Freeport Indonesia Pertimbangkan Perak Jadi Instrumen Safe Haven

Sedang Trending 2 jam yang lalu

PT Freeport Indonesia (PTFI) tengah mengkaji potensi logam perak untuk dijadikan sebagai instrumen safe haven baru di tanah air. Langkah ini diambil seiring dengan tren positif harga komoditas tersebut yang ikut terdorong oleh lonjakan harga emas global.

Dilansir dari Bloombergtechnoz, Senior VP Government Relations PTFI Harry Pancasakti menilai bahwa kenaikan harga emas saat ini menciptakan prospek cerah bagi perak. Hal ini memberikan peluang bagi perusahaan untuk meraih keuntungan lebih dari produksi tahunan mereka.

Saat ini, kapasitas produksi perak PTFI mencapai angka 200 ton per tahun. Seluruh hasil produksi tersebut dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik maupun permintaan ekspor ke mancanegara.

"Ke depan, kami juga berharap perak akan ikut berkembang, karena dengan melonjaknya harga emas belakangan ini, harga perak juga ikut naik dan ini menjadi momentum yang sangat baik bagi kita untuk mulai mempertimbangkan perak sebagai instrumen safe haven di Indonesia," kata Harry dalam MetConnex 2026, Selasa (12/5/2026).

Selain perak, Harry memaparkan bahwa Freeport saat ini mampu memproduksi emas sekitar 50 ton per tahun. Dari total volume tersebut, sebanyak 30 ton dipasok secara rutin kepada PT Aneka Tambang (Persero) Tbk atau Antam.

Pihak perseroan juga menyatakan kesiapannya untuk meningkatkan volume pasokan emas kepada Antam apabila terjadi peningkatan permintaan di masa mendatang.

"Kami dapat memasok Antam setidaknya 30 ton per tahun, dan kami juga bisa memasok lebih banyak jika diperlukan," ungkap dia.

Produksi PTFI tidak hanya terbatas pada emas dan perak. Perusahaan juga menghasilkan komoditas berharga lainnya meski dalam volume kecil, seperti platinum sebesar 0,03 ton, palladium 0,375 ton, dan selenium 285 ton per tahun.

Terdapat pula produksi bismuth sebanyak 220 ton serta timbal (lead) mencapai 2.200 ton setiap tahunnya dari operasional tambang mereka.

"Kami juga memproduksi komoditas yang menarik seperti platinum, palladium, dan selenium, meskipun volumenya sangat kecil. Walaupun volumenya kecil, harga komoditas tersebut cukup mahal dan tinggi," tegas dia.

Di sektor pengolahan, smelter Freeport memiliki kemampuan untuk memproduksi katoda tembaga hingga 800.000 ton per tahun. Sementara itu, lumpur anoda atau anode slime dihasilkan dengan kapasitas mencapai 6.000 ton per tahun.

Harry menjelaskan bahwa proses pemurnian di PTFI tidak menyisakan limbah karena menghasilkan berbagai produk sampingan yang bermanfaat. Asam sulfat sebanyak 2,5 juta ton per tahun dialokasikan untuk mendukung produksi pupuk nasional.

"Untuk produk sampingan, tidak ada limbah dalam proses pemurnian PTFI. Asam sulfat digunakan untuk mendukung ketahanan pangan dengan memasok asam sulfat ke perusahaan pupuk untuk memproduksi pupuk. Kemudian iron silicate juga mendukung industri semen di Indonesia, begitu pula gypsum," tutur dia.

Sejarah hilirisasi Freeport dimulai dari PT Smelting di Gresik yang dibangun pada 1996. Fasilitas ini merupakan smelter tembaga pertama di Indonesia yang mampu mengolah 1.000.000 ton konsentrat tembaga menjadi 300.000 ton katoda tembaga.

Ekspansi berlanjut dengan pembangunan smelter kedua di Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE), Manyar, Gresik. Fasilitas yang diresmikan pada 27 Juni 2024 ini merupakan smelter single line terbesar di dunia dengan kapasitas input 1,7 juta ton konsentrat.

Kondisi pasar saat ini menunjukkan harga emas di pasar spot menguat 0,83% ke level US$4.725 per troy ons. Sementara itu, perak mencatatkan kenaikan lebih signifikan sebesar 2,69% di posisi US$87,89 per troy ons.