Enam personel Pasukan Perdamaian PBB di Lebanon (UNIFIL) dilaporkan gugur akibat serangan di wilayah selatan Lebanon dalam satu bulan terakhir. Insiden mematikan ini terjadi di tengah meningkatnya eskalasi militer antara tentara Israel dan kelompok Hizbullah, sebagaimana dilansir dari Detikcom.
Jumlah korban jiwa tersebut mencakup empat prajurit TNI dari Indonesia dan dua anggota militer dari Prancis. Praka Rico Pramudia menjadi prajurit TNI terakhir yang dinyatakan meninggal dunia setelah sempat menjalani perawatan intensif akibat luka parah dari serangan proyektil.
Pihak UNIFIL secara resmi menyatakan bahwa tindakan penyerangan terhadap petugas penjaga perdamaian merupakan pelanggaran serius terhadap regulasi internasional. Hal ini ditegaskan melalui pernyataan resmi otoritas terkait melalui platform media sosial.
"Serangan yang disengaja terhadap penjaga perdamaian merupakan pelanggaran berat terhadap hukum humaniter internasional dan resolusi Dewan Keamanan 1701, dan dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang," demikian pernyataan UNIFIL di akun X @UNIFIL_, Jumat (24/4/2026).
Lembaga tersebut juga memberikan detail spesifik mengenai kronologi wafatnya salah satu anggota unit mereka asal Indonesia. Praka Rico diketahui bertugas di wilayah Adchit Al Qusayr saat serangan terjadi pada akhir Maret lalu.
"UNIFIL menyesalkan wafatnya Kopral Rico Pramudia hari ini, yang terluka parah akibat ledakan proyektil di pangkalan tempatnya bertugas di Adchit Al Qusayr pada malam 29 Maret," demikian pernyataan UNIFIL.
Berdasarkan data yang dihimpun, serangan terhadap pangkalan tersebut terjadi pada Minggu (29/3) malam. Satu hari kemudian, ledakan kembali terjadi dan menghantam konvoi logistik pasukan PBB di wilayah Bani Hayyan.
| Praka Farizal Rhomadhon | Gugur | - |
| Praka Rico Pramudia | Gugur | Meninggal setelah perawatan |
| Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar | Gugur | - |
| Sertu Muhammad Nur Ikhwan | Gugur | - |
| Praka Bayu Prakoso | Luka-luka | - |
| Praka Arif Kurniawan | Luka-luka | - |
| Dua Prajurit TNI | Luka-luka | Ledakan konvoi logistik (30/3) |
Selain korban dari Indonesia, Presiden Prancis Emmanuel Macron mengonfirmasi bahwa dua prajuritnya turut kehilangan nyawa. Prajurit pertama yang teridentifikasi tewas di lokasi kejadian adalah Florian Montorio.
"Seorang tentara Prancis kedua meninggal pada hari Rabu akibat luka-lukanya yang diderita dalam penyergapan akhir pekan terhadap pasukan penjaga perdamaian PBB di Lebanon yang dituduhkan kepada Hizbullah," kata Macron, dilansir Aljazeera dan AFP, Rabu (22/4).
Macron menjelaskan bahwa serangan yang melibatkan personel militer Prancis tersebut terjadi pada Sabtu (18/4). Salah satu prajurit sempat bertahan beberapa hari sebelum akhirnya mengembuskan napas terakhir.
"Seorang penjaga perdamaian Prancis, yang terluka di Lebanon selatan pada hari Sabtu, telah meninggal dunia," kata Macron.
Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, merespons kabar duka ini dengan mendesak penghentian segera segala bentuk permusuhan di wilayah tersebut. Guterres secara spesifik menyoroti insiden yang melibatkan artileri tank Israel.
"Saya sedih mengetahui bahwa seorang lagi penjaga perdamaian Indonesia UNIFIL telah meninggal dunia akibat luka-lukanya setelah sebuah insiden pada bulan Maret, ketika sebuah peluru artileri yang ditembakkan dari tank Pasukan Pertahanan Israel mengenai posisi @UNIFIL di Lebanon selatan, menurut temuan awal UNIFIL," kata Guterres dalam pernyataannya di media sosial X, Sabtu (25/4).
Guterres menyatakan keprihatinan mendalam atas risiko yang dihadapi oleh personel di lapangan. Ia mencatat bahwa jumlah korban luka serius terus bertambah seiring belum redanya kontak senjata antara kedua belah pihak.
"Enam penjaga perdamaian yang bertugas dengan UNIFIL kini telah tewas dan beberapa lagi mengalami luka serius setelah insiden-insiden baru-baru ini di tengah permusuhan antara Hizbullah dan Pasukan Pertahanan Israel," ujarnya.
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·