Pelatih Corinthians, Fernando Diniz, melontarkan protes keras terhadap kepemimpinan wasit Matheus Delgado Candancan dalam pertandingan pekan ke-14 Liga Brasil melawan Mirassol pada Minggu, 3 Mei 2026. Ketegangan meningkat setelah serangkaian keputusan kontroversial di babak pertama yang merugikan tim tamu.
Kekesalan Diniz memuncak ketika upayanya untuk berkomunikasi dengan wasit tidak diabaikan di pinggir lapangan. Sang pelatih kedapatan menyebut sang pengadil lapangan dengan sebutan yang menyinggung karena merasa tidak didengarkan saat laga berlangsung.
"O mascarado do c******. Ta com a cabeça desse tamanho. To te chamando e você não escuta" ujar Fernando Diniz, Pelatih Corinthians.
Insiden tersebut bermula dari dua momen kunci yang memicu perdebatan, yakni pembatalan kartu merah untuk pemain Mirassol dan penalti bagi tim tuan rumah. Wasit awalnya mengusir Edson Carioca setelah melanggar Matheus Pereira, namun keputusan itu dicabut setelah tinjauan VAR.
Keputusan VAR yang dipimpin oleh Marcio Henrique de Gois tersebut mendapat dukungan dari pengamat teknis. Analis wasit dari Record TV memberikan pembelaan terhadap langkah yang diambil oleh wasit di lapangan.
"Tem carrinho, excesso de força, passou do tom, mas ele desliza, não atinge com a sola da chuteira. Não é para vermelho" kata Salvio Spinola, Konsultan Wasit Record.
Kontroversi kedua terjadi saat wasit menunjuk titik putih untuk Mirassol akibat pelanggaran Matheus Bidu terhadap Carlos Eduardo. Meskipun para pemain Corinthians melakukan protes keras, keputusan penalti tetap dijalankan dan dikonversi menjadi gol pertama bagi tuan rumah.
Mirassol mengakhiri babak pertama dengan keunggulan 2-0 setelah Edson Carioca mencetak gol tambahan melalui sundulan kepala. Corinthians kesulitan membangun serangan efektif sepanjang paruh pertama pertandingan tersebut di bawah bayang-bayang ketegangan antara staf pelatih dan wasit.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·