Erinindita Prias Madafa masih ingat betul momen ketika dirinya berhenti sejenak dari dunia basket yang digemarinya. Saat itu, pebasket putri Soegijapranata Catholic University (SCU) tersebut sedang membela kampusnya di ajang Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (POMNAS) Kalimantan Selatan pada Desember 2023.
Di tengah pertandingan, lutut kiri Erin mengalami cedera. Awalnya, ia mengira itu hanya cedera biasa yang akan pulih dalam beberapa hari. Tapi setelah dibawa ke rumah sakit, dokter menyatakan bahwa Erin mengalami cedera anterior cruciate ligament (ACL)—salah satu mimpi buruk bagi seorang atlet.
Kekalutan langsung menyelimuti perasaan Erin. Kala itu usianya baru 18 tahun, sedang semangat-semangatnya mengejar banyak mimpi di olahraga yang ia tekuni sejak kelas 9 Sekolah Menengah Pertama (SMP) tersebut.
Tak cuma tak bisa bermain, Erin juga merasa ketakutan yang selama ini tak pernah ia bayangkan: mengapa olahraga yang selama ini kucintai berbalik menyakitiku?
“Sebenarnya sempat trauma. Tapi lebih traumanya tuh waktu itu habis balik ke lapangan, teman-teman tuh kayak jadi takut nge-press aku. Itu jadi bikin aku makin stres,” kata Erin kepada Campus Sport indonesia usai bertanding di Regional Playoffs Campus League Basket Regional Yogyakarta Season 1 di GOR Ki Bagoes Hadikoesoemo, UII, Sleman, Rabu (6/5).
“Terus aku bilang, ‘Aduh, nggak apa-apa. Biar aku makin belajar gitu, lho’. Aku juga sebelum balik ke lapangan tuh aku udah panasin lutut aku biar lebih kuat,” lanjutnya.
Beruntung, proses pemulihannya berjalan lebih cepat dari perkiraan. Dalam waktu lima bulan, Erin sudah mulai kembali menyentuh bola basket.
Meski cedera ACL sudah pulih, rasa takut itu belum benar-benar hilang. Pikirannya terus memikirkan bagaimana caranya bisa bermain dengan lepas seperti sebelum terkena ACL.
Beruntung, rasa takut itu perlahan-lahan sirna. Setelah menjalani pemulihan selama lima bulan, Erin bersama klubnya, Sahabat Semarang, memulai semuanya dari nol. Ia ikut latihan bersama kelompok usia yang lebih muda untuk membiasakan kembali gerakan-gerakan dasar seperti dribble, melompat, hingga mengontrol tubuhnya sendiri.
“Kalau habis ACL, kita kalau udah bisa basket, kita ikutnya ke KU (kelompok usia) yang 10 tahun, 12 tahun. Nanti kalau sudah belajar dribble, belajar loncat gitu-gitu nanti baru ikut yang KU aku,” ucap Erin.
Setelah benar-benar pulih, baik secara fisik dan mental, Erin pun kembali aktif bersama KU-nya di Sahabat Semarang, juga tim kampusnya, SCU. Berkat latihan intensifnya, dalam kurun waktu 1,5 tahun pasca-cedera, ia sukses menembus skuad Timnas Basket Wanita Indonesia di ajang SEA Games 2025 Thailand.
Rasa bangga tentu saja dirasakan pemain asal Grobogan, 19 November 2005 tersebut. Namun, belum banyak yang tahu jika masuknya Erin ke dalam skuad Merah-Putih membuatnya dihadapkan oleh tantangan lain yang tak kalah beratnya dengan saat ia mengalami cedera ACL.
Tekanan di Timnas Senior
Kepada Campus Sport Indonesia, Erin mengaku sangat tertekan ketika baru kali pertama bergabung dengan skuad timnas senior. Ia datang sebagai pemain yang paling muda di antara nama-nama senior yang punya jam terbang tinggi. Situasi itu membuatnya kerap merasa sungkan dan takut melakukan kesalahan.
Tekanan itu terasa semakin berat karena Erin bermain sebagai point guard, posisi yang menuntut pemain untuk mengatur ritme permainan dan mengontrol tim di lapangan. Bagi Erin yang masih sangat muda, tanggung jawab itu sempat membuat pikirannya kacau.
“Jujur kayak mentalnya benar-benar apa ya, wow banget kayak setiap sampai tidur tuh agak gimana gitu, ya. Padahal tuh sebenarnya itu dari diriku sendiri, udah mikirin next-nya takut gimana gimana padahal nggak perlu dipikirin,” kata Erin.
Bahkan, rasa takut melakukan kesalahan itu sempat membuat Erin lebih memikirkan perasaan-perasaan seniornya dibanding permainan tim sendiri.
“Kadang tuh ngerasa sungkan passing-nya nggak enak gimana ya, ngaturnya nggak enak gimana ya, mikirnya,” ucap Erin.
Meski begitu, perlahan tapi pasti Erin bisa beradaptasi. Ia banyak belajar dari para senior yang disebutnya selalu memberi energi positif selama di timnas. Dari sana, Erin juga belajar cara menghadapi berbagai tekanan, membaca permainan, dan mengontrol emosi di lapangan.
Semua proses panjang itu akhirnya berbuah manis. Perasaan down dan underperform ketika ACL hingga bermain di bawah tekanan saat berlatih bersama skuad senior ternyata membawanya ke medali perunggu SEA Games 2025. Meski bukan hasil utama yang diharapkan, medali itu tetap punya arti besar buat Erin.
“Senang banget. Tetap bersyukur apa yang dikasih sama Tuhan,” ungkap Erin.
Setelah sukses berkalung perunggu di SEA Games, perjalanan Erin dan basket masih berlanjut. Bersama Soegijapranata Catholic University (SCU), Erin tampil di Campus League Basket Regional Yogyakarta Season 1 di GOR Ki Bagoes Hadikoesoemo, UII, Sleman.
Penampilan apiknya di kompetisi antarkampus se-Indonesia itu membawa SCU sukses menjuarai Campus League Basket Regional Yogyakarta. Mereka juga lolos ke The Nationals yang akan diselenggarakan di Jakarta pada 6-13 Juni mendatang. Di The Nationals, targetnya jelas: menjadi juara.
“Habis regional ini, kita mungkin bisa lebih fokus di The Nationals, kan mungkin timnya lebih pro lagi, maksudnya lebih kondusif lagi. Jadi, kita harus mempersiapkan setiap timnya, kita lawannya mana, kan mesti tiap tim kan beda tuh strateginya gimana,” ujar Erin.
Saat ditanya bagaimana pandangannya soal Campus League, Erin mengatakan bahwa kompetisi ini sangat bagus untuk menjadi panggung bagi para student-athlete di Indonesia.
“Bagus buat kita cewek-cewek yang nggak punya liga. Apalagi kita udah di level kampus. Nah, itu bagus buat kita maintain performance kita, terus bisa kayak timnas ini dipanggil lewat Campus League ini, dilihat performanya gimana,” jelas Erin.
Setelah Campus League, Erin masih punya satu agenda lagi yang tak kalah pentingnya. Ia akan menjalani training camp (TC) bersama Timnas Basket Wanita Indonesia sebagai persiapan menuju Asian Games 2026 di Nagoya, Jepang.
Nama Erin masuk sebagai salah satu dari tujuh pebasket putri di Campus League Basket Season 1 yang berkesempatan ikut TC bersama timnas senior.
“Jujur senang banget. Pengalaman baru lagi sama senior-seniornya di sana. Orang tua dan temen-temen aku di tim juga bangga sama aku,” pungkasnya.
Sukses selalu, Erin!
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·