Elon Musk mengatakan, pada tahun 2027, kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) berpotensi besar bisa mengalahkan manusia, setidaknya dalam hal kecerdasan. Pernyataan itu disampaikan pada hari pertama persidangan terkait gugatan yang ia ajukan terhadap OpenAI dan CEO-nya, Sam Altman.
Pernyataan Musk muncul di tengah perdebatan global mengenai siapa yang seharusnya mengendalikan perkembangan AI yang semakin pesat, serta bagaimana teknologi tersebut harus diatur.
Kasus ini dinilai berpotensi mengubah masa depan OpenAI, memengaruhi hubungannya dengan Microsoft, dan menentukan bagaimana lembaga riset AI nirlaba dapat bertransformasi menjadi entitas komersial.
Dalam persidangan di Pengadilan Distrik AS di Oakland, Musk menuduh Altman, Greg Brockman —salah satu pendiri OpenAI—, dan Microsoft telah menyimpang dari misi awal OpenAI sebagai organisasi nirlaba. Ia menekankan bahwa perkembangan teknologi AI berlangsung jauh lebih cepat dari yang diperkirakan banyak orang.
Menurut Musk, tantangan utama bukan hanya kemampuan teknis, tetapi juga memastikan AI memiliki nilai-nilai seperti kejujuran dan integritas sebelum melampaui kecerdasan manusia. Ia mengibaratkan AI seperti anak yang tumbuh.
“Ketika anak itu sudah dewasa, Anda tidak bisa lagi mengendalikannya,” ujarnya, mengutip Newsweek.
Musk juga menyoroti pentingnya tahap menuju Artificial General Intelligence (AGI), yakni kondisi ketika AI memiliki kemampuan setara atau bahkan melampaui manusia dalam berbagai aspek.
Musk menjelaskan bahwa OpenAI awalnya didirikan untuk menjadi penyeimbang perusahaan teknologi besar yang berorientasi pada keuntungan. Tujuannya adalah mengembangkan AI untuk kepentingan umat manusia, dengan model keuntungan terbatas hanya sebagai sarana pendanaan riset.
Namun, ia menuduh Altman telah mengubah arah tersebut menjadi lebih komersial dan mempererat hubungan dengan Microsoft, hingga menjadikan OpenAI sebagai perusahaan yang pada praktiknya berorientasi profit.
Pengacara Musk, Steven Molo, mengatakan kliennya ingin mengembalikan OpenAI ke misi awalnya sebagai organisasi nirlaba yang fokus pada pengembangan AI yang aman dan terbuka.
Kasus ini memiliki dampak finansial dan reputasi yang besar bagi OpenAI. Selain tuntutan ganti rugi, perkara ini juga berpotensi memengaruhi rencana penawaran saham perdana (IPO) perusahaan.
Sejumlah pakar menyebut kemungkinan adanya perubahan struktur organisasi OpenAI jika Musk memenangkan gugatan, termasuk pergantian kepemimpinan atau perubahan model bisnis.
Musk dan Altman bersama sejumlah tokoh Silicon Valley mendirikan OpenAI pada 2015 sebagai organisasi nirlaba. Namun, perbedaan pandangan membuat Musk keluar dari perusahaan pada 2018 dan menghentikan pendanaan.
Setelah itu, OpenAI berkembang pesat dengan meluncurkan ChatGPT, mendapatkan pendanaan besar dari Microsoft, serta mengadopsi model bisnis hibrida antara nirlaba dan komersial.
Ketegangan antara keduanya semakin memanas pada 2023, dengan Musk kerap mengkritik arah perusahaan. Ia bahkan menyebut OpenAI telah berubah dari organisasi open-source menjadi perusahaan tertutup yang berorientasi keuntungan.
Pada 2024, Musk mengajukan gugatan terhadap OpenAI, Altman, dan Brockman, serta Microsoft sebagai pihak tergugat. Ia menuntut ganti rugi lebih dari 134 miliar dolar AS, yang disebut akan dialokasikan untuk organisasi nirlaba OpenAI, bukan untuk dirinya secara pribadi.
Musk juga meminta agar Altman dan Brockman dicopot dari posisi kepemimpinan, serta menginginkan OpenAI kembali ke struktur nirlaba.
Respons OpenAI
Microsoft membantah tuduhan tersebut, sementara OpenAI menyebut gugatan Musk tidak berdasar dan menuduhnya melakukan kampanye serangan terhadap perusahaan.
OpenAI juga menyatakan bahwa Musk sebelumnya mendukung perubahan menuju model berbasis keuntungan. Perusahaan bahkan menilai tindakan Musk didorong oleh kecemburuan dan penyesalan setelah keluar dari OpenAI.
Persidangan diperkirakan berlangsung selama sekitar tiga minggu. Jika OpenAI dinyatakan bersalah, pengadilan akan membahas langkah perbaikan mulai 18 Mei 2026. Baik Musk maupun Altman dijadwalkan memberikan kesaksian selama beberapa jam. Selain itu, Greg Brockman dan CEO Microsoft, Satya Nadella, juga masuk dalam daftar saksi.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·