Ekonom: Tekanan biaya dan permintaan picu penurunan PMI manufaktur

Sedang Trending 59 menit yang lalu

Jakarta (ANTARA) - Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai penurunan Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia ke level 49,1 pada April 2026 dipicu tingginya biaya produksi yang menekan aktivitas industri.

PMI manufaktur merupakan indikator aktivitas sektor industri, di mana angka di atas 50 menunjukkan ekspansi atau pertumbuhan aktivitas industri, sedangkan di bawah 50 menandakan kontraksi atau perlambatan.

Saat dihubungi di Jakarta, Rabu, Yusuf menjelaskan dari sisi produksi, biaya input industri mengalami kenaikan cukup tajam dan berada pada level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.

Menurut dia, kenaikan tersebut dipicu gangguan rantai pasok global sejak meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah, termasuk konflik antara Iran dan Amerika Serikat-Israel.

“Dampaknya terasa ke harga bahan baku yang naik, pasokan yang tidak lancar, sampai pengiriman yang makin lama,” kata dia.

Di sisi lain, permintaan domestik juga dinilai mulai melemah sehingga memperparah tekanan terhadap sektor manufaktur.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat pelaku industri berada dalam posisi terjepit karena kenaikan biaya tidak sepenuhnya dapat diteruskan ke harga jual akibat lemahnya permintaan.

Akibatnya, banyak perusahaan memilih menahan produksi bahkan mengurangi output dalam beberapa bulan terakhir, yang kemudian tercermin dalam penurunan PMI manufaktur.

Yusuf mengatakan jika kondisi ini terus berlanjut, tekanan terhadap sektor manufaktur dapat meluas ke penurunan utilisasi pabrik, melemahnya kepercayaan pelaku usaha, hingga tertahannya investasi.

Menurut dia, pemerintah perlu segera merespons melalui kebijakan yang lebih terarah, terutama dengan memberikan insentif kepada sektor yang paling terdampak serta menjaga biaya produksi tetap kompetitif.

Selain itu, penguatan rantai pasok domestik dan diversifikasi sumber bahan baku juga dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor.

“Kalau tekanan ini tidak cepat ditangani dan kontraksi PMI berlanjut, dampaknya bisa cukup luas, termasuk ke penyerapan tenaga kerja dan pertumbuhan ekonomi,” ujar Yusuf.

Merespons kondisi tersebut, Kementerian Perindustrian menyatakan sedang melakukan langkah mitigasi dan penguatan sektor industri nasional, di antaranya mempercepat perumusan berbagai kebijakan strategis, termasuk penguatan substitusi impor, peningkatan penggunaan produk dalam negeri (P3DN), serta diversifikasi sumber bahan baku dan pasar ekspor.

Selain kebijakan perlindungan industri yang telah berjalan, Kemenperin juga menyiapkan usulan baru berupa insentif dan kebijakan perlindungan tambahan bagi industri.

Baca juga: Kemenperin tekankan pelemahan PMI karena gangguan pasokan global

Baca juga: Kemenkeu sebut ketahanan fundamental kuat seiring manufaktur ekspansif

Pewarta: Shofi Ayudiana
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.