tren defisit yang konsisten serta risiko keluarnya modal asing akibat perubahan bobot Indonesia dalam indeks pasar modal internasional.
"Balance of payment (neraca pembayaran), kita itu mengalami permasalahan struktural dan trennya itu akan mengarah kepada defisit," ucap Wijayanto.
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·