El Nino Berpotensi Mengubah Pola Musim Monsun Global Tahun Ini

Sedang Trending 48 menit yang lalu

Fenomena cuaca El Nino yang muncul di Samudra Pasifik berpotensi mengubah pola curah hujan monsun di sebagian besar wilayah dunia mulai awal Juni 2026. Para ahli memperingatkan bahwa sistem cuaca kuat ini dapat memicu kekeringan, kebakaran, ekstremitas curah hujan, hingga ancaman ketahanan pangan global.

Siklus berkala dua hingga tujuh tahunan ini dikenal dapat mengubah aliran kelembaban atmosfer bumi secara drastis. Berdasarkan data historis, El Nino kerap dikaitkan dengan melemahnya monsun, musim kering berkepanjangan, dan kegagalan panen di berbagai belahan dunia.

Kendati total curah hujan cenderung menurun, para ilmuwan menggarisbawahi bahwa pola cuaca ini juga membawa ketidakpastian tinggi melalui kemunculan peristiwa hujan yang jauh lebih ekstrem. Dampak tersebut sangat dipengaruhi oleh kondisi meteorologi yang mendahuluinya.

"What happened in the winter and into the spring is actually just as important—if not more important—than the monsoon season itself," kata Jon Gottschalck, Chief of the Operational Prediction Branch di Climate Prediction Center National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA).

Menurut penjelasan Gottschalck, wilayah seperti Barat Daya Amerika yang mengalami musim dingin kering berpotensi menghadapi sirkulasi monsun yang kuat disertai hujan badai berbahaya akibat pemanasan tanah yang lebih cepat. Karakteristik ini kontras dengan wilayah tropis yang merasakan dampak El Nino secara lebih cepat.

"If you have rainfall that you can expect to continue over the whole season, all your options remain open," ujar Jon Gottschalck.

Perubahan tata kelola air dan pertanian menjadi sangat tidak menentu ketika musim monsun tidak berjalan normal. Ketidakpastian ini berisiko membuat tanaman pangan mengering di akhir musim atau justru hanyut tersapu banjir di awal masa tanam.

"It’s going to be a very rough period," tutur Jon Gottschalck.

Pihak NOAA memprediksi dampak negatif signifikan akan melanda banyak wilayah monsun tropis di seluruh dunia. Berdasarkan catatan sejarah tahun 1983, kombinasi El Nino dan monsun yang lemah pernah memicu kegagalan panen global terbesar dalam sejarah modern.

"Right now it looks like there will be considerable negative impacts in many of the tropical monsoon regions across the globe." ucap Jon Gottschalck.

Sementara itu, dinamika pembentukan El Nino terjadi akibat menghangatnya suhu permukaan laut di wilayah Pasifik ekuator tengah dan timur. Pemanasan ini menarik pusat massa hujan mendekati area samudra tersebut dan menjauh dari wilayah daratan sekitarnya.

"way too much rainfall could be devastating," kata Spencer A. Hill, Assistant Professor di City College of New York.

Menurut Hill, wilayah yang sedang dilanda kekeringan dengan kondisi tanah gembur sangat rentan mengalami tanah longsor dan banjir bandang ketika hujan ekstrem tiba-tiba turun dalam skala waktu singkat. Karakteristik pemanasan El Nino kali ini diprediksi mencakup seluruh cekungan samudra.

Pola pemanasan berskala luas tersebut diperkirakan bakal berdampak langsung pada sistem monsun di India, Indonesia, dan Afrika Barat. Departemen Meteorologi India bahkan telah mengeluarkan prakiraan awal mengenai potensi musim monsun yang berada di bawah normal tahun ini.