Kelompok negara berkembang yang tergabung dalam Group of 24 (G-24) mendesak Dana Moneter Internasional (IMF) untuk memodifikasi kebijakan pinjaman guna memitigasi risiko ekonomi global yang melonjak pada Selasa (14/4/2026). Permintaan tersebut disampaikan dalam Pertemuan Musim Semi IMF di Washington sebagai respons atas dampak ekonomi dari perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel.
G-24 menekankan perlunya IMF untuk tetap proaktif dan fleksibel dalam menghadapi guncangan ekonomi yang dialami negara-negara di Afrika, Asia, dan Amerika Latin. Dilansir dari Bloombergtechnoz, kelompok ini menilai instrumen konvensional untuk menstabilkan ekonomi tidak lagi memadai dalam kondisi saat ini.
"Pendekatan tradisional seperti menekan permintaan domestik atau membiarkan depresiasi mata uang mungkin tidak cukup untuk menyerap guncangan," ujar Wale Edun, Menteri Keuangan Nigeria, saat membacakan komunike kelompok tersebut. Ia menambahkan bahwa dukungan multilateral dan peningkatan bantuan pembangunan sangat krusial bagi negara-negara rentan.
Konflik tersebut telah memicu lonjakan inflasi yang signifikan di berbagai negara anggota G-24, terutama bagi mereka yang mengandalkan impor energi. Data pada Maret 2026 menunjukkan inflasi tahunan Mesir mencapai 15,2 persen, sementara India mencatat kenaikan indeks harga konsumen sebesar 3,4 persen.
Brasil sebagai kekuatan ekonomi utama di Amerika Latin juga melaporkan kenaikan inflasi menjadi 4,14 persen pada periode yang sama. Kondisi ini memperburuk beban pembayaran utang serta biaya pinjaman yang tinggi, sehingga menghambat proses transformasi ekonomi di negara berkembang.
Negara-negara anggota kini sedang mendiskusikan penambahan likuiditas dan instrumen manajemen risiko untuk menekan biaya pembiayaan. Edun menyoroti tantangan besar bagi negara berkembang karena bantuan pembangunan dari negara-negara kaya justru cenderung berkurang di tengah situasi krisis global ini.
4 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·