Jakarta (ANTARA) - Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon menilai Taman Mini Indonesia Indah (TMII) perlu diperkenalkan kembali kepada generasi muda melalui pendekatan yang lebih relevan dengan perkembangan zaman.
"Perlu ada re-introduce, mungkin melalui pop culture agar tetap relevan dengan generasi muda sekarang," kata Fadli dalam acara Pradana Nitya Budaya TMII Awards 2026 di TMII, Jakarta Timur, Jumat.
Upaya ini dinilai penting agar TMII tidak hanya menjadi destinasi nostalgia, tetapi juga ruang kreatif yang hidup dan diminati generasi baru.
Menurut Fadli, generasi sebelumnya memiliki kedekatan emosional dengan TMII karena pernah menjadikannya sebagai destinasi edukasi dan rekreasi utama.
Namun, kondisi tersebut berbeda dengan generasi muda saat ini yang cenderung membutuhkan pendekatan baru dalam mengenal dan mencintai budaya.
Fadli menjelaskan, penguatan konsep TMII dapat dilakukan melalui berbagai strategi, seperti menghadirkan kegiatan berbasis budaya modern, kolaborasi lintas seni, hingga pemanfaatan teknologi digital.
Dengan pendekatan tersebut, TMII diharapkan mampu menjangkau generasi muda yang lebih akrab dengan tren kekinian.
Fadli juga menekankan bahwa TMII memiliki posisi strategis sebagai etalase keberagaman budaya Indonesia.
Menurutnya, kawasan ini merepresentasikan kekayaan budaya nusantara dalam bentuk miniatur yang mencakup rumah adat, anjungan daerah, museum, hingga berbagai aktivitas budaya.
"Kalau turis atau masyarakat dari daerah lain ingin melihat Indonesia dalam waktu singkat, bisa datang ke sini. Keberagaman atau mega diversity kita ada di sini dalam bentuk miniatur," jelas Fadli.
Baca juga: Kemenbud dorong revitalisasi anjungan TMII sebagai etalase daerah
Dia menambahkan, anjungan daerah di TMII merupakan representasi pilihan yang telah melalui proses seleksi ketat.
Oleh karena itu, keberadaan anjungan menjadi sangat penting sebagai wajah budaya masing-masing daerah di tingkat nasional maupun internasional.
Dalam kesempatan itu, Fadli juga menyoroti pentingnya promosi yang lebih aktif, tidak hanya oleh pengelola TMII, tetapi juga oleh pemerintah daerah. Ia mendorong agar setiap daerah menjadikan anjungannya sebagai sarana promosi budaya yang efektif.
"Kalau orang belum sempat datang ke daerahnya, lihat saja di Taman Mini. Ini miniaturnya sudah ada di sini," katanya.
Fadli pun mengapresiasi sejumlah daerah yang dinilai berhasil mengelola anjungan dengan baik. Anjungan terbaik tahun ini diraih oleh Kalimantan Selatan, disusul Bali di posisi kedua dan Jawa Tengah di posisi ketiga.
Selain itu, terdapat 13 nominasi lain yang dinilai memiliki perhatian besar terhadap pengelolaan anjungan.
Fadli menilai, perhatian pemerintah daerah terhadap anjungan di TMII menjadi sangat penting. Pasalnya, kawasan tersebut dikunjungi masyarakat dari berbagai daerah, bahkan wisatawan mancanegara, sehingga berpotensi besar menjadi media promosi budaya yang efektif.
"Rugi kalau tidak diurus dengan baik, karena ini dilihat oleh seluruh Indonesia. Orang yang ingin tahu suatu daerah pasti akan datang ke anjungan itu," ucap Fadli.
Ke depan, Fadli berharap setiap anjungan dapat lebih aktif dengan menghadirkan beragam kegiatan budaya yang terjadwal secara rutin melalui agenda tahunan kegiatan (calendar of events).
Dengan begitu, TMII tidak hanya menjadi tempat melihat miniatur budaya, tetapi juga ruang interaktif yang menampilkan dinamika kebudayaan daerah secara langsung.
Langkah rebranding dan penguatan aktivitas budaya di TMII ini dinilai menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan pelestarian budaya nasional di tengah arus globalisasi yang semakin kuat.
Baca juga: Menbud: TMII Awards dorong inovasi daerah lestarikan budaya
Baca juga: TMII sediakan potongan harga tiket 51 persen di HUT Ke-51
Pewarta: Siti Nurhaliza
Editor: Ade irma Junida
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·