Gangguan Selat Hormuz Ancam Pasokan Pangan Global

Sedang Trending 4 hari yang lalu

Gangguan di Selat Hormuz pada awal 2026, menurut laporan, memperburuk risiko terhadap sistem pangan dunia. Jalur pelayaran yang vital bagi perdagangan minyak, gas, dan pupuk terganggu, memicu dampak yang dirasakan langsung oleh konsumen melalui kenaikan harga bahan pangan.

Ketergantungan global pada Selat Hormuz sangat tinggi, terutama untuk pupuk. Sekitar sepertiga perdagangan pupuk dunia melewati selat ini, termasuk urea dan amonia yang merupakan komponen penting nutrisi tanaman. Gangguan ini menyebabkan kontraksi sekitar 33 persen dalam rantai pasok pupuk global, dilansir dari Kpler dan CRU.

Penurunan drastis aktivitas pelayaran di Selat Hormuz menjadi pemicu utama terganggunya distribusi pupuk. Keterlambatan pasokan pupuk dapat berdampak langsung pada produktivitas pertanian. Lonjakan harga energi akibat konflik turut memperparah karena gas alam menjadi bahan baku pupuk.

Krisis pasokan yang terjadi menjelang musim tanam di belahan bumi utara memaksa petani mengambil keputusan sulit, beberapa di antaranya mengurangi penggunaan pupuk. Sejak awal konflik di Timur Tengah, harga pupuk dilaporkan melonjak akibat terganggunya jalur distribusi dan terbatasnya pasokan, seperti yang dilaporkan oleh Fortune.

Keterbatasan pupuk berimplikasi langsung terhadap produktivitas pertanian, dan tanpa input yang memadai, hasil panen cenderung menurun. Ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan ini menjadi salah satu faktor utama yang mendorong kenaikan harga pangan. Krisis ini juga memperlihatkan kerentanan sistem pangan global yang sangat terintegrasi.

Beberapa negara telah mengambil langkah untuk meredam dampak krisis, termasuk China yang mempercepat pelepasan cadangan pupuk nasional untuk menjaga stabilitas pasokan domestik, menurut Reuters. Selain itu, upaya diversifikasi jalur distribusi dan sumber pasokan juga mulai dilakukan.