SEJUMLAH video pendakwah Miftah Maulana Habiburrahman alias Gus Miftah viral di media sosial. Ia mengklaim dua kapal Pertamina di Selat Hormuz lolos berkat diplomasi Presiden Prabowo Subianto.
Unggahan tersebut beredar di Facebook [arsip] dan TikTok pada pekan kedua April 2026. Miftah menyebut diplomasi itu menjaga pasokan dan harga BBM nasional. Kanal YouTube Sragi Media Live Streaming merekam ceramah Miftah di Desa Krasakageng, Pekalongan, pada 7 April 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
“Di saat semua kapal yang melintas dicegat oleh Iran, dua kapal Pertamina yang membawa minyak, atas diplomasi Pak Prabowo, kapal Indonesia boleh melewati Selat Hormuz,” kata Mitah.
Tempo memverifikasi klaim tersebut menggunakan pencarian gambar terbalik, aplikasi pemantau kapal, dan wawancara peneliti Timur Tengah.
Dua Kapal Pertamina Pembawa Minyak Masih Tertahan di Teluk Arab
Dua kapal kargo minyak milik Pertamina masih tertahan di Teluk Arab buntut serangan Amerika Serikat dan Israel ke Iran pada 28 Februari 2026. Dari empat unit yang beroperasi di wilayah tersebut, hanya Paragon dan Rinjani yang berhasil melintas sebelum ketegangan memuncak.
Direktur Utama Pertamina Simon Aloysius Mantiri menjelaskan bahwa kedua kapal yang lolos itu tidak sedang mengangkut minyak mentah untuk kebutuhan dalam negeri. Sedangkan dua kapal lainnya, Pertamina Pride dan Gamsunoro masih tertahan di Teluk Arab hingga 19 April 2026, menurut Pejabat sementara Corporate Secretary PT Pertamina International Shipping (PIS) Vega Pita kepada Antara.
Pantauan Tempo melalui aplikasi Marine Traffic menunjukkan Pertamina Pride kini mengapung di Teluk Persia. Kapal ini sebelumnya berangkat dari Pelabuhan Ras Tanura, Arab Saudi, pada 14 Maret lalu.
Tangkapan layar posisi Pertamina Pride di Teluk Persia. Sumber: Marine Traffic, 21 April 2026
Sementara itu, Gamsunoro yang bertolak dari Pelabuhan Khur Al Zubair, Irak, terpaksa merapat ke Pelabuhan Dubai sejak 9 April karena gagal menembus Selat Hormuz.
Tangkapan layar posisi kapal Gamsunoro di Teluk Persia. Sumber: Marine Traffic, 21 April 2026
Indonesia Belum Termasuk Negara yang Mencapai Kesepakatan dengan Iran
Dosen Hubungan Internasional FISIP Universitas Brawijaya (UB) Abdullah menegaskan bahwa kelolosan kapal Paragon dan Rinjani bukan buah manis diplomasi pemerintah. Menurut dia, kedua kapal tersebut melintas saat Iran belum sepenuhnya memblokir Selat Hormuz. Sebaliknya, tertahannya Pertamina Pride dan Gamsunoro justru mengindikasikan adanya kebuntuan komunikasi antara Jakarta dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Merujuk laporan BBC, sejumlah negara Asia seperti Cina, India, Pakistan, dan Filipina telah mengantongi kesepakatan khusus dengan Teheran untuk melintasi jalur krusial tersebut. Abdullah menilai kapal-kapal yang berhasil melintas berarti telah memenuhi protokol IRGC. “Dua kapal Indonesia belum memenuhi protokol yang diminta oleh IRGC,” kata dia.
Dosen Hubungan Internasional Universitas Airlangga, Agastya Wardhana, memetakan dua faktor utama yang menentukan izin melintas: kedekatan geopolitik (seperti Rusia dan Cina) atau kekuatan diplomasi (seperti Thailand dan Malaysia). Ia menyoroti kemungkinan adanya kegagalan diplomasi yang tidak terpublikasi di balik mandeknya armada Pertamina, mengingat proses negosiasi di zona konflik sangat bergantung pada banyak variabel yang tidak selalu berujung keberhasilan.
“Bisa jadi ada negara yang gagal diplomasinya, tapi tidak terpublikasikan,” kata Agastya melalui aplikasi pesan, Senin, 20 April 2026.
Dampak Penutupan Selat Hormuz Bagi Indonesia
Selat Hormuz melayani 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair dunia. Penutupan jalur strategis ini oleh Iran memicu kemerosotan produksi, hambatan ekspor, dan lonjakan harga minyak mentah dunia. Harga minyak Brent, misalnya, melonjak lebih dari 55 persen sejak perang di Iran berkecamuk.
Guncangan pasokan global berimbas ke Indonesia. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan Indonesia mengimpor 15,99 juta ton minyak mentah pada 2025, mayoritas dari Nigeria, Angola, Arab Saudi, dan Brasil. Dua kapal Indonesia yang tertahan di Teluk Persia sedianya memenuhi kebutuhan impor untuk 2-3 hari.
Pakar migas Aspermigas Moshe Rizal menyatakan penutupan Selat Hormuz mengerek biaya logistik dan harga komoditas. Beban APBN ikut membengkak untuk subsidi BBM karena harga pasar melampaui asumsi makro sebesar US$ 70 per barel.
Lonjakan harga minyak juga memukul nilai tukar rupiah lantaran transaksi menggunakan dolar Amerika Serikat. Sejak akhir Februari hingga 6 April 2026, rupiah melemah 1,91 persen ke level spot 17.042 per dolar AS.
Pemerintah berjanji tidak menaikkan harga BBM hingga akhir 2026. Namun, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan kebijakan ini bukan karena dua kapal Pertamina yang diklaim lolos, melainkan kemampuan APBN menahan gejolak harga melalui ruang fiskal yang tersedia.
Meski demikian, Ketua Komisi VII DPR RI Lamhot Sinaga mengingatkan perlunya langkah adaptif untuk menjaga stabilitas anggaran.
"Ketika harga minyak dunia melonjak hingga 140 dolar AS per barel, sementara asumsi dalam APBN hanya 70 dolar AS maka tekanan terhadap fiskal menjadi sangat besar," kata Lamhot kepada Antara, Sabtu, 4 April 2026.
Ahmad Suudi berkontribusi dalam artikel ini.
** Punya informasi atau klaim yang ingin Anda cek faktanya? Hubungi ChatBot kami. Anda juga bisa melayangkan kritik, keberatan, atau masukan untuk artikel Cek Fakta ini melalui email [email protected]
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·