Film Ghost in the Cell Joko Anwar Tembus Pasar Global

Sedang Trending 1 minggu yang lalu

Film terbaru karya sutradara Joko Anwar, "Ghost in the Cell" atau "Hantu Dalam Penjara", berhasil mencuri perhatian di kancah internasional. Sebelum penayangan resminya di bioskop Indonesia pada 16 April 2026, film ini telah memenangkan hati penonton global dan hak penayangannya dibeli oleh 86 negara.

Capaian signifikan ini diperoleh setelah "Ghost in the Cell" melangsungkan pemutaran perdana dunia (world premiere) di Berlinale Berlin International Film Festival 2026. Festival yang berlangsung pada 12 hingga 22 Februari 2026 itu menempatkan film ini dalam program bergengsi Forum.

Antusiasme penonton di Berlinale sangat tinggi, terlihat dari empat kali pemutaran film yang seluruh tiketnya habis terjual. Respons penonton disebut meriah, dengan tawa, teriakan, dan tepuk tangan mengikuti alur cerita yang unik, memadukan horor, komedi, serta satire sosial.

Pada sesi tanya jawab setelah pemutaran, penonton menyebut "Ghost in the Cell" sebagai mahakarya yang luar biasa lucu, menakutkan, dan sarat dengan kritik politik serta sosial. Keterlibatan film ini dalam program Forum Berlinale menunjukkan bahwa "Ghost in the Cell" dianggap lebih dari sekadar hiburan; melainkan sebuah pernyataan artistik yang mampu berbicara ke seluruh dunia.

Distributor seperti Well Go USA di Amerika Utara, yang sebelumnya merilis "Gundala" karya Joko Anwar, telah mengambil alih distribusi. Demikian pula Plaion Pictures telah mengamankan hak edar untuk wilayah berbahasa Jerman, seperti dilaporkan rctiplus.com.

Film ini adalah hasil kolaborasi antara Come and See Pictures, RAPI Films, Legacy Pictures, dan Barunson E&A dari Korea Selatan. Barunson E&A dikenal sebagai studio di balik film peraih Oscar "Parasite" karya Bong Joon Ho, menegaskan kualitas produksi proyek ini.

"Ghost in the Cell" berlatar di Lapas Labuhan Angsana, menceritakan para tahanan yang menghadapi penindasan dan konflik. Suasana berubah mencekam ketika seorang tahanan baru tiba, disusul serangkaian kematian misterius. Sosok gaib memburu mereka yang memiliki energi paling negatif, memaksa para napi berlomba-lomba untuk 'menjadi baik' demi bertahan hidup.

Joko Anwar menegaskan bahwa film ini lahir dari realitas sosial yang dekat. "Ini tentang kekuasaan dan sistem yang korup. Ketidakadilan itu bahasa universal," ujarnya dalam keterangan resminya pada Minggu (6/4/2026).

Pernyataan ini tercermin dari respons pasar global, yang menganggap kisah "Ghost in the Cell" bukan hanya cerita lokal tetapi potret masalah yang relevan di banyak negara. Produser Tia Hasibuan menilai pencapaian ini sebagai bukti kualitas produksi film Indonesia.

Jaringan distribusi "Ghost in the Cell" mencakup Asia Tenggara, Amerika Utara, Eropa, Amerika Latin, hingga Afrika, menjadikannya salah satu film Indonesia dengan jangkauan internasional terluas dalam beberapa tahun terakhir.

Film ini juga diperkuat oleh jajaran aktor lintas generasi seperti Abimana Aryasatya, Bront Palarae, Lukman Sardi, dan Tora Sudiro, serta memperkenalkan Magistus Miftah. Kesuksesan "Ghost in the Cell" merupakan kelanjutan perjalanan panjang Joko Anwar yang terus menempatkan sinema Indonesia di peta dunia, setelah ia menerima tanda kehormatan Chevalier de l'Ordre des Arts et des Lettres dari Pemerintah Prancis pada akhir 2025 atas kontribusinya di bidang perfilman dan kebudayaan, dikutip dari banyumas.suaramerdeka.com.